email : oerban.com@gmail.com

28.2 C
Jambi City
Sunday, April 12, 2026
- Advertisement -

Nongkrong Jadi Ajang Intelektual, Poros Dialog Bahas Rekonstruksi Berfikir

Populer

Muaro Jambi, Oerban.com – Nongkrong yang biasanya hanya diisi canda ringan berubah menjadi ruang intelektual ketika Poros Dialog menggelar diskusi terbuka bertema “Rekonstruksi Berfikir Filsafah” di Warung Tongkrongan GNT Mendalo, Sabtu (27/9/2025) malam.

Acara yang menghadirkan narasumber M. Ihsanuddin Izzu, M.S.H., dan Agustia Gafar, S.H., M.H., itu mengajak anak muda untuk melampaui obrolan santai menuju dialektika yang kritis dan mendalam.

“Filsafat adalah seni membaca realitas secara utuh, tidak berhenti pada potongan informasi, tetapi merangkainya menjadi pemahaman menyeluruh,” ujar Ihsanuddin.

Baca juga  IKADUBAS UIN SUTHA Dorong Literasi Kritis Mahasiswa Lewat Kamisan

Sementara Agustia menegaskan bahwa berpikir kritis tidak hanya soal logika, tetapi juga membutuhkan keberanian moral dan kepekaan sosial.

Founder Poros Dialog, Azizul, menyebut forum ini berupaya menjembatani kesan santai dengan keseriusan.

“Akal dan nurani, logika dan rasa, harus berjalan seiring agar manusia tidak hanya tajam dalam pikiran, tetapi juga halus dalam kemanusiaan,” katanya.

Nongkrong Jadi Ajang Intelektual, Poros Dialog Bahas Rekonstruksi Berfikir
Poros Dialog, jadikan nongkrong sebagai ajang intelektual. (Foto: ist)

Sementara itu, founder lainnya, Adrizal, berharap kegiatan seperti ini dapat mendorong generasi muda Jambi memanfaatkan waktu nongkrong untuk berbicara soal ilmu, masa depan, dan arah pembangunan daerah.

“Semoga lahir anak muda yang berani berdiskusi, jernih berpikir, dan berwibawa secara intelektual,” ujarnya.

Meski begitu, sejumlah peserta memberi catatan terhadap jalannya acara. Salah satunya M. Afdhal Ilmi yang menilai diskusi terlambat dimulai sehingga berakhir larut malam.

Baca juga  Gelar Diskusi Berujung Pengeroyokan, HMI UIN Siap Kawal Proses Hukum

Ia juga menyebut sesi awal cenderung satu arah karena jumlah peserta yang banyak, meski diskusi menjadi lebih hidup saat dibagi dalam kelompok kecil.

“Secara keseluruhan acaranya bagus, membangkitkan nalar, menggugah pikiran untuk berpikir kembali. Hanya saja terlalu larut malam, kurang cocok untuk anak rumahan seperti saya,” katanya.

Editor: Alfi Fadhila 

- Advertisement -

Artikel Lainnya

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -spot_img

Berita Terbaru