email : oerban.com@gmail.com

24.5 C
Jambi City
Sabtu, Februari 27, 2021
- Advertisement -

Kencingi Saja Telaga Zam-Zam

Populer

swarnahttps://www.oerban.com
tulisan yang berkualitas akan menjadi lentera di gelapnya jalan kehidupan

Oleh : Hendri. Y *

Bul ‘ala zam-zam fatu’rof. Sebenarnya itu adalah pepatah Arab, yang artinya: kencingi telaga zam-zam maka kamu akan terkenal. Pepatah yang membuat setiap pelakunya akan terkenal, terkenal karena prilakunya berbeda dengan kebanyakan orang. Pepatah ini juga menjadi simbol komunikasi politik, sebab sang pelaku akan menjadi pusat pembicaraan, menjadi media darling, bahkan bisa menjadi pencipta trend akibat perbuatannya itu.

Bul ‘ala zam-zam fatu’rof, inti dari perbuatan ini adalah popularitas. Zaman dahulu untuk menjadi populis memerlukan sumberdaya, baik tenaga, materi dan tentunya kekuasaan. Hanya kalangan istana yang populis, hanya orang kaya yang terkenal, sehingga untuk menyaingi kepopuleran ini, diperlukan satu langkah besar yang mampu merobah sudut pandang masyarakat, itulah kenapa mengencingi sumur zam-zam adalah pilihan yang tepat.

Selain menjadi populis, upaya mengencingi sumur zam-zam tentu saja satu kenekatan, hanya yang bernyali besar saja melakukannya. Sebab siapapun tahu akibat yang ditimbulkan dari prilaku ini, dijatuhi hukuman, bisa saja hukuman mati.

Zaman sekarang untuk menjadi populer banyak caranya, bisa dengan modal besar atau tanpa modal sama sekali. Lihat kalangan influencer, mereka menjadi terkenal karena memanfaatkan media, online ataupun offline. Beragam kanal dapat dimanfaatkan untuk mempublikasi aktivitas, entah untuk koleksi pribadi atau juga sebagai lahan mencari sensasi. Kanal-kanal ini gratis, bahkan jika mampu menarik pendengar dan penonton, justru dibayar oleh pemilik kanal, sebut saja kanal youtube. Berapa banyak kini muncul youtuber baru, hampir setiap detik.

Bagi sebagian orang, menjadi populer satu kenikmatan yang tak bisa digantikan dengan apapun, sehingga mereka berusaha agar menjadi orang terkenal. Dari sekian itu, politisi adalah salah satunya. Para politisi rela menghamburkan uang agar terkenal. Apalagi memasuki tahun-tahun politik, prilakunya semakin menggila, sodok sana-sini, umbar senyum kemana-mana, bermuka manis dan yang tak kalah menggenaskan memasang foto yang dipermak agar terlihat muda, gagah ataupun cantik.

Politisi tidak lagi menjadi penyambung aspirasi, namun sibuk mencari sensasi agar tetap terkenal. Politisi seolah kehilangan ruhnya sebagai seorang politisi. Padahal sejatinya politisi membawa marwah politik, agar politik tetap terasa indah. Menurut Filsuf Habermas, politik merupakan ruang publik bagi segala aktifitas. Melibatkan siapapun melalui komunikasi yang saling terbuka. Maka, berpolitik berarti seni memberikan kontribusi dalam ruang publik.

Para politisi yang sibuk dengan popularitas tentu akan menghalangi dirinya untuk berinteraksi langsung dengan masyarakat, politisi seperti ini tidak akan pernah mengetahui apa yang sebenarnya menjadi kegelisahan masyarakat. Bukan soal keinginan dan kebutuhan, namun sesuatu yang membuat masyarakat menjadi gelisah.

Lihatlah, setelah pesta demokrasi lima tahunan, para politisi seolah hilang suaranya, hilang jejaknya, dan kemudian tiba-tiba muncul saat pemilu. Politisi seperti ini mungkin seperti seorang yang kecing di sumur zam-zam, setelahnya lupa untuk bersuci. Menjadi populer tidak ada yang melarang, namun akan lebih elegan apabila popularitas itu terjadi secara alami, tanpa grasak-grusuk, politisi yang populis akan dikejar oleh siapa saja, menjadi media darling namanya.

Kini semua akses terbuka, masyarakat akan mencari para politisi itu melalui berbagai saluran online, melakukan tracking kepada para politisi yang dulu mereka pilih. Oleh sebab itu, para politisi harus mampu memanfaat kanal digital agar diketahui kinerjanya.

Maka, tidak mesti mengencingi sumur zam-zam hanya sekedar untuk popularitas, tapi terkencinglah di toilet umum, agar tahu bahwa banyak sarana-sarana umum yang tidak layak pakai, oya…jangan lupa habis itu bayar untuk uang kebersihan.

Selamat istirahat para politisi, mimpilah yang indah.

Penulis CEO Oerbanesia

- Advertisement -
- Advertisement -

Artikel Lainnya

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -

Berita Terbaru