BERHEMAT ATAU JUSTRU KONSUMTIF

oleh -46 views
Sumber : http://Aksesorisbag.us

Memasuki era ekonomi modern, banyak hal yang mudah dimiliki, kecerdasan marketing yang membuat produsen saling berlomba agar dapat memikat konsumen terhadap produk yang mereka miliki. Akibatnya, masyarakat seringkali menyalahi pengertian dari kebutuhan konsumsi, konsumsi tidak lagi disinyalir bersasarkan pada kebutuhan, namun hanya mengikuti hawa dan nafsu saja. Hal tersebut akan menjerumuskan masyarakat pada perilaku konsumtif.

Menurut Sumartono (dalam Fransisca, 2005: 176), perilaku konsumtif adalah suatu prilaku yang tidak lagi didasarkan pada pertimbangan yang rasional, melainkan karena adanya keinginan yang sudah mencapai taraf tidak rasional lagi. Prilaku konsumtif melekat pada seseorang bila orang tersebut membeli sesuatu di luar kebutuhan (trend) tetapi sudah kepada faktor keinginan (want).

“Konsumen jangan makin konsumtif dan boros saat berbelanja dengan iming-iming seperti paylater, cashback atau diskon, yang pada akhirnya akan terjerat utang,” kata Ketua Pengurus Harian YLKI Tulus Abadi dalam keterangan tertulisnya di Jakarta, Ahad 10 November 2019.

Selain itu, Tulus mengingatkan supaya konsumen mencermati segala bentuk diskon yang diberikan, termasuk jenis barang yang diberikan diskonnya. Jangan terjerat bujuk rayu diskon, sebab banyak diskon hanyalah gimmick marketing, alias diskon abal-abal.
Sejatinya discount adalah salah satu strategi promosi yang dilakukan untuk mendongkrak penjualan dengan berbagai macam cara.

Tujuan pokok dari cara-cara itu membuat seolah-olah barang yang berlabel diskon adalah barang murah dan kesempatan terbatas yang akan sangat menguntungkan apabila kita membelinya, seolah-olah orang akan merugi jika meninggalkan kesempatan emas itu. Pada dasarnya dulu diskon adalah murni dan benar-benar merupakan potongan yang diberikan kepada konsumen dengan alasan-alasan tertentu. Tapi ada perkembangannya diskon menjadi strategi jitu dalam pemasaran, khususnya barang retail yang pada kenyataanya sudah meninggalkan norma etis maupun keabsahan jual beli itu sendiri. (Santoso:2019).

Selain Diskon, ada juga promo lain yang belakangan ini menjadi kejaran konsumen, yaitu cashback. Cashback adalah penawaran dimana pembeli mendapatkan presentase pengembalian uang tunai/ virtual yang bisa didapat saat pembeli memenuhi syarat tertentu. Misalnya, syarat minimum pembelian, dll.
Bentuk cashback ini hampir sama dengan diskon, yaitu berupa presentase harga atau nominal harga tertentu. Bedanya, pembeli tidak langsung mendapatkan potongan harga, melainkan dapat pengembalian uang tunai/ virtual yang diberikan saat transaksi berikutnya di kemudian hari. Hal inilah yang bisa memacu konsumen untuk melakukan repeat order di lain kesempatan.

Memanfaatkan diskon dan cashback memang menjadi tips hemat yang bisa dilakukan. Sayangnya, diskon dan cashback ini justru membuat kita menjadi mudah tergiur untuk membeli barang yang tidak dibutuhkan atau membeli barang lebih banyak dari yang sebenarnya dibutuhkan demi memanfaatkan limit cashback. Banyak orang terburu-buru membeli produk demi mendapatkan diskon 50%. Kemudian mereka menyadari bahwa sebenarnya ia telah membuang-buang uang. Padahal barang tersebut tidak benar-benar dibutuhkan. Perilaku ini akan menjerat kita dalam pemborosan serta perilaku yang berlebihan dalam menggunakan uang.

Mujahid mengatakan, “Seandainya seseorang menginfakkan seluruh hartanya dalam jalan yang benar, itu bukanlah tabdzir (pemborosan). Seandainya seseorang menginfakkan satu mud saja (ukuran telapak tangan) pada jalan yang keliru, itulah yang dinamakan tabdzir (pemborosan).”

Perilaku boros sudah terdapat dalil yang jelas di dalam Al-Qur’an:
“Dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan.” (QS. Al Isro’ [17]: 26-27).

Ada beberapa Prinsip dasar Perilaku konsumen islami, salah satunya adalah prinsip kesederhanaan, karena sikap berlebih-lebihan sangat dibenci oleh Allah dan merupakan pangkal dari berbagai kerusakan di muka bumi. Sikap berlebih-lebihan ini mengandung makna melebihi dari kebutuhan yang wajar dan cenderung memperturutkan hawa nafsu atau sebaliknya terlampau kikir sehingga justru menyiksa diri sendiri.

Sebagaimana dijelaskan dalam Al-Qur’an surah al-A’raf ayat 31 yang artinya : “Wahai anak cucu Adam! Pakailah pakaianmu yang bagus pada setiap (memasuki) masjid, makan dan minumlah, tetapi jangan berlebihan sungguh Allh tidak menyukai orang-orang yang berlebihan-lebihan”.

Satu hal yang seharusnya kita lakukan bila ingin memanfaatkan fenomena cashback dan diskon. Kita harus rajin dan cermat mencari informasi diskon secara berkala. Sehingga kita dapat memanfaatkan diskon dan cashback tersebut pada momen yang tepat. Bukan pada saat kita tidak membutuhkannya.
Jadilah generasi muda yang melek teknologi dan tidak tergoda gaya hidup konsumtif. Fenomena cashback dan diskon memang harus dimanfaatkan. Tetapi bukan berarti kita harus belanja terus-menerus demi memperoleh diskon. (Melisa:2019).

Penulis : Lian undari permata sari, Adam Zedde, Almudatsir marion Attila, Nisa Oktavia, dan Fikri Asydiqi. Mahasiswa Prodi Akuntansi, Fakultas Ekonomi & Bisnis, Universitas Jambi.

Editor : Siti Saira. H