Oleh: Muhammad Syakwan
Oerban.com – “Cangkul, cangkul, cangkul yang dalam, tanah yang longgar jagungku tanam”. Lagu ‘Menanam Jagung’ ciptaan Ibu Soed, sudah tidak asing lagi di telinga orang Indonesia. Belum ada informasi yang pasti kapan dan di mana lagu ini pertama kali dipublikasikan. Tidak menutup kemungkinan lagu ini dinyanyikan untuk mendukung swasembada pangan waktu itu, membakar semangat dari taman kanak-kanak hingga orang tua.
Tetapi ini bukan tentang lagu. Pemerintah telah menetapkan kebijakan alokasi 20% dana desa untuk ketahanan pangan. Dari total anggaran dana desa sebesar Rp71 triliun, sekitar Rp14 hingga Rp16 triliun dialokasikan khusus untuk ketahanan pangan.
Sebagai langkah strategis dalam menghadapi tantangan pangan di tingkat lokal, prioritas penggunaan Dana Desa tahun 2025, termasuk ketahanan pangan, diatur dalam Permendes No. 2 Tahun 2024 dan Keputusan Menteri Desa Nomor 3 Tahun 2025 tentang Panduan Penggunaan Dana Desa untuk Ketahanan Pangan. Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) memainkan peran kunci dalam meningkatkan ketahanan pangan, sebagaimana diatur dalam Kepmendesa No. 3 Tahun 2025. Dengan adanya kebijakan pengalokasian minimal 20% dana desa untuk ketahanan pangan dan penyertaan modal bagi BUMDes, langkah-langkah strategis perlu dirancang agar program ini berjalan efektif.
Ini bukan hanya tentang dana desa dan BUMDes, atau tugas melakukan pembinaan teritorial, pembinaan keamanan dan ketertiban, pembinaan potensi masyarakat, serta pengawasan dan pengamanan wilayah ataupun tugas menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat di desa, memberikan perlindungan kepada masyarakat, serta membantu memecahkan masalah kamtibmas. Lebih dalam dari itu, sinergi ini mendukung kedaulatan pangan.
Lebih dari itu, membangun chemistry penyuluh pertanian, kelompok tani, masyarakat, Bhabinkamtibmas, babinsa, pengurus BUMDes, aparat desa tentu saja kepala desa menjadi tantangan tersendiri. Komsos di warung kopi menjadi pendekatan yang efektif dan humanis.
Selain memperkuat silaturahmi, kegiatan ini juga mendorong partisipasi aktif petani masyarat secara umum dalam merumuskan solusi bersama untuk mendukung kedaulatan pangan. Komunikasi yang hangat dan terbuka menjadi kunci dalam membangun kepercayaan dan kerja sama dengan pendekatan menciptakan ruang diskusi yang hidup dan solutif. Diharapkan, sinergi seperti ini terus berlanjut dan menjadi budaya dalam mewujudkan pertanian yang tangguh dan berkelanjutan.
Presiden Indonesia, Prabowo Subianto menyampaikan bahwa swasembada pangan adalah salah satu fondasi kedaulatan negara. Swasembada pangan akan memberi perlindungan fisik bagi rakyat. Tanpa pangan yang cukup, negara tidak dapat menjamin keberlangsungan hidup warganya. Swasembada pangan memiliki banyak manfaat baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang.

