Oleh : Ari Ramadhanu, S.Pd*
Oerban.com – Menjadi santri merupakan sebuah anugrah besar dari Allah SWT.
Berkat bimbingan Ustadz/Murobbi, kita menjadi mengenal siapa Tuhan kita, menjadi tahu bagaimana cara menyembah atau mengagungkan tuhan kita melalui berbagai macam aktivitas ibadah yg kita lakukan setiap hari, menjadi tahu bagaimana cara mencintai dan mendapatkan cinta darinya, menjadi tahu apa yang menjadi tujuan kita utk hidup di Dunia ini.
Kita bisa selalu dekat dengan Allah SWT, melibatkan Allah di seluruh aktivitas yang kita kerjakan, hidup dengan harapan besar berada dalam bimbingan Allah SWT.
Kita di jauhkan oleh Allah SWT dari berbagai macam perilaku-perilaku yang menyimpang, pergaulan bebas dan hal-hal negatif lainnya, berkat lingkungan yang mendukung dan nilai-nilai yang senantiasa dijaga.
Yang mana saat ini, beberapa hal tersebut menjadi ujian dan tantangan terbesar bagi para orang tua, agar bisa memilihkan lingkungan yang baik dan tepat untuk anaknya agar terhindar dari berbagai macam hal negatif tersebut.
Menjadi santri membuat kita mengetahui arti dari kehidupan.
Santri belajar hidup mandiri, jauh dari keluarga dan orangtua, dituntut utk mampu memimpin diri kita sendiri, sebagai bekal kita di masa yg akan datang.
Kita juga menjadi sadar hidup tidak saja berbicara tentang kesendirian, kita bermuamalah dengan siapapun, mulai dari saudara -saudara kita yang ada di asrama, maupun masyarakat lingkungan sekitar, kita menjadi paham bahwa Karakter dan perilaku seseorang di masyarakat itu adalah sebuah nilai yang sangat berharga.
Menjadi santri adalah pendidikan terbaik untuk menimba ilmu pengetahuan.
Inilah contoh gambaran Pendidikan yang ideal, 24 jam kita habiskan utk ilmu, belajar, membaca, mengkaji, berdiskusi dan menjelaskan, bahkan diamnya kita di pondok itu lebih baik di bandingkan dengan kita di rumah.
Dan tak kalah penting juga, yang tidak di dapatkan oleh orang yang tidak nyantri adalah pendidikan kehidupan/belajar hidup.
Bagaimana caranya kita belajar masak, mencuci, membersihkan rumah, memperbaiki kerusakan, mengatur keuangan, dan masih banyak yang lain, yang ini kelak akan sangat bermanfaat dan digunakan dalam kehidupan kita.
Namun akhir-akhir ini, dunia pesantren sedang mendapatkan ujian dan tantangan yang besar.
Sebagai orang yang sedang merasakan kebaikan ini, selayaknya kita sadar dan paham, bahwa framing-framing negatif yang berkaitan dengan pesantren, itu tidaklah benar.
Ucapan-ucapan seperti “Pesantren tempat perbudakan”, “Kiyai naik merci, santri kerja bangunan”, “pesantren sarang LGBT”.
Itu ucapan sebagian orang yang tidak pernah nyantri dan tidak paham dunia pesantren, ucapan orang yang berusaha menciderai dunia pesantren untuk melemahkan Pendidikan Islam.
Kedepan, Agama dan Bangsa ini ada di tangan kalian.
Kalianlah yang akan meneruskan perjuangan ini, di saat para asatidz kalian sudah tidak ada, perjuangan dalam menyebarkan agama Allah melalui model pendidikan pesantren dan perjuangan dalam mempertahankan bangsa ini dari Penjajah, karena dalam sejarah tercatat, santrilah garda terdepan, berani berjihad dan tidak takut mati dalam membela bangsa ini.
Semoga Allah berikan kita kemudahan dalam belajar, istiqomah dalam beribadah, kesuksesan di masa yang akan datang, dan menghindarkan kita dari berbagai macam hal negatif, Aamiin Yaa Robbal ‘alamin.

