MENGAJARI TUHAN SOAL TOLERANSI

oleh -245 views

Oleh : KUSNAN SAYUTI*

Penutupan Munas Alim Ulama dan Konbes NU di ponpes Miftahul Huda Al-Azhar, Banjar, Jawa Barat jum’at(1/3) seperti dilansir detik.news merekomendasikan 5 hal penting. Salah satu rekomendasi tersebut adalah soal istilah kafir yang telah menjadi terminologi umum untuk menyebut orang di luar agama islam menjadi non-muslim dengan tujuan untuk menjaga keutuhan berbangsa dan bernegara, karena selama ini istilah kafir-menurut SAS selaku ketua umum PBNU- seringkali menimbulkan friksi di tengan masyarakat dan menimbulkan rasa saling curiga sehingga menganggu kerukunan berbangsa dan bernegara atau dalam Bahasa singkatnya mengganggu toleransi beragaman.
Rekomendasi ini bukan saja pada perubahan istilah yang di gunakan akan tetapi alasan perubahan tersebut tak pelak menjadi kontroversi di tengah masyarakat, ada yang mendukung dan ada yang menolak dengan tegas.
Bagian yang menolak jelas merujuk pada teks resmi firman Allah SWT. Yang menyebutkan bahwa orang yang berada di luar agama islam di sebut sebagai Kaafir dan telah di adopsi kedalam Bahasa Indonesia dengan tulisan berbeda namun pengucapannya sama. Merubahnya berarti juga merubah makna dan lebih-lebih masuk dalam kategori mendustakan firman Allah.

Bagian yang mendukung adalah mereka yang membawa tafsir baru soal agama dalam realitas publik berbangsa dan bernegara dan mengetengahkan sejarah- yang tentu juga atas tafisr mereka- berdarah yang di timbulkan oleh pemakaian kata kafir. Denny JA misalnya, bahwa dengan merubah kata kafir menjadi muslim berarti kita telah berani merubah arah sejarah yang kelam dalam berbangsa dan bernegara menjadi lebih baik lagi.

Sebagai orang yang ber iman, kafir itu adalah doktrin dari Tuhan, agama-agama samawi- agama yang di turunkan lewat wahyu- memiliki anasir yang sama atau kurang lebih menyerupai untuk menyebut ummat di luar mereka. Untuk beberapa kasus agama bumi-Agama yang timbul dari hasil perenungan/falsafah para pembawanya-akan sedikit berbeda,
Gagasan dari ulama-ulama PBNU itu bukanlah gagasan yang hanya berdiri di atas angina semata. Setiap gagasan besar pasti berangkat dari dua nilai, Historis atau Politis. Ide tersebut sebenarnya lebih pada melanjutkan proses sekularisasi dalam wilayah agama dalam tajuk besar sebagai proses desakralisasi, demitologisasi atau devaluasi atas apa saja yang bertentangan dengan nilai Tuhan itu sendiri. Proses ini adalah meletakan bagian yang sakral kembali kepada yang sacral dan yang provan kembali kepada yang provan. Sehingga perbincangan tentang doktrin-doktrin Tuhan bisa menjadi hangat di muka publik.

Ide atas dasar Sejarah (Sejarah Hubungan manusia dengan tuhan)

Agama di turunkan kepada ummat manusia adalah dalam rangka mencari sambung rasa yang terputus antara manusia dan Tuhannya, pola hubungan hamba dengan Tuhannya ini dapat di identifikasi dengan terminologi takwa. Hamba yang terbaik adalah hamba yang paling bertakwa terhadap Tuhan, demikian postulat dasar ketakwaan dalam Islam.
Menurut Nurcholis majid, dalam kehidupan sehari-hari Takwa sendiri mengandung arti “Sikap takut kepada Tuhan” atau sikap “Pasrah kepada Tuhan” melakukan semua apa yang di doktrinkan Tuhan dan menjauhi apa yang di larangnya (Ensiklopedia Nurcholis Majid,2011).