Oleh: Ihwang Syaputra, S.Sos.*
Oerban.com – Ketika kita bertemu dengan orang yang lebih saleh, lebih berilmu, dan kaya pengalaman hidup, sudah semestinya kita sebagai manusia, sebagai hamba, dan sebagai pembelajar, meminta nasihat terbaik dari mereka. Terlebih bagi generasi muda, belajar dari yang lebih tua bukan sekadar pilihan, melainkan kebutuhan.
Pengalaman itu kami rasakan saat berkunjung ke Pondok Pesantren Gontor 7 dan berdiskusi langsung dengan pimpinan pondok, Ustadz Ma’ruf. Dalam pertemuan tersebut, kami meminta nasihat tentang kesiapan menikah sebuah fase besar dalam kehidupan.
Beliau menyampaikan tiga pertanyaan sederhana, namun sangat dalam maknanya:
Jika dikasih sekarang, apakah kita kuat?
Jika diganti, apakah kita ikhlas?
Jika ditunda, apakah kita sabar?
Dari tiga pertanyaan itu, kita diajak bercermin: berada di posisi manakah diri kita saat ini? Apakah kita benar-benar siap menerima, siap kehilangan, dan siap menunggu? Ketiganya adalah ujian yang sama beratnya, dan hanya bisa dijawab dengan kejujuran pada diri sendiri.
Ustadz Ma’ruf juga menegaskan bahwa pernikahan memang dianjurkan untuk disegerakan, jika dan hanya jika kita telah siap secara finansial, mental, emosional, serta memiliki bekal ilmu agama dan ilmu parenting. Sebab, pernikahan bukan sekadar seremoni, melainkan ibadah terpanjang sepanjang hidup.
Dari sana, saya menarik pelajaran penting yang relevan bukan hanya untuk pernikahan, tetapi juga kehidupan dan bisnis: memiliki jiwa pembelajar yang sejati. Kesalahan bukan untuk disangkal, melainkan untuk dipelajari. Kekurangan bukan untuk ditutupi, tetapi diakui agar bisa diperbaiki. Hanya dengan sikap itulah seseorang bisa tumbuh dan berkembang.
Kedewasaan sejatinya bisa ditempuh melalui dua jalan: pengalaman pahit yang memaksa, atau ilmu yang dipelajari secara sadar. Jalan ilmu adalah jalan yang lebih aman belajar dari pengalaman orang lain yang telah lebih dulu menapaki manis dan pahitnya kehidupan.
Hal itu kembali saya rasakan saat berdiskusi dengan seorang senior sekaligus relawan saat kami bertugas di Aceh Tamiang. Bang Rudi, seorang yang telah lama mengabdikan hidupnya, menyampaikan pesan sederhana namun kuat: Iqra, amalkan, lalu hijrah.
Pertama, membaca dan memahami.
Kedua, mengamalkan apa yang telah dipelajari.
Ketiga, hijrah berpindah dan berubah dari yang buruk menuju yang lebih baik.
Proses hidup, kata beliau, harus selalu disertai progres. Bergerak, berubah, dan bertumbuh.
Ia juga mengingatkan tentang ujian dalam kehidupan, termasuk dalam relasi dan pernikahan. Dalam Surah An-Nas disebutkan bahwa bisikan keburukan datang dari dua arah: manusia dan setan. Namun yang paling berbahaya adalah bisikan dari manusia itu sendiri, karena sering kali hadir nyata, halus, dan tanpa kita sadari.
Nasihat lain yang cukup tegas adalah tentang batas dalam pernikahan. Rumah tangga, menurutnya, perlu memiliki ruang mandiri bukan untuk menjauh dari orang tua, tetapi agar tidak terlalu banyak intervensi dari pihak luar, termasuk keluarga sendiri.
Selain itu, ego tidak boleh menjadi pemenang dalam hubungan suami-istri. Ketika pasangan memiliki tujuan yang sama, mereka akan tahu kapan harus melangkah, kapan harus berhenti, dan kapan harus berlari. Tujuan itu harus jelas sejak awal.
Dan tujuan pernikahan, pada akhirnya, tidak lain adalah ibadah.
Ketika pernikahan dimaknai sebagai ibadah, maka setiap masalah akan dihadapi dengan semangat belajar, setiap konflik dicari solusinya, dan setiap ujian dilihat sebagai proses pendewasaan. Fokus bukan lagi pada masalah, melainkan pada tujuan.
Karena menikah bukan tentang siapa yang paling menang, tetapi siapa yang paling mau bertumbuh bersama.
*Penulis merupakan alumni Fakultas Dakwah UIN Sultan Thaha Saifuddin Jambi

