email : oerban.com@gmail.com

32.9 C
Jambi City
Thursday, April 16, 2026
- Advertisement -

Suku Anak Dalam Angkat Doa dan Suara Hutan di Festival Batanghari 2025

Populer

Bungo, Oerban.com — Suku Anak Dalam dari Desa Dwi Karya Bakti, Kecamatan Pelepat, Kabupaten Bungo, tampil membawakan Tari Bedeti pada malam kedua Festival Batanghari Jambi 2025. Tarian tersebut dipadukan dengan tradisi bertutur atau senandung khas mereka yang sarat dengan pesan-pesan pelestarian alam, pada Senin (4/8/2025).

Tari Bedeti ditarikan oleh enam kader perempuan Suku Anak Dalam, yakni Juliana, Siska, Ita, Ratih, Induk Didi, dan Induk Tuti. Mereka mengenakan kain bermotif daun sebagai simbol kehidupan, keteduhan, dan keberlanjutan.

Gerakan tarian yang mengalun lembut diiringi dengan senandung doa keselamatan bagi alam dan manusia, mencerminkan rasa syukur atas alam yang menjadi sumber kehidupan.

Festival Batanghari Jambi 2025 yang digelar oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jambi berlangsung selama lima hari, mulai 2 hingga 9 Agustus di kawasan Tepian Sungai Batanghari, Kota Jambi.

Baca juga  Sisi Kehidupan Suku Anak Dalam

Acara ini menjadi wadah bagi masyarakat Jambi untuk menampilkan kekayaan seni, budaya, dan kearifan lokal, mulai dari pertunjukan tradisional, pameran kerajinan, kuliner daerah, hingga forum diskusi budaya dan ekowisata.

Mengusung tema “Semakin Dilestarikan, Semakin Mensejahterakan”, festival ini juga menjadi media kampanye pelestarian budaya Jambi.

Meski diguyur hujan, acara tetap berlangsung dengan antusiasme tinggi dari pengunjung sejak pukul 9 malam.

Partisipasi Suku Anak Dalam di panggung utama Festival Batanghari menjadi bentuk pengakuan terhadap keberadaan, pengetahuan, dan ekspresi budaya masyarakat adat.

Program pemberdayaan dari Pundi Sumatra bersama Kemitraan Partnership turut mendorong pelibatan masyarakat adat dalam ruang-ruang publik, khususnya Suku Anak Dalam di Jambi.

Baca juga  Sekda Jambi Dukung Deklarasi Forum Persatuan Masyarakat Adat Orang Rimba

Selain menari, Juliana, salah satu penari Suku Anak Dalam, membawakan puisi yang mengangkat isu kerusakan lingkungan.

Puisi tersebut menyindir tajam pihak-pihak yang terus membuka hutan untuk kepentingan pribadi, termasuk pemerintah dan pemilik konsesi.

“Adanya kesempatan yang diberikan oleh pemerintah dalam acara besar ini menunjukkan bahwa pemerintah sangat peduli terhadap budaya-budaya masyarakat SAD, salah satunya tari Bedeti yang hampir punah ini,” ujar Sutono, CEO Pundi Sumatra.

Ia menambahkan, kesempatan tampil ini merupakan inisiatif dari Dinas Pariwisata Provinsi Jambi kepada para kader SAD.

Baca juga  Bunda PAUD Hj. Hesti Haris: Anak SAD Berhak Dapat Pendidikan Sejak Dini

Editor: Julisa

- Advertisement -

Artikel Lainnya

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -spot_img

Berita Terbaru