POLITIK STANDAR GANDA

oleh
ilustrasi

Oleh: Erizal

Sohibul Iman bikin ulah. Keluar nyaris tak dapat berbuat banyak, ke dalam, malah seperti menerapkan politik standar ganda. Diteriakkin huuuu oleh para legislator PKS seluruh Indonesia, ia bersembunyi di balik jubah Ketua Majelis Syuro Salim Segaf Al-Jufri, tanpa merasa canggung.

Kini tak ada petir, tak ada badai, ia menabur angin sendirian. Di saat Salim Segaf Al-Jufri berusaha keras mencari banyak solusi atas banyak persoalan, ia tanpa ragu-ragu menyerang Fahri Hamzah di muka umum sebagai pembohong dan pembangkang. Padahal ia tak tahu persoalan itu.

Sering dikatakan bahwa persoalan Fahri Hamzah berawal dari pembicaraan pribadi antara Salim Segaf Al-Jufri dan Fahri Hamzah. Sohibul Iman tak ada di situ. Ia tak langsung mendengar, melihat, atau mengalami peristiwa itu. Tapi, pernyataannya kok terlalu dalam, seperti mengalami?

Mungkin saja, ia mendengar langsung pernyataan itu dari Salim Segaf Al-Jufri, tapi ia tak pantas menyatakan itu di muka umum dengan penuh keyakinan, seolah-olah mendengar, melihat, atau mengalami peristiwa itu. Sebab, Salim Segaf Al-Jufri sendiri, belum pernah menyatakan itu di muka umum.

Apalagi, persoalan ini sudah berlangsung dua tahun. Malah, situasi seperti sudah berbalik. Apa yang dituduhkan sejak awal kepada Fahri Hamzah, satu per satu lepas dengan sendirinya. Di muka umum, malah secara hukum, ia lebih kuat. Hari demi hari, ia makin eksis bukan tenggelam.

Betul, Fahri Hamzah sudah dipecat dan mungkin tak akan berubah lagi sampai kapan pun. PKS yakin betul terhadap pemecatannya. Dan tak betul juga, ada usaha dari Ketua Majelis Syuro, mencari solusi atas pemecatan ini. Tapi, ‘kan masih ada proses hukum yang memenangkan Fahri?