“PUASA RAMADHAN”

by
sumber photo : hellosehat.com

Oleh : ILKIYAFADLIYATI

Dilihat dari sejarah, ibadah puasa tidak hanya dilakukan umat Nabi Muhammad SAW, tapi juga dilakukan oleh umat Nabi-nabi sebelum beliau sebagaimana yang dikatakan oleh Abu Hayyan salah seorang ahli tafsir, bahwa kewajiban berpuasa sudah ada sejak Nabi Adam sampai sekarang. Nabi Adam berpuasa selama tiga hari setiap bulan sepanjang tahun. Pendapat lain mengatakan bahwa Nabi Adam berpuasa pada tahun sepuluh Muharam sebagai rasa syukur bertemu dengan istrinya, Hawa. Nabi Nuh berpuasa 3 hari setiap bulan sepanjang tahun dan memerintahkan kaumnya untuk menyembah Allah serta berpuasa ketika mereka berbulan-bulan hidup terkatung-katung didalam perahu di tengah samudra luas akibat bencana topan. Dan masih banyak Nabi-Nabi yang melaksanakan ibadah puasa.

Makna puasa
Menurut Ibnu Manzur dalam Lisan al-arab berasal dari pola kata sama-yasumu yang secara harfiah berarti menahan dari sesuatu atau meninggalkan, baik itu menahan dari makan, berbicara, atau berjalan. Maka, secara bahasa, orang yang diam atau tidak berbicara, atau tidak berbicara bisa dikatakan sebagai orang yang berpuasa.

Menurut Ibn Faris dalam mu’jam al-Muqayyis al-lughoh kata saum juga bermakna diam di suatu tempat dan keadaan tertentu. Dalam karya Ibnu Manzur dalam lisanul arab juga shaum berarti menahan diri untuk tidak makan, minum, menikah (melakukan hubungan suami istri), dan berbicara.

Menurut Al-Qurtubi puasa merupakan suatu ibadah yang berupa menahan diri dari makan, minum, berhubungan suami-istri, dan hal-hal yang lain yang dapat membatalkan ibadah puasa (disertai dengan niat) dari terbit fajar sampai terbenamnya matahari. Selaras dengan Amin al-Khulli, sebagaimana dalam bukunya min hadyi al-Qur’an fi ramadhan, puasa merupakan proses menahan diri dari segala hawa nafsu, keinginan yang berlebihan, pikiran-pikiran yang buruk, dan hal-hal yang dapat merusak jiwa dan diri manusia.

Dengan demikian ibadah puasa juga sebagai latihan untuk memperbaiki diri menuju derajat individu dan masyarakat lebih baik. Latihan tersebut tentu tidak mudah dilakukan pada waktu-waktu yang lain (selain bulan ramadhan) banyak hal yang menjadi sebab ketidakmampuan melakukannya selain pada bulan puasa seperti lalai, lemah, atau tidak bisa menjaganya. Namun saat bulan puasa kita diberi kemudahan untuk mendidik jiwa raga kita dibulan Ramadhan dengan berpuasa sebulan, hal itu bisa kita lakukan karena kita melaksanakannya bersama-sama. Maka tidak heran jika bulan ramadhan disebut sebagai musim latihan tahunan.

Puasa merupakan bagian dari latihan atau madrasah untuk memperbaiki diri, sedangkan lapar orang yang berpuasa itu merupakan salah satu bagian dari upaya untuk menyeimbangkan diri dari berbagai hal. Apabila latihan penyeimbangan diri ini dapat terealisasikan secara menyeluruh dalam berbagai keinginan manusiawi, maka akan terbentuk pribadi yang bertakwa, sebagaimana yang diharapkan dari pelaksanaan ibadah puasa dalam (Qs. Albaqarah :183)”Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa“.

Ayat tersebut secara garis besar membicarakan mengenai kewajiban berpuasa bagi orang-orang yang beriman. Dengan kewajiban tersebut, orang-orang beriman diharapkankan menjadi orang-orang yang bertakwa.