Oleh: Ihwang Syaputra, S.Sos*
Oerban.com – Di tengah derasnya arus informasi dan tuntutan hidup yang serba cepat, anak muda khususnya Generasi Z dan Generasi Alfa dihadapkan pada tekanan yang tidak ringan.
Produktivitas, pencapaian, validasi sosial, hingga standar kesuksesan yang terus dipamerkan di media sosial kerap membuat banyak dari mereka terjebak dalam rasa lelah, cemas, dan insecure. Dalam situasi inilah, dua konsep penting perlu dipahami secara seimbang: growth mindset dan self-reward.
Growth mindset tanpa diimbangi self-reward dapat menjadikan seseorang terlalu keras terhadap dirinya sendiri. Ia terus menuntut untuk berkembang, berprestasi, dan melampaui batas, namun lupa menghargai proses yang telah dijalani. Akibatnya, kelelahan mental mudah muncul, dan rasa puas terhadap diri sendiri nyaris tidak pernah hadir.
Sebaliknya, self-reward tanpa growth mindset berisiko menjerumuskan seseorang ke dalam zona nyaman. Apresiasi diri memang penting, tetapi tanpa dorongan untuk bertumbuh, seseorang bisa terjebak dalam sikap puas yang stagnan dan kehilangan arah pengembangan diri.
Keseimbangan antara keduanya adalah kunci. Ketika self-reward dan growth mindset diterapkan secara bersamaan, seseorang akan terus berkembang dan bertumbuh, sekaligus mampu mengapresiasi setiap proses baik saat berhasil maupun ketika gagal. Ia tidak hanya mengejar hasil, tetapi juga memuliakan perjalanan.
Realitas hari ini menunjukkan bahwa Generasi Z dan Alfa hidup di tengah terlalu banyak distraksi dan perbandingan. Media sosial menghadirkan standar hidup yang sering kali tidak realistis, memicu rasa tidak cukup dan dorongan membandingkan diri secara terus-menerus.
Dalam kondisi ini, self-reward menjadi bentuk validasi yang sehat: pengakuan bahwa tubuh, pikiran, dan emosi kita juga membutuhkan apresiasi bukan hanya saat sukses, tetapi juga ketika sedang berjuang.
Apresiasi diri bukan bentuk kemanjaan, melainkan strategi keberlanjutan. Dengan menghargai diri sendiri, seseorang dapat menjaga konsistensi (istiqomah), mempertahankan semangat, dan tetap bergerak di tengah kelelahan hidup. Menyayangi diri sendiri adalah fondasi untuk bisa menyayangi dan memberi manfaat bagi orang lain.
Sementara itu, growth mindset menuntut keterbukaan. Pola pikir bertumbuh tidak boleh dibatasi oleh kritik, komentar, atau penilaian orang lain. Justru sebaliknya, masukan dan kritik adalah cermin untuk melihat blind spot, sisi diri yang sering luput dari pengamatan kita sendiri. Tidak ada manusia yang sepenuhnya objektif terhadap dirinya; karena itu, dialog, diskusi, bahkan perbedaan pendapat adalah ruang belajar yang penting.
Dalam dunia yang dinamis, manusia perlu memperluas perspektif. Tidak cukup melihat dari satu arah saja. Diperlukan “sudut pandang helikopter” kemampuan melihat persoalan dari berbagai sisi agar pemahaman menjadi utuh. Ilmu, pengalaman, dan perspektif orang lain adalah pelengkap yang memperkaya cara pandang kita terhadap kehidupan.
Pada akhirnya, growth mindset yang sehat akan melahirkan pribadi yang terus belajar, berkembang, dan berkontribusi tanpa kehilangan arah. Ditopang oleh self-reward, pertumbuhan itu menjadi lebih manusiawi, tidak melelahkan, tidak mematikan empati pada diri sendiri.
Di era yang bergerak cepat ini, anak muda perlu menumbuhkan cinta pada ilmu, haus akan pengetahuan, dan terbuka terhadap pembelajaran di mana pun dan kapan pun. Bertumbuh setiap hari, dalam setiap hal, di setiap waktu, dan di setiap tempat, tanpa lupa memberi apresiasi pada diri sendiri yang sedang berjuang.

