RANGKAP JABATAN DAN OPTIMALISASI KINERJA

oleh -69 views
Sumber gambar: Humas KAMMI Al Mizan

Jambi, Oerban.com – Hal yang masih sering kita temui di dalam suatu birokrasi adalah orang yang memegang 2 amanah sekaligus dalam satu waktu. Ada beberapa hal yang menyebabkan itu masih terus terjadi, bahkan sampai saat ini. Kali ini kita tidak akan terlalu memfokuskan tentang penyebab terjadinya, tapi akan lebih mengarah kepada efek samping yang akan terjadi.

Mengenai efek samping, jangankan rangkap jabatan, obat yang bertujuan untuk menyembuhkan suatu penyakit pun punya efek samping tersendiri. Terlalu sering meminum obat akan menyebabkan ginjal manusia melemah, bahkan bisa tak berfungsi lagi atau lebih dikenal dengan “Gagal Ginjal”. Begitu pun juga meminum obat dengan takaran yang berlebih, akan menyebabkan overdosis.

Seorang manusia pasti punya batasan tersendiri, karena itulah kita disebut manusia. Saya tidak bisa mengatakan bahwa merangkap jabatan adalah suatu hal yang salah, tapi rasanya kurang baik jika hal itu terus dibiarkan terjadi. Selain dari memberatkan si pemegang jabatan, efeknya juga akan dirasakan oleh orang-orang yang bekerja satu tempat dengan nya.

Prioritas adalah salah satu kunci sukses, termasuk juga dalam membangun sebuah gerakan. Orang yang punya 2 amanah sekaligus tidak akan bisa memaksimalkan prioritasnya atau mungkin tidak punya prioritas sama sekali, bukan tidak mungkin ada 2 panggilan dalam satu waktu, dan ketika hal itu terjadi, mana yang harus di pilih? Kalau datang kepada A, bukankah juga punya tanggungjawab di B. Begitu pun sebaliknya.

Jangan pernah mempermainkan sebuah amanah seperti itu, karena kelak kita akan di mintai pertanggungjawaban di hadapan Allah. Bersungguh-sungguhlah dalam menjalankan amanah sejak hari ini, karena jika tidak, Allah akan gantikan kamu dengan kaum yang lain, dan mereka tidak akan seperti kamu, yang bermain-main dengan amanah. “Dan, jika kamu berpaling niscaya Allah akan mengganti(mu) dengan kaum yang lain, dan mereka tidak akan seperti kamu (ini).” (Muhammad: 38).

Sekali lagi saya tegaskan bahwa saya tidak menyalahkan dan tidak melarang hal itu terjadi. Karena memang ada beberapa kampus yang lembaga dakwahnya kekurangan SDM, kurangnya SDM adalah bukti kegagalan dari lembaga dakwah itu sendiri. Mungkin saja kegagalan itu karena kader-kadernya dipaksakan untuk mengemban amanah lebih, sehingga kinerjanya kurang maksimal.

Penulis: Zuandanu Pramana P
Editor: Renilda Pratiwi Yolandini