MENEROPONG KEBANGKITAN ISLAM ABAD 21

oleh

Oleh: Agus Mustawa
(Ketua KAMMI Komsat At Tahrir Universitas Jambi)

Sebagaimana di awal. Abad 21 didesain sebagai abad dunia Islam. Namun hampir 2 dekade menapaki abad 21, yang disebut sebagai abad kesejahteraan dan ekonomi, justru menjadi abad kekerasan dan perang. Dan tesis Samuel Huntington “Clash of Civilization” lebih valid di bandingkan tesis John Naisbitt “Megatrend 2000”.

Banyak dipahami, bahwa Indonesia dan Malaysia sebagai calon eksponen kebangkitan dunia Islam. Sebab memiliki populasi penduduk muslim terbesar di dunia. Bagi dunia Islam abad 21 di yakini sebagai abad transisi kekuasaan material ke kekuasaan moral.

Misteri 2030. Dalam hadits Rasulullah, secara garis besar dikatakan, bahwa: Setiap 100 tahun Allah akan bangkitkan umat ini.

Setelah ramai diskursus buku Ghost Fleet “Indonesia bubur 2030”. Justru pada tahun 2030 ada 2 hal yang menarik perhatian bagi penulis.

Pertama, secara global usia Al Ikhwan Al Muslimun sudah seratus tahun. Tentu menjelang itu, akan ada pembaharuan-pembaharuan agar relevan dengan kondisi zaman. Ibarat mencari rute baru yang lebih cepat dan singkat untuk sampai ke tujuan yg telah ditentukan di awal.

Kedua, di Indonesia sendiri pada tahun 2030 akan mencapai puncak bonus demografi. Sebuah keberkahan yang Allah SWT hadiahkan kepada Indonesia. Dan di masa ini juga umat Islam di Indonesia bisa berkumpul dalam jumlah besar ±8 juta orang melakukan aksi damai ataupun aksi kemanusiaan. Insya Allah dari 2 sinyal inilah modal akan kebangkitan umat Islam.

Lalu apa yg harus dilakukan?

Sebagai seorang muslim, penulis merasa konflik berlapis-lapis di tubuh umat Islam harus segera di akhiri. Mulai dari pertengkaran elit politik Islam, internal organisasi Islam, dan antar negara Islam. Bukan saja tidak produktif dan bertentangan dengan semangat muamalah, tapi juga akan mengundang intervensi dari pihak asing yang akan memperumit masalah.

Umat Islam hendaknya mengambil contoh bagaimana kemakmuran di Eropa, yang diawali dengan serius untuk “membunuh” nafsu berperang sesama negara Eropa setelah PD 1 dan PD 2. Supaya energi yang dimiliki umat Islam tidak terkuras oleh hal-hal tidak penting, sehingga bisa fokus dan diorientasikan kepada kesejahteraan umat dan kejayaan Islam di abad 21.