email : oerban.com@gmail.com

23.3 C
Jambi City
Tuesday, March 10, 2026
- Advertisement -

Ego Anak Muda: Energi Perubahan atau Bara yang Menghanguskan?

Populer

Oleh: Ihwang Syaputra, S.Sos*

Oerban.com – Salah satu tantangan terbesar yang dihadapi anak muda adalah persoalan ego. Hal ini bahkan pernah digambarkan secara populer dalam lagu “Darah Muda” yang dibawakan oleh Rhoma Irama: “Darah muda, darahnya para remaja, yang selalu merasa gagah, tak pernah mau mengalah.” Lirik tersebut seakan menegaskan bahwa semangat menyala adalah bagian dari fitrah anak muda.

Pada dasarnya, energi dan ego bukanlah sesuatu yang sepenuhnya buruk. Dalam sisi positifnya, ego dapat menjadi bahan bakar semangat: mendorong keberanian, kreativitas, dan daya juang. Anak muda dengan energi besar mampu bergerak cepat, berinovasi, dan menciptakan perubahan.

Namun, ketika ego tidak dikendalikan, ia dapat berubah menjadi bara yang menghanguskan. Seseorang bisa menjadi sulit menerima masukan, enggan belajar, dan merasa paling benar. Pada titik inilah perkembangan mental dan keilmuan bisa terhambat. Ego yang berlebihan justru membatasi diri sendiri.

Baca juga  Baloikincai Adakan Agenda Sosial di Yayasan Bangun Bina Bangsa Kerinci

Sering kali, kedewasaan datang bersama ujian. Banyak kisah menunjukkan bahwa seorang pemuda baru benar-benar berubah setelah mengalami kegagalan atau keterpurukan. Masalah menjadi titik balik; dari sana ia belajar, menurunkan ego, dan mulai membuka diri terhadap pelajaran hidup. Sayangnya, tidak semua orang mampu mengambil hikmah dari setiap persoalan.

Padahal, perubahan tidak selalu harus menunggu jatuh terlebih dahulu. Ada “jalur cepat” menuju kedewasaan, yakni belajar dari pengalaman orang lain. Mereka yang telah lebih dahulu merasakan pahitnya kehidupan menyimpan banyak pelajaran berharga. Tidak harus menunggu luka sendiri untuk memahami arti kehati-hatian dan kebijaksanaan.

Kunci utamanya terletak pada kemauan belajar. Aura jiwa pembelajar harus terus dipelihara. Membaca, berdiskusi, memahami karakter manusia, serta memperluas sudut pandang akan membantu seseorang bersikap lebih bijak. Terlebih bagi mereka yang memegang peran kepemimpinan.

Baca juga  Tips Mengurangi Kadar kolesterol Tinggi

Seorang pemimpin sejatinya adalah pelayan, bukan sekadar sosok yang ingin dilayani. Ia dituntut mampu memahami karakter yang berbeda-beda: menghadapi pribadi yang “menyala” dengan pendekatan yang tepat, sekaligus menguatkan mereka yang cenderung pasif. Dalam dinamika itu, terkadang diperlukan sikap mengalah dan berkorban demi tujuan bersama.

Setiap bentuk kepemimpinan, sekecil apa pun, akan dimintai pertanggungjawaban. Bukan hanya pemimpin negara, provinsi, atau kota, tetapi juga pemimpin dalam keluarga, organisasi, bahkan diri sendiri. Kesadaran akan amanah inilah yang semestinya menumbuhkan kerendahan hati dan menekan ego yang berlebihan.

Pada akhirnya, perubahan lahir dari kesadaran. Kesadaran untuk memiliki pola pikir bertumbuh, mengakui kesalahan, dan terus belajar. Waktu akan tetap berjalan, membawa pelajaran indah maupun pahit. Tinggal satu pertanyaan penting: apakah kita mau mengambil hikmah darinya?

Baca juga  Kekuatan Istiqomah: Senjata Terbaik yang Dimiliki Manusia
*Penulis merupakan Alumni Komunikasi dan Penyiaran Islam, Fakultas Dakwah, UIN Sultan Thaha Saifuddin Jambi
- Advertisement -

Artikel Lainnya

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -spot_img

Berita Terbaru