MENYINGKAP TABIR KELAM FEMINISME

by
Feminisme (Foto by Google.com).

Penulis   : Lia Kartina

Pembicaraan tentang perempuan memang selalu tranding. Kamis, 8 maret 2018  bertepatan dengan Internationals Women Days, perempuan di seluruh penjuru dunia melakukan demonstrasi untuk memperjuangkan tegaknya paham feminisme. Pada dasarnya gerakan feminisme merupakan suatu gerakan yang mengadopsi falsafah teori oposisi biner yang cenderung bersikap kontra terhadap golongan yang berkuasa, dalam hal ini adalah laki-laki. Para penganut paham feminisme menggugat adanya perbedaan secara hakikat antara perempuan dan laki-laki. Kaum feminis menuntut untuk memperoleh kesetaraan antara wanita dengan laki-laki. Kesetaraan ini tidak hanya dalam urusan sosial saja, bahkan merambah ke bidang ekonomi dan politik.

Paham feminisme adalah perkembangan dari paham sekularisme yaitu memisahkan agama dengan kehidupan. Feminisme pada dasarnya hanyalah tabir yang menutupi kebebasan nafsu terselubung. Feminisme menjadi alasan bahwa setiap perempuan dapat bersikap semaunya tanpa batasan termasuk merubah gender (Transgender).

Lalu pantaskah feminisme ini berkembang di Indonesia? Untuk menjawab ini, kita tentu perlu tahu bagaimana akar sejarah paham feminisme ini berkembang. Momentum gerakan feminisme adalah ketika terjadi revolusi industri di Perancis yang terjadi pada akhir abad ke 18. Dalam sebuah tulisan berjudul A Vindication of The Rights of Woman, Mary Wollstonecraft mengkritik gerakan revolusi Industri yang hanya berlaku untuk laki-laki dan tidak untuk perempuan. Menariknya, feminisme ini lahir dan dipelopori oleh kaum intelektual di barat yang lebih memilih mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri seperti Virginia Woolf yang juga merupakan mantan pesakit kejiwaan yang akhirnya menenggelamkan dirinya kesungai karena depresi.

1 abad kemudian, gerakan perempuan di Indonesia mulai muncul akibat propaganda sebuah buku yang berasal dari surat-menyurat Kartini kepada teman belandanya. Dalam buku yang dalam Bahasa Indonesia diberi judul “habis Gelap Terbitlah Terang” tersebut, Kartini menceritakan tentang perlakuan diskriminatif yang diterimanya oleh ayahnya yang lebih mengutamakan kakak laki-lakinya dari pada dirinya. Melalui lika-liku perlakuan diskriminatif yang diterima, kartini sampai kepada sebuah kesimpulan bahwa perempuan di Indonesia harus berjuang agar mendapatkan hak-hak yang setara dengan laki-laki. Semangat ini menjadi pemutus rantai belenggu bagi perempuan di Indonesia dan Kartini dianggap sebagai Pahlawan Emansipasi Wanita.

Tentu, feminisme merupakan paham yang lahir dari gerakan sakit hati yang bersifat emosional. Dalam islam, begitu banyak aturan yang menempatkan wanita pada posisi yang mulia. Salah satunya dengan aturan hijab dan seperangkat aturan lainnya yang bertujuan memberikan rasa aman dan kehormatan yang tinggi bagi wanita. Nilai kesetaraan dalam Islam bukan hanya terletak pada hal-hal materialistis tetapi lebih dari itu adalah derajat yang terhormat. Karena itu, muslimin seharusnya tidak tertipu dengan ideologi Barat yang menyuarakan paham sesat feminisme. Karena hakikatnya, Islam telah mengaplikasikan nilai-nilai kesetaraan itu dalam format yang amat sangat ideal dari sejak dahulu, bahwa sepanjang syariat Islam diterapkan tidak pernah terdapat kebijakan yang diskriminatif terhadap kaum wanita.

Bagaimana dengan Indonesia ?. Indonesia yang pada dasarnya menganut budaya ketimuran sudah pantasnya menyaring dan menolak mentah-mentah paham feminisme yang dapat menghilangkan keayuan dan kelembutan perempuan Indonesia.

Editor   : Asep Kurniawan