Oleh: M. Arjuna Pase*
Oerban.com – Ada satu kegelisahan yang akhir-akhir ini sering menghampiri saya. Di berbagai ruang kampus yang pernah menjadi panggung gagasan, kini kita lebih sering melihat kursi kosong daripada perdebatan hangat seperti dulu. Pertanyaan itu terus muncul: ke mana hilangnya semangat mahasiswa yang dulu begitu lantang dan hidup?
Kemunduran ini bukan sekadar cerita pesimistis. Ia nyata. Terlihat dari bagaimana mahasiswa lebih sering menunduk pada layar gawai daripada mengangkat kepala untuk bersuara.
Banyak yang memilih diam bukan karena tidak punya pikiran, tetapi karena lelah menghadapi kultur kampus yang makin dingin. Saya sendiri sering merenung, apakah generasi ini benar-benar kehilangan arah, atau hanya tersesat dalam rutinitas yang semakin menekan?
Dalam pengamatan saya sebagai mahasiswa, idealisme itu sebenarnya tidak hilang. Ia hanya tertutup debu rutinitas yang memaksa kita bergerak cepat, lulus cepat, dan bekerja cepat.
Banyak yang berjuang dalam tekanan ekonomi, sebagian lagi terjebak dalam organisasi yang kehilangan ruh perjuangan karena konflik internal. Di tengah itu semua, mahasiswa termasuk saya, kadang kehilangan ruang untuk bernapas dan berpikir kritis.
Tetapi api itu tidak pernah padam. Ia hanya meredup, menunggu seseorang meniupnya kembali. Dan menurut saya, kebangkitan itu harus dimulai dari kesadaran kolektif. Kesadaran bahwa perubahan bukan eksklusif milik aktivis, tetapi tanggung jawab setiap mahasiswa yang masih ingin negeri ini memiliki masa depan.
Saya, M. Arjuna Pase, percaya bahwa membangun kembali semangat mahasiswa bukanlah pekerjaan instan. Tidak cukup dengan slogan, tidak cukup dengan seminar yang penuh kamera namun kosong isi.
Yang dibutuhkan adalah keberanian untuk menghidupkan kembali ruang-ruang dialog, ruang-ruang perdebatan, dan ruang-ruang belajar yang dulu menjadi kebanggaan mahasiswa Indonesia.
Kita harus berani mengatakan bahwa kampus bukan sekadar lorong menuju ijazah, tetapi sebuah medan untuk mempertajam karakter dan keberanian.
Jika generasi mahasiswa dulu mampu mengguncang sejarah dengan keterbatasan, mengapa kita yang hidup di zaman penuh kemudahan justru memilih diam?
Pada akhirnya, saya menulis opini ini bukan untuk menggurui, tetapi untuk mengingatkan diri sendiri dan teman-teman mahasiswa jangan biarkan semangat kita mati muda.
Kemunduran hari ini adalah cermin, bukan akhir. Jika kita berani melihat pantulan itu, maka kita akan menemukan alasan baru untuk bangkit.
Semoga dari renungan ini lahir langkah-langkah kecil yang perlahan berubah menjadi gelombang besar. Karena sejarah negeri ini tidak pernah ditulis oleh mereka yang memilih diam. Dan saya, M. Arjuna Pase, percaya bahwa mahasiswa hari ini masih punya tenaga untuk kembali berdiri.

