email : oerban.com@gmail.com

23 C
Jambi City
Tuesday, March 10, 2026
- Advertisement -

PUI Mengecam Keras Agresi Militer Amerika-Israel ke Iran, Desak Pemerintah Indonesia Keluar dari Board of Peace

Populer

Jakarta, Oerban.com – Persatuan Ummat Islam (PUI) mengecam keras agresi militer yang dilancarkan oleh Amerika Serikat dan Israel ke wilayah Iran. Serangan yang terjadi pada Sabtu, 28 Februari 2026 itu menewaskan sejumlah tokoh penting, termasuk Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatullah Ali Khamenei, serta sejumlah pejabat pemerintahan, warga sipil, dan anak-anak sekolah.

PUI menilai tindakan tersebut merupakan bentuk nyata dari neo-imperialisme dan ancaman serius terhadap perdamaian dunia. Ketua Bidang Hubungan Luar Negeri DPP Persatuan Ummat Islam, Dr. Adhe Nuansa Wibisono, dalam pernyataannya di Jakarta, Minggu (1/3/2026) menegaskan, “Kami mengutuk keras agresi yang dilancarkan Amerika Serikat-Israel terhadap Iran. Ini adalah bentuk neo-imperialisme yang nyata, di mana Amerika tidak mengindahkan hukum internasional sama sekali”.

Dr. Wibisono menyampaikan rasa duka cita yang mendalam atas gugurnya Ayatullah Ali Khamenei dan para korban lainnya. “Kami menyatakan turut berduka cita yang sedalamnya atas gugurnya Imam Ali Khamenei, para pejabat pemerintahan, masyarakat, bahkan anak-anak sekolah yang tewas menjadi korban kekejaman serangan Amerika-Israel terhadap Iran. Peristiwa ini menjadi pengingat bagi negara-negara Muslim bahwa apa yang dilakukan Amerika-Israel terhadap Iran tentu saja dapat dilakukan juga kepada negara lainnya, termasuk Indonesia,” ujarnya.

Baca juga  AS Tuding Iran atas Tewasnya Tentara AS dalam Serangan Pesawat Tak Berawak

Dalam kesempatan tersebut, Dr. Wibisono juga mengkritik keras keberadaan Board of Peace (BOP), sebuah dewan perdamaian yang dibentuk oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump. “Kami meminta pemerintah Indonesia mengkaji ulang posisi keikutsertaannya dalam Board of Peace (BOP), apalagi setelah melihat masuknya Israel sebagai salah satu anggota dalam dewan perdamaian tersebut dan tindakan Amerika yang melakukan tindakan sepihak terhadap banyak negara termasuk Iran dan Venezuela,” tegasnya.

Lebih lanjut, ia menyoroti mandulnya hukum internasional dan lembaga-lembaga dunia seperti Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang dinilai telah kehilangan wibawa dan peranannya. “Saya menilai bahwa hukum internasional saat ini sudah tidak berfungsi lagi, bahwa lembaga-lembaga internasional seperti PBB tidak berjalan dan kehilangan wibawa dan peranannya. Amerika Serikat menjalankan politik luar negerinya dalam kerangka imperialisme dan berlaku secara unilateral dan ugal-ugalan. Amerika bukanlah ‘polisi dunia’ seperti yang diklaimnya, tetapi adalah penjahat demokrasi yang menjadi ancaman perdamaian,” ungkap Dosen Hubungan Internasional Universitas Paramadina.

Ia mencontohkan tindakan sepihak Amerika seperti penculikan terhadap Presiden Venezuela, Nicolas Maduro, dan pembunuhan terhadap Ayatullah Ali Khamenei. Ia menegaskan bahwa tindakan tersebut sama sekali tidak dapat dibenarkan, meskipun Amerika mencoba membenarkannya dengan dalih menjaga perdamaian. 

Baca juga  11 Polisi Tewas akibat Serangan Teroris di Sistan-Baluchistan Iran

Dr. Wibisono juga mendesak adanya transparansi terkait penggunaan dana iuran anggota BOP yang disetorkan kepada Trump. “Kami mempertanyakan opsi iuran 1 miliar USD (Rp17 triliun) yang dibebankan Trump kepada negara-negara yang ingin menjadi anggota BOP, termasuk Indonesia. Perlu diperlakukan transparansi terhadap penggunaan uang tersebut, apakah operasi militer AS yang dilakukan terhadap Iran justru menggunakan uang iuran tersebut?” tanyanya.

Sebagai penutup, Dr. Wibisono menegaskan agar Presiden Prabowo Subianto mengambil langkah tegas dengan mundur dari Board of Peace. “Kami juga meminta Presiden Prabowo untuk mengkaji ulang keanggotaan Indonesia ke dalam Board of Peace dan menyatakan mundur dari dewan yang dibentuk Trump tersebut. Keberadaan Indonesia di dalam forum itu akan mempersulit posisi Indonesia dalam menegakkan politik bebas aktif, dan posisi dasar Indonesia yang menentang penjajahan di atas muka bumi. Sesuai pesan Bung Karno, selama kemerdekaan Bangsa Palestina belum diserahkan, selama itulah Bangsa Indonesia berdiri menentang penjajahan Israel,” pungkasnya.

Baca juga  PUI dan Partai Gelora Kritik Kebijakan AS-Israel, Palestina Menjadi Korban Standar Ganda Demokrasi Barat

Editor: Ainun Afifah

- Advertisement -

Artikel Lainnya

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -spot_img

Berita Terbaru