Gaza, Oerban.com — Turki pada hari Rabu mengecam Israel atas pengumumannya tentang perluasan besar-besaran operasi militernya di Gaza, dengan menekankan bahwa langkah tersebut berisiko meningkatkan ketegangan di kawasan.
Dalam sebuah pernyataan, Kementerian Luar Negeri Turki menyatakan bahwa pernyataan mengenai perluasan operasi di Gaza dan ekspansi pemukiman di Tepi Barat yang diduduki Israel menunjukkan pengabaian terang-terangan Israel terhadap hukum internasional dan keterputusan total dari upaya perdamaian.
Turki menyerukan komunitas internasional untuk mengambil sikap guna melindungi situs-situs suci, mencegah provokasi, dan menghentikan upaya Israel memperluas wilayahnya melalui pendudukan.
Turki juga mengecam kunjungan Menteri Keamanan Nasional sayap kanan Israel, Itamar Ben-Gvir, ke kompleks Masjid Al-Aqsa di Kota Tua Yerusalem.
“Kami mengutuk penyerbuan yang dilakukan oleh anggota pemerintahan Israel ke kompleks Masjid Al-Aqsa hari ini,” kata Kementerian Luar Negeri Turki.
Tindakan ini oleh kaki tangan (Perdana Menteri Israel Benjamin) Netanyahu adalah keputusan berbahaya yang sekali lagi akan memperburuk ketegangan di kawasan.
Politisi sayap kanan, Ben-Gvir pada hari Rabu memaksa masuk ke kompleks Masjid Al-Aqsa bersama pemukim ilegal, menandai provokasi baru di tengah perang yang sedang berlangsung di Gaza.
Israel memulai kampanye udara mendadak di Gaza pada 18 Maret dan sejak itu telah menewaskan lebih dari 1.000 korban serta melukai lebih dari 2.500 orang, menghancurkan kesepakatan gencatan senjata dan pertukaran tahanan yang dicapai pada Januari antara Israel dan kelompok perlawanan Palestina, Hamas.
Lebih dari 50.400 warga Palestina telah tewas di Gaza akibat serangan militer Israel sejak Oktober 2023, sebagian besar di antaranya adalah wanita dan anak-anak.
Mahkamah Pidana Internasional mengeluarkan surat perintah penangkapan pada November lalu terhadap Netanyahu dan mantan Menteri Pertahanan, Yoav Gallant atas kejahatan perang dan kejahatan terhadap kemanusiaan di Gaza.
Israel juga menghadapi gugatan genosida di Mahkamah Internasional atas perangnya di wilayah tersebut.
Situasi di Suriah
Sementara itu, ketegangan antara Turki dan Israel di Suriah semakin meningkat karena Israel terus melakukan serangan terhadap negara yang dilanda perang itu, meskipun Damaskus berupaya mencapai stabilitas.
Menteri Luar Negeri Israel, Gideon Saar pada hari Kamis menyatakan bahwa Israel prihatin dengan “peran negatif” yang dimainkan Turki di Suriah, Lebanon, dan kawasan lainnya.
“Mereka melakukan segala upaya agar Suriah menjadi protektorat Turki. Jelas itu niat mereka,” katanya dalam konferensi pers di Paris.
Ankara sering mengkritik tindakan Israel di Suriah karena dinilai menyebabkan ketidakstabilan.
Tentara Israel merebut wilayah di barat daya setelah diktator Bashar Assad digulingkan.
Sumber: Daily Sabah
Editor: Julisa