Oleh: Fadhil Raga Ananda*
Oerban.com – Setiap tanggal 7 Januari, langit Jambi kerap dihiasi warna-warni perayaan. Upacara digelar, baju kurung dan teluk belango dikenakan dengan gagah.
Namun, di balik kemeriahan HUT Provinsi Jambi yang ke-69 ini, ada pertanyaan besar yang harus kita jawab bersama sebagai kaum intelektual: Sudahkah pendidikan menjadi ruh utama dalam pembangunan Jambi, atau ia hanya sekadar pelengkap dalam pidato-pidato formal?
Sebagai Gubernur Mahasiswa FKIP Universitas Jambi, saya melihat usia ke-69 adalah usia “senja yang matang”. Seharusnya, Jambi tidak lagi berkutat pada masalah-masalah dasar. Namun realitanya, kita masih menghadapi tantangan yang kompleks.
Transformasi SDM: Bukan Sekadar Angka Statistik
Kita sering bangga dengan pertumbuhan ekonomi, namun kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) adalah investasi jangka panjang yang sesungguhnya. Mahasiswa FKIP adalah pabrik calon guru.
Jika pemerintah tidak serius membenahi infrastruktur pendidikan dan memperhatikan distribusi tenaga pendidik yang merata, maka ketimpangan antara kota dan desa di Jambi akan semakin lebar. Kita tidak ingin melihat ada sekolah di pelosok atau pedalaman Jambi yang ambruk di saat gedung-gedung pemerintahan di kota berdiri megah.
Digitalisasi yang Humanis
Dunia pendidikan sedang dipaksa berlari oleh teknologi. Di momen HUT ini, saya mendesak Pemerintah Provinsi untuk memastikan akses digital menjangkau seluruh satuan pendidikan di Jambi.
Namun, digitalisasi ini harus tetap berakar pada nilai kearifan lokal. Kita ingin siswa di Jambi mahir teknologi, tapi tetap menjunjung tinggi Adat Bersendi Syara’, Syara’ Bersendi Kitabullah. Guru-guru kita harus didampingi, bukan dibiarkan berjuang sendiri beradaptasi dengan sistem yang terus berubah.
Mahasiswa sebagai Mitra Kritis dan Solutif
FKIP UNJA bukan sekadar tempat mencetak pengajar, tapi juga kawah candradimuka bagi aktivis pendidikan. Melalui momentum HUT ke-69 ini, kami menyatakan siap untuk berkolaborasi.
Kami ingin dilibatkan dalam perumusan kebijakan pendidikan daerah. Kami punya ide, kami punya energi, dan kami punya idealisme. Pemerintah tidak boleh alergi terhadap kritik mahasiswa, karena kritik adalah bukti cinta kami agar Jambi benar-benar menjadi provinsi yang “Mantap” secara substansi, bukan sekadar diksi.
Menilik Nasib Guru dan Tenaga Kependidikan
Tidak adil bicara HUT Provinsi tanpa bicara nasib mereka yang mengabdi. Masih banyak alumni kami yang mengabdi sebagai honorer dengan upah yang jauh dari kata layak.
Di usia Jambi yang ke-69 ini, keberpihakan anggaran untuk kesejahteraan guru harus menjadi prioritas. Menyejahterakan guru adalah cara paling terhormat untuk merayakan hari jadi sebuah provinsi.
Dirgahayu Provinsi Jambi ke-69. Mari kita jadikan momentum ini untuk berbenah. Kita tidak ingin Jambi dikenal hanya karena sumber daya alamnya yang dikeruk, tapi kita ingin Jambi dikenal karena kecemerlangan otak anak-anak mudanya.
Sebagai mahasiswa, kami akan terus mengawal. Karena bagi kami, kemajuan sebuah daerah tidak diukur dari berapa banyak beton yang tertanam, tapi dari berapa banyak harapan yang tumbuh di dalam ruang-ruang kelas.
Jambi Maju, Pendidikan Bermutu!

