RESENSI NOVEL PEREMPUAN DI TITIK NOL

oleh -34 views
Sumber : mimbaruntan.com

RESENSI NOVEL PEREMPUAN DI TITIK NOL
OLEH : NOVITA SARI

Judul : Perempuan di titik nol
Penulis : Nawal El- Saadawi
Kategori : Fiksi Arab
Penerbit : Yayasan Pustaka Obor Indonesia
Penerjemah : Amir Sutaarga
ISBN : 978-979-461-867-7

Novel sebagai karya sastra memiliki kekhasan tersendiri. Ia menyajikan sebagian besar episode yang dialami oleh tokoh utama dalam kehidupannya. Novel juga mengandung ideologi yang diciptakan oleh pengarang dalam prosesnya memahami realitas untuk memberikan pemahaman pada pembacanya. Membaca kedalaman makna dari sebuah novel akan memberikan pengetahuan baru bagi kita tentang dunia yang dipahami oleh pengarang.

Buku novel Perempuan di Titik Nol diawali dengan proses penceritaan pengarang dalam meneliti para perempuan yang mengalami depresi dan tekanan di sebuah pejara. Dalam banyaknya perempuan yang ia temui, perhatiannya tertuju pada satu perempuan yang akan dihukum gantung pada 10 hari mendatang. Perempuan ini sangat berbeda dengan perempuan-perempuan yang ada disana, ia tidak mau menerima grasi dari presiden untuk menurunkan hukumannya. Ia tak mau berbicara dengan siapapun, tak tidur saat malam, dan tak mau makan. Namun akhirnya perempuan tersebut mau menceritakan tentang asal mula mengapa ia mendekam di penjara.

Fokus novel ini kemudian adalah penceritaan tentang kisah hidup perempuan bernama Firdaus yang memilih jalan hidupnya menjadi seorang pelacur. Saat kecil, Firdaus adalah seorang anak perempuan yang penurut dan pintar, hidup dalam keluarga miskin dengan seorang ayah yang lebih mementingkan dirinya sendiri daripada anaknya. Firdaus kecil selalu membantu ibunya menggilas gandum, mengambil air dan memberi makan ternak di kebun. Namun, sejak masa kecil ini pulalah ia mendapatka perlakuan tak senonoh dari teman dan pamannya.

Saat ayah dan ibunya telah meninggal, ia dibawa oleh pamannya ke Kairo dan disekolahkan pada asrama putri disana. Setelah selesai sekolah menengah pertama, ia kembali ke rumah pamannya dan mendapati bahwa pamannya telah menikah dan memiliki anak. Atas kekhawatiran istri pamannya, Firdaus dinikahkan dengan seorang pensiunan tua yang memiliki bisul di dagu yang penuh dengan nanah dan darah. Ia selalu diberlakukan dengan kasar, bahkan saat berada di meja makan, ia tak pernah lepas dari tatapan suaminya. Bila makannya bersisa, suaminya akan sangat marah bahkan hingga memukul.

Setelah merasa sangat tersiksa, ia memutuskan untuk pergi dari rumah suaminya dan mencari pekerjaan. Namun, pekerjaan tak kunjung ia dapatkan dengan ijazahnya. Ia lalu ditolong oleh seorang laki-laki dan menginap dirumahnya. Namun, mereka berlaku layaknya suami istri. Firdaus tidak nyaman dengan hubungannya. Ia lalu memberontak pergi meskipun sempat beberapa kali menerima siksaan dari laki-laki tersebut. Pelarian itu akhirnya mempertemukan nya dengan seorang germo yang memperkerjakannya sebagai pelacur. Ia diberikan penghidupan yang layak dengan pakaian, tempat tidur dan makanan yang nyaman.

Hari-harinya dihabiskan untuk melayani tiap laki-laki yang menjadi pelanggan. Meskipun begitu, ia cukup profesional dengan tidak mencampuradukkan antara hati dan pekerjaanya. Hingga suatu saat ia melayani seorang laki-laki yang menyadarkannya bahwa ia hanya menjadi mesin pencetak uang untuk germo yang memperkerjakannya. Kondisi ini menyadarkan Firdaus, ia kembali pergi dan memulai hidup dengan menjadi seorang pelacur yang sukses. Namun, semua berubah saat ia bertemu seorang germo yang mengancam jika tidak menjadi pekerjanya maka ia akan masuk penjara. Firdauspun terpaksa menjadi pekerjanya, ia harus membagi bayarannya dengan bagian germo tersebut yang lebih banyak. Bosan dengan perlakuan dan tindakan yang semena-mena, Firdaus hendak melarikan diri namun saat ditahan ia diancam dengan sebuah pisau. Namun, yang terjadi adalah kebalikannya. Ia membunuh germo itu dengan menancapkan pisau itu berkali-kali ditubuhnya. Saat kembali dipinta melayani seorang pangeran, ia kemudian tertangkap oleh polisi hingga menyebabkannya mendekam dipenjara dengan hukuman gantung.

Novel ini bertemakan tentang perjuangan perempuan untuk menentukan hidupnya sendiri dan prosesnya dalam menghadapi realitas sosial kehidupan. Keputusan Firdaus menjadi seorang pelacur tanpa paksaan dari orang lain adalah bentuk pembebasan diri dalam menentukan kehidupannya. Ia menjalani hidupnya diantara tekaan dan ketakberdayaan. Namun, dalam hidup tidak ada yang benar-benar bebas demikian pula pilihan hidup Firdaus.

Latar tempat yang digunakan adalah negara Arab, rumah penginapan, jalan raya, sekolah, perusahaan, penjara, rumah, dan kebun. Waktu yang digunakan adalah siang, malam dan pagi. Suasana yang ada dalam novel berwujud mencekam, ramai, sunyi, dan haru. Meskipun novel ini merupakan novel terjemahan, namun gaya bahasa yang digunakan cukup ringan dan mudah dipahami. Tokoh-tokoh yang terdapat pada novel yaitu Firdaus, Ayah, Ibu, Paman, Ibrahim, Istri paman, Bayoumi, Sharifah, dan Marzouk.

Novel ini syarat akan muatan ideologi feminisme liberal yang tercermin melalui tokoh utama, salah satu kutipan tokoh utamanya “seorang pelacur yang professional lebih baik daripada seorang alim yang sesat”. Novel ini menarik untuk dibaca sebab secara keseluruhan akan menimbulkan impresi bagi pembaca khususnya penyadaran secara intelektual terhadap segala bentuk ketidakadilan yang menyebabkan tokohnya memasuki episode kelam dalam hidupnya. Implikasi dari pembacaan novel ini juga akan mewujudkan kesadaran kolektif terhadap banyaknya perempuan yang mengalami kondisi fisik dan mental yang tertekan bahkan pada wilayah Arab yang dikenal sebagai wilayah yang religius. Sedangkan kekurangannya ialah terletak pada penggambaran yang gamblang tentang penyimpangan sensual sehingga harus disesuaikan dengan umur pembaca.

Editor : Siti Saira. H