Sarolangun, Oerban.com – Ayam kampung petelur baru bernama Elba. Produktivitas tinggi dan konsumsi pakan rendah. Tiong tak menduga bahwa 3 telur pemberian koleganya, Lala Setyawan, kini beranak-pinak. Tiga telur yang menetas—2 jantan dan seekor betina—itu menjadi induk ratusan day old chicken (DOC).
Ayam Elba? Sebutan Elba tak terkait dengan nama pulau di Italia tempat pembuangan kaisar Perancis, Napoleon Bonaparte. Sebutan Elba sebagai penghargaan kepada Lala Setyawan yang membawa 60 telur ayam dari Jeddah, Arab Saudi, ketika berhaji pada 2010.
“El kependekan dari huruf pertama Lala dan Ba kependekan dari Badian, dusun tempat saya tinggal,” ujar Lala Setyawan yang membagikan telur-telur itu kepada beberapa peternak.
Tiga ekor tetasan Tiong itulah yang akhirnya bertahan dan beranak-pinak. Sementara, 57 tetasan lain yang juga dibagi-bagikan kepada kerabat dan handai tolan itu mati ketika berumur sehari. ”Dari situ cikal bakal ayam elba berkembang di Kabupaten Temanggung,” ujar Lala. (Trubus Januari 2013)
Kelompok Wanita Tani biasa disebut KWT, kelompok yang dibentuk sebagai upaya pelibatan kaum perempuan secara langsung, dalam usaha-usaha peningkatan hasil pertanian, seperti menjadi bagian dari motivator dalam adopsi dan pengenalan teknologi tani.
Peran ganda wanita tani ini sangat strategis dalam peningkatan produktivitas usaha tani dan berpotensi untuk meningkatkan pendapatan dan ketahanan pangan menuju kesejahteraan rumah tangga petani di pedesaan.
Dalam praktiknya, KWT lebih dekat dengan pekarangan, jadikan teras dan halaman ruang belajar dan praktek. Menariknya, teras dan pekarangan cenderung anti dengan hewan ternak, bukan hanya ternak rumenansia ternak unggas terkadang menjadi hama di lahan pekarangan. Serangan pada perakaran tanaman sampai dengan daun dan buah kerap dilakukan oleh ternak unggas jadikannya hama penting di pekarangan, musuh bagi ibu-bu kelompok wanita tani.
Tidak halnya dengan KWT Muslimah, di sela-sela pertemuan rutin bertajuk Halalbihalal pada Kamis (2/4/2026), dari diskusi yang berkembang muncul ide untuk memelihara ternak ayam Elba bagi anggota KWT.
Rencana ini muncul berdasarkan pengalaman ketua kelompok (Tutik), bisa panen telur setiap hari dengan hanya memelihara tiga ekor induk ayam Elba. Dari pengalaman tersebut, ketua KWT Muslimah berharap mendapatkan pelatihan membuat mesin tetas, sehingga telur yang ditetaskan bisa dikembangan oleh anggota kelompok.
“Dengan itu, pekarangan kami bukan hanya memenuhi pangan asal nabati tapi dari protein hewani,” sambung ketua kelompok.
Hadir pada acara tersebut, Kades Pasar Singkut, Adi Sugiyanto, anggota Satimker Sarolangun, Dasrin, S.PKP, koordinator penyuluh BPP Singkut Ridwan Effendi, SP dan penyuluh se kecamatan Singkut. Dalam sambutannya koordinator penyuluh BPP Singkut, menitik beratkan pada pendataan anggota kelompok dan kelompencapir digital.
Di akhir acara, PPL WKPP, sekaligus pembawa acara, Nila Dimiyanti, A.md berharap pertemuan kelompok kedepannya bukan hanya ajang berkumpul tapi sebagai sarana belajar dan semoga kelompok kwt Muslimah tetap solid dan berkembang menjadi pionir tumbuhnya kelembagaan ekonomi petani.
Penulis: Muhammad Syakwan, PPL BPP Singkut

