Oleh: Zahran Sabdian Fadholi*
Oerban.com – Enam puluh sembilan tahun silam, Provinsi Jambi berdiri sebagai entitas yang mandiri dengan cita-cita luhur untuk menyejahterakan rakyat di sepanjang aliran Batanghari. Kini, di tahun 2026, kita kembali berdiri di ambang peringatan hari jadi tersebut.
Bagi kami di Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI), momentum ini bukan sekadar seremoni tahunan yang berlalu bersama kembang api, melainkan sebuah ruang untuk melakukan muhasabah (evaluasi) mendalam terhadap marwah dan arah pembangunan provinsi ini.
Menyelaraskan Pembangunan dengan Nilai Spiritual
Sebagai kader organisasi yang membawa nafas Islam, saya teringat akan firman Allah SWT dalam Surah Al-A’raf ayat 96:
“Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi…”
Ayat ini harus menjadi kompas bagi pembangunan di Jambi. Kemajuan yang kita kejar jangan sampai hanya bersifat materialistik dan mengabaikan sisi spiritual. Visi “Jambi Mantap” haruslah berkelindan dengan penguatan karakter masyarakat yang berlandaskan falsafah “Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah”. Kita merindukan kebijakan publik yang tidak hanya teknokratis, tetapi juga memiliki “ruh” keadilan yang mampu melindungi kaum yang lemah (mustad’afin).
Transformasi Ekonomi: Dari Ekstraksi ke Berkelanjutan
Jambi dianugerahi kekayaan alam yang luar biasa. Namun, peribahasa Jambi mengingatkan kita: “Bak meniti di atas pematang, salah pijak kaki terperosok.” Artinya, dalam mengelola kekayaan alam, pemimpin harus berhati-hati. Ketergantungan kita pada sektor ekstraktif seperti batubara dan perkebunan monokultur tanpa hilirisasi yang kuat adalah bom waktu bagi lingkungan dan ekonomi masa depan.
Masalah logistik, kemacetan di jalur publik akibat angkutan tambang, hingga konflik agraria yang masih kerap pecah di berbagai kabupaten, menunjukkan bahwa ada hak rakyat atas kenyamanan dan ruang hidup yang belum sepenuhnya tertunaikan. Jambi ke depan harus berani bergeser menuju ekonomi kreatif dan penguatan UMKM agar kemandirian ekonomi tidak hanya dinikmati oleh segelintir korporasi, melainkan merata hingga ke ujung lurah.
Investasi SDM: Menyiapkan Pemimpin Masa Depan
Pembangunan infrastruktur fisik memang penting, namun membangun manusia jauh lebih fundamental. Jambi membutuhkan sistem pendidikan yang mampu menjawab tantangan zaman tanpa mencabut akar budaya lokal. Sebagai mahasiswa, kami melihat bahwa akses pendidikan tinggi bagi anak-anak petani dan nelayan di Jambi harus lebih dipermudah. Beasiswa dan pelatihan kerja harus tepat sasaran, bukan sekadar pelengkap program kerja.
Jambi yang Berdaulat dan Bermartabat
Sebagai penutup, saya ingin mengutip sebuah pepatah luhur dari bumi Melayu Jambi:
“Pucuk Jambi Sembilan Lurah, seia sekata di dalam adat, seayun selangkah di dalam syarak.”
Pesan ini adalah panggilan untuk kolaborasi. Kami, pemuda dan mahasiswa Jambi, siap menjadi mitra kritis yang konstruktif. Kami akan menjadi mata yang tetap terjaga saat kekuasaan terlelap, dan menjadi suara bagi mereka yang dibungkam. Namun di sisi lain, kami juga siap memberikan kontribusi pemikiran dan tenaga untuk kemajuan daerah.
HUT ke-69 ini harus menjadi titik tolak untuk meninggalkan egosektoral dan kepentingan politik sesaat. Mari kita kembalikan Jambi kepada rakyatnya. Mari kita bangun Jambi yang tidak hanya “mantap” di atas kertas statistik, tapi benar-benar “mantap” di hati setiap warganya.
Selamat Hari Jadi Provinsi Jambi ke-69.
Teruslah Berkarya, Jayalah Negeriku, Sejahteralah Rakyatmu!

