KELESUAN PEMUDA PATOLOGI BAGI BONUS DEMOGRAFI

oleh -141 views

Oleh: AGUS MUSTAWA*

Sejarah dunia adalah sejarah orang muda. Apabila angkatan muda mati rasa, maka matilah sejarah sebuah bangsa.” (Pramoedya Ananta Toer)

Membincang tentang pemuda sebenarnya merupakan perbincangan yang sangat besar. Dalam fragmen sejarah bangsa ini, para pemuda selalu memainkan peran vital dan menjadi penggerak kebangkitan. Bila diteropong ke belakang, eksistensi pergerakan pemuda mulai terekam sejak tahun 1908 hingga sekarang. Menurut saya, sejarah mencatat ada beberapa periodesasi gerakan pemuda. Mulai dari periode Kebangkitan Nasional 1908, Sumpah Pemuda 1928, Proklamasi 1945, Aksi Tritura 1966, Peristiwa Malari 1974 dan Aksi menuntut Reformasi 1998.

Namun dalam kesempatan ini saya sengaja mengambil sebagian contoh momentum besar kontribusi pemuda dalam mengaktualisasi lembaran sejarah keberjalanan bangsa Indonesia. Pertama peristiwa lahirnya organisasi kemasyarakatan pada taggal 20 Mei 1908 yang diberi nama Boedi Oetomo, yang di sebut sebagai era kebangkitan nasional. Kemudian berhimpunnya seluruh pemuda tanah air tatkala mendeklarasikan Sumpah Pemuda pada tanggal 28 Oktober 1928, yang menyatakan satu tanah air, satu bangsa dan satu bahasa; Indonesia. Terakhir peristiwa paling fenomenal ketika aksi mahasiswa melengserkan Soeharto setelah 32 tahun berkuasa, serta mengusung 6 tuntutan agenda reformasi: Adili Soeharto, keluarga dan kroninya; Berantas KKN; Tegakkan supremasi hukum; Cabut dwi fungsi ABRI; Otonomi daerah seluas-luasnya; dan Amandemen UUD 1945.

Dengan menengok sejarah perjuangan para pemuda dari tahun 1908 hingga tahun 1998, kita dapat merefleksi sekaligus bercermin dari semangat akan perubahan yang mereka lakukan. Bagaimana diawal kemerdekaan soekarno bersama para pejuang kemerdekaan lainnya, amat sangat aktif melakukan propaganda narasi kemerdekaan demi terwujudnya Indonesia yang merdeka dan berdaulat. Begitupun angkatan 1998 yang sangat lantang meneriakkan reformasi total kepada rezim orde baru.

Runtuhnya orba dan berganti ke reformasi telah menghantarkan indonesia memasuki babak baru. Dimana rakyat mulai menikmati kebebasan-kebebasan demokratis, hak menyatakan pikiran dan pendapat secara lisan juga tertulis, hak berkumpul, hak berserikat dan sebagainya. Namun seiring perputaran waktu, dunia terus bergerak dan berubah. Masyarakat, terutama pemuda dipaksa menerima kedatangan era globalisasi. Ya era kecanggihan berteknologi. Hal ini di tandai dengan perkembangan teknologi informasi yang sangat pesat, menyebabkan teknologi tidak dapat dipisahkan dalam segala aspek kehidupan masyarakat. Akibat arus globalisasi yang kian tak terkendali, membawa budaya barat masuk dengan sendirinya ke dalam negeri, dan berimplikasi mempengaruhi pola pikir dan perilaku kehidupan pemuda saat ini. Gaya hidup kebarat-baratan (hedonistik) sangat digandrungkan, mulai dari penampilan, pergaulan, berpakaian, makanan, clubbing, mabuk-mabukan, hura-hura, tontonan, idola dan sebagainya. Semua ala barat. Ironis!