Jakarta, Oerban.com – Langkah Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia yang mendorong percepatan pembangunan fasilitas penyimpanan (storage) minyak mentah di dalam negeri mendapat apresiasi positif.
Kebijakan ini dinilai sebagai langkah strategis yang menunjukkan pemahaman mendalam terhadap kerentanan energi nasional serta dinamika geopolitik global yang kian tidak menentu usai Selat Hormuz ditutup oleh Iran akibat perang dengan AS.
Menanggapi hal tersebut Direktur Utama Lembaga kajian kebijakan ekonomi Indonesia Modernization and Policy Research Studies (IMPRES) Arif Rahman menilai bahwa kebutuhan minyak mentah dan BBM tanpa infrastruktur penyimpanan yang memadai sangat berisiko bagi kedaulatan negara.
Dengan mempercepat pembangunan storage, Indonesia tidak hanya meningkatkan stok penyangga (buffer stock), tetapi juga memiliki posisi tawar yang lebih kuat dalam perdagangan internasional.
Menjawab Tantangan Ketahanan Energi
Selama ini, cadangan operasional minyak Indonesia dianggap hanya mampu bertahan 20 hari. Menteri Bahlil melihat celah ini sebagai prioritas yang harus segera dibenahi. Bahkan ia berencana membangun storage untuk ketahanan energi selama 90 hari atau 3 bulan.
“Langkah Menteri Bahlil ini bukan sekadar pembangunan fisik, melainkan upaya mitigasi risiko nasional. Beliau memahami bahwa di tengah konflik global yang bisa memutus jalur logistik kapan saja, memiliki cadangan di tanah air sendiri adalah harga mati,” ujar Arif di Jakarta.
Selain itu IMPRES juga menilai rencana Menteri Bahlil membangun storage dengan membuka kolaborasi dengan pihak swasta melalui skema investasi adalah langkah yang tepat untuk mempercepat realisasi proyek penyimpanan minyak mentah di titik-titik strategis Indonesia.
Upaya ini menjadi sinyal kuat bahwa pemerintah di bawah kepemimpinan teknis Menteri Bahlil tidak lagi ingin Indonesia hanya menjadi “penonton” dalam pasar energi global, melainkan pemain yang memiliki ketahanan mandiri dan tangguh terhadap guncangan luar.
Editor: Alfi Fadhila

