email : oerban.com@gmail.com

23.9 C
Jambi City
Selasa, Agustus 9, 2022
- Advertisement -

MISTERI KEBERADAAN UHANG PANDAK DI KERINCI

Populer

renilda pratiwi yolandinihttps://www.oerban.com
Renilda Pratiwi Yolandini merupakan FinMartEd (Finansial, Marketing, dan Editor) di Oerbanesia. sedang menempuh pendidikan di FKIP UNJA (S1) dan mulai tergabung di Oerbanesia pada tahun 2018.

Kerinci, Oerban.com – Suku orang pendek diyakini suku asli di pulau Indonesia sebelum datangnya suku-suku baru yang datang ke pulau Sumatera, suku-suku berperawak pendek ini termasuk suku proto melayu atau melayu tua yang telah ada di pulau sumatera sejak 3000 tahun sebelum masehi.

Manusia kerdil yang berada di gunung kerinci atau sering di sebut dengan sebutan uhang pandak merupakan misteri sejarah alam terbesar di asia. Keberadaan mereka ini, telah memancing ahli binatang (zoologi) untuk mendaftarkan laporan kera misterius ini. Konon pada zaman dahulu, makhluk ini bisa ditangkap masyarakat dengan menyiapkan sebuah perangkap.
Sampai saat ini makhluk di gunung Kerinci yang dikenal sebagai uhang pandak memiliki variasi yang membingungkan dari nama dialek setempat. Sebagai budayawan dan tokoh masyarakat iskandar adalah warga asli Kerinci yang mempercayai keberadaan uhang pandak, ia bahkan mengaku pernah bertemu makhluk ini. Sampai sekarang pun masih belum terintifikasi oleh ilmuan.walaupun tak banyak yang melihat mereka, kemeradaan makhluk satu ini sampai sekarang masih teka-teki. Tidak ada yang tau pasti kebenaran uhang pandak ini.

Baca juga  Detik-detik Mahasiswa Jambi Bakar Tangan Tolak Kedatangan Jokowi

Cerita mengenai orang pandak pertama kali ditemukan dalam catatan penjelajah gambar jejak, Marco Polo 1292, saat ia berpetualang ke Asia. Walaupun diyakini penduduk setempat, makhluk ini dipandang hanya sebagai mitos belaka oleh para ilmuan.

Sejauh ini, para saksi yang pernah melihat langsung uhang pandak tersebut menggambarkan tubuh fisiknya sebagai makhluk yang berjalan tegap, tinggi sekitar satu meter (diantara 85cm hingga 130cm) dan memiliki banyak bulu diseluruh badannya. Bahkan tak sedikit pula yang menggambarkannya dengan membawa berbagai macam peralatan berburu, seperti tombak kayu. Bahkan ada pula orang-orang yang percaya bahwa uhang pandak memiliki kaki terbalik kebelakang, meski demikian ia mampu bergerak lincah di antara lebatnya hutan.

Baca juga  Memimpin Jambi di Era Pandemi, Haris-Sani Bisa Apa?

 

Banyak yang mencoba mencari keberadaan orang pandak, seperti Delly Sandradiputra, ia melakukan pencarian uhang pandak sejak tahun 2008 dan mulai rutin menjalankannya sejak 2012. Namun upaya perburuan sejauh ini belum berhasil. Belum sekali pun dia melihat uhang pandak meski sudah melusuri kawasan yang diyakini sebagai lokasi kemunculan uhang pandak.

Tak semua penduduk di sana percaya dengan cerita ini, sebagian menganggapnya hanya sebuah dongeng. Warga di sekitar kerinci terbelah antara percaya dan tidak terhadap keberadaann makhluk ini. Menurut usansudin cerita-cerita pertemuan itu biasanya terjadi tanpa disengaja. Selama ratusan tahun sosok uhang pandak telah membuat penasarann penjelajah, ilmuan maupun peneliti. Berbagai ekspedisi dilakukan untuk melacak sosok misterius ini.
Tidak pernah ada laporan yang mengabarkan bahwa pernah menangkap atauu menemukan jasat makhluk ini, namun hal ini berbanding terbalik dengan banyaknya laporan dari beberapa orang yang mengatakan pernah melihat makhluk tersebut.

Baca juga  Drone Turki Makin Menggila, Terbang 24 Jam diatas 60 ribu Kaki

Orang pendek ini termasuk dalam salah satu study crypozoologi, ekspedisi pencarian orang pendek sudah beberapa kali dilakukan di kawasan kerinci, salah satunya ekspedisi yang didanai oleh nasional geographic society.
Ada sebuah kisah mengenai keputuasaan para suku anak dalam yang mencoba mencari tahu indentiti dari makhluk-makhluk ini, mereka hendak menangkapnya, namun selalu gagal. Awal tahun 1900, dimana saat itu Indonesia masih merupakan jajahan belanda, tak sedikit pula laporan datang dari para warga asing. Namun yang paling terkenal adalah kesaksian Mr. van heerwarden di tahun 1923. Pada sebuah catatan ia menuliskan menngenai pertemuannya dengan beberapa makhluk gelap dengan banyak bulu di badan. Tinggi mereka digambarkan setinggi anak kecil berusia 3-4 tahun, namun dengan bentuk wajah yang lebih tua dan rambut hitam sebahu. Van heerwarden sadar, mereka bukan sejenis siamang ataupun primate lainnya. Ia tahu makhluk-makhliuk itu menyadari keberadaan dirinya saat itu, sehingga mereka berlari menghindar.

Baca juga  ZUMI ZOLA TERIMA ALPHARD DARI PENGUSAHA KONTRAKTOR

Peneliti mengetahui bahwa setiap saksi mata yang berhasil mereka temui mengatakan, lebih mempercayai orang pendek sebagai seekor binatang. Terlepas dari benar tidaknya mereka adalah bagian dari makhluk halus, binatang ataupun ras manusia yang berbeda.

 

Penulis: Paizah

Editor: Renilda PY

- Advertisement -
- Advertisement -

Artikel Lainnya

- Advertisement -

Berita Terbaru