MENGAPA KITA TAKUT MENIKAH

oleh -101 views
Sumber : Gadisturatea.com

Memangnya disini siapa yang gak mau nikah? Coba istighfar dulu. Atau buat yang udah nikah, gak usah sok-sok ngeklik. Toh udah terjadi ya kan. Kecuali kalau kamu berpikir buat nikah lagi karena pernikahan kamu yang sekarang gak sesuai ekspektasi. Mohon maaf tulisan ini tidak bermaksud untuk provokasi. Segera luruskan niat, menikah itu bukan untuk sehari dua hari.

Berada di semester akhir membuat kita menjadi malas-malasan dan kepingin rebahan aja. Tapi, suara emak dan bapak di kampung seringkali memanggil-manggil bikin kita sedih. Belum lagi kalau ketemu adik tingkat ditanyain “kapan wisuda kak” katanya enteng. Wisuda, wisuda gundulmu! dikira nyari judul, bimbingan sama revisi itu kayak jalan tol apa ya, bebas hambatan. Lah ini kok curhat.
Berangkat dari keresahan tentang banyaknya surat undangan yang datang, obrolan yang panjang soal nikah-nikahan di grup WA sampai percakapan beberapa mahasiswa di parkiran yang memiliki topik yang sama; takut nikah, maka mari kita kaji apa yang sebenarnya membuat mereka takut memutuskan untuk menikah.

1. Belum Siap
Pernikahan memang bukan hal yang main-main. Hal ini berhubungan dengan proyeksi hidup masa depan. Orang-orang biasanya takut untuk memutuskan menikah karena alasan belum siap secara materi (gaji) yang belum mapan, mental/ psikologis (ga siap diatur-atur) dan fisik yang dinilai belum cukup umur. Dilansir dari tirto.id, pada tahun 2016 sebanyak 24,9 persen perempuan bahkan memilih untuk tidak menikah karena sebagian mereka merasa pernikahan tidak menarik dan menghambat karier. Hal ini juga berbanding lurus dengan angka kekerasan terhadap perempuan di Indonesia yang terus mengalami kenaikan khususnya dalam kasus rumah tangga.
Laki-laki juga tak kalah, kecenderungan takut menikah akan berdampak pada kemerdekaan dan berujung pada masalah tanggung jawab keuangan, membesarkan anak, mengasuh dan segudang permasalahan lainnya sehingga banyak kaum laki-laki yang takut untuk mengambil keputusan untuk menikah.

2. Pengalaman buruk
Kondisi yang tak boleh diabaikan adalah pengalaman buruk seseorang dalam keluarganya. Faktor ini meliputi perceraian orang tua, perselingkuhan dan lain-lain. Beberapa orang yang penulis temui dan berasal dari keluarga yang demikian memiliki trauma mendalam dan menyatakan bahwa ia takut untuk menikah. Perlu pendekatan psikologis yang mendalam bagi kamu yang ingin menikahi orang-orang yang berasal dari keluarga yang demikian.

3. Belum ada pasangan
Faktor ketiga ini adalah hal yang wajar jika kamu takut menikah. Menikah merupakan keadaan penyatuan manusia laki-laki dan perempuan sesuai aturan agama dan negara. Jika kamu sendirian, lalu kamu tiba-tiba ingin minta dinikahkan maka lebih baik kamu periksakan dahulu diri kamu di rumah sakit khusus kejiwaan atau alternatifnya, kamu minta carikan orang-orang terdekat untuk mencarikan laki-laki atau perempuan sebagai pasangan hidup kamu. Nggak perlu malu, Mohammad Hatta aja dapat istri lewat Sukarno, memangnya kamu siapa? Yang penting kamu gak grepe-grepe orang sembarangan apalagi orang itu sudah milik orang lain.

4. Aturan
Belum hilang adat/kebiasaan masyarakat kita yang menghambur-hamburkan uang atau menjadikan pernikahan sebagai ajang gaya-gayahan dengan organ tunggal, baju samaan, dan mahar yang tinggi sudah muncul lagi aturan untuk sertifikasi nikah. Dalam aturan tersebut, setiap pasangan yang akan menikah diharuskan mengikuti bimbingan pranikah selama tiga bulan. Bukan main, jika tak lulus maka tak dapat sertifikat dan tidak diperkenankan menikah, sungguh menyesakkan dada. Sabar yah.

5. Penyakit
Terakhir adalah kondisi yang paling sulit. Dalam perkembangannya ada penyakit bernama Gamophobia. Hal ini berkaitan dengan ketakutan irrasional seseorang untuk membuat komitmen berumah tangga. Penyakit ini bisa menyerang laki-laki dan perempuan. Orang dengan Gamophobia bisa depresi memikirkan pernikahan. Gejalanya juga dapat dikenali melalui penghindaran pembicaraan tentang pernikahan, agresif menyerang topik mengenai pernikahan, panik, gemetaran, menangis, detak jantung cepat, kesulitan bernafas, mual dan muntah, pusing, pingsan jika berkaitan dengan pernikahan meskipun hanya membicarakan atau melihat pernikahan orang lain.

Beberapa sebab diatas tidak termasuk kondisi kamu yang menyerah dari skripsi dan memilih untuk menikah saja. Jika menyelesaikan skripsi saja tak bisa, lalu bagaimana mau menyelesaikan permasalahan rumah tangga yang kelak akan menggunung itu. Jadi, selesaikanlah skripsi jangan banyak alasan lagi. Menikahlah dengan waktu yang tepat karena mnyempurnakan setengah agama juga membutuhkan kondisi psikologis dan ilmu yang cukup.

Penulis : Novita Sari, Mahasiswa Sastra Indonesia Universitas Jambi
Editor : Siti Saira. H