Oleh: Ihwang Syaputra*
Oerban.com – Dalam khutbah Jum’at pertama Ramadan 1447 H, Ustadz Muhammad Agus Saputra, S.Pd., menyampaikan bahwa bulan Ramadan memang hadir setiap tahun. Namun, tidak semua orang yang hidup pada Ramadan tahun lalu masih diberi kesempatan oleh Allah untuk kembali bertemu dengan Ramadan hari ini.
Betapa banyak jiwa yang telah dipanggil oleh Allah sebelum sempat menginjak bulan yang penuh berkah ini. Kematian adalah sebuah kepastian. Setiap yang bernyawa pasti akan merasakannya.
Hari ini, ketika kita masih bernapas, masih diberi kesempatan hidup hingga memasuki Ramadan, itu bukan sekadar rutinitas waktu. Itu adalah karunia. Itu adalah izin. Itu adalah pilihan Allah kepada hamba-hamba-Nya yang masih diberi peluang untuk memperbaiki diri dan meningkatkan ketaatan.
Ramadan bukan hanya tentang menahan lapar dan dahaga. Ia adalah momentum ketakwaan. Ia adalah bulan evaluasi ruhani. Rasulullah ﷺ pernah mengingatkan tentang celakanya orang yang mendapati Ramadan namun tidak mendapatkan ampunan dari Allah.
Sungguh kerugian besar ketika seseorang hidup di bulan mulia, tetapi tidak ada sedikit pun ketaatan yang bertambah, tidak ada kedekatan yang dibangun, dan tidak ada interaksi yang diperkuat dengan Allah.
Ramadan adalah bulan Al-Qur’an. Bulan yang dimuliakan karena di dalamnya diturunkan kitab suci sebagai petunjuk hidup manusia. Kemuliaan bulan ini tidak terlepas dari kemuliaan Al-Qur’an. Bahkan malaikat paling mulia, Malaikat Jibril, dimuliakan karena menjadi perantara turunnya wahyu. Nabi paling mulia, Nabi Muhammad ﷺ, dimuliakan karena kepadanyalah Al-Qur’an diturunkan.
Kemuliaan selalu melekat pada Al-Qur’an. Maka siapa yang ingin mulia, dekatilah Al-Qur’an.
Ironisnya, di banyak rumah kaum muslimin, Al-Qur’an tersusun rapi di lemari, tertutup debu, jarang disentuh, apalagi dibaca dan direnungi. Padahal Allah tidak membutuhkan bacaan kita. Allah tidak membutuhkan ibadah kita. Namun kitalah yang sangat membutuhkan Allah. Kitalah yang membutuhkan petunjuk-Nya. Kitalah yang membutuhkan cahaya Al-Qur’an untuk menerangi kehidupan dunia dan akhirat.
Jangan sampai Ramadan berlalu begitu saja, sementara kita tidak menambah kualitas ibadah, tidak memperbanyak doa, tidak mempererat hubungan dengan Al-Qur’an. Jangan sampai kita menjadi golongan yang merugi mereka yang hidup di bulan suci tetapi tidak mendapatkan kemuliaannya.
Al-Qur’an mengingatkan bahwa siapa yang berpaling dari peringatan Allah, maka ia akan dibangkitkan dalam keadaan buta di akhirat kelak. Buta dari cahaya petunjuk, buta dari pertolongan, dan buta dari kemuliaan yang dahulu diabaikannya. Na’udzubillah.
Ramadan adalah peluang. Tidak semua orang mendapatkannya. Dan tidak ada jaminan kita akan bertemu dengannya lagi tahun depan.
Maka selama napas masih Allah titipkan, selama kesempatan masih terbuka, mari kita jadikan Ramadan sebagai titik balik. Mari kita hidupkan malam-malamnya dengan ibadah, hidupkan siang harinya dengan amal, dan hidupkan hati kita dengan Al-Qur’an.
Sebab kemuliaan bukan diwariskan. Kemuliaan diraih. Dan Ramadan adalah jalannya.
Semoga kita termasuk hamba-hamba yang memanfaatkan kesempatan ini untuk meraih ridha Allah dan menjadi insan yang lebih bertakwa.
Aamiin Ya Rabbal ‘Alamin.

