email : oerban.com@gmail.com

26.8 C
Jambi City
Thursday, April 16, 2026
- Advertisement -

UPT Kementan Adopsi Budidaya Padi Apung untuk Dikembangkan di Wilayah Kerjanya

Populer

Muaro Jambi, Oerban.com – Padi apung adalah inovasi pertanian yang memungkinkan petani menanam padi di lahan rawa yang tergenang air, seperti di Kalimantan Selatan. Teknologi ini memungkinkan pemanfaatan lahan rawa yang sebelumnya tidak produktif menjadi lahan pertanian yang potensial. Selain itu, padi apung juga membantu meningkatkan ketahanan pangan dan kesejahteraan petani.

Padi apung menggunakan media tanam terapung, seperti rakit dari bambu atau styrofoam, yang memungkinkan tanaman padi tumbuh di atas air. Metode ini cocok untuk lahan pasang surut dan daerah rawan banjir, sehingga petani tidak perlu khawatir tanaman padi akan terendam.

Sejalan dengan tujuan tersebut, Balai Pelatihan Pertanian (Bapeltan) Jambi selaku UPT Kementan melakukan uji coba inovasi tersebut yang dilaksanakan langsung di lahan Bapeltan Jambi. Kegiatan tanam ini bertepatan dengan kunjungan Sekretaris Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP), Siti Munifah.

Baca juga  Sambut Ramadan 2026, Balai Pelatihan (Bapeltan) Jambi Gelar Sosialisasi Mekanisme Kerja di Bulan Ramadhan Bagi ASN PPPK

Sekretaris Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian, Siti Munifah, pada kesempatan tersebut menekankan perlunya persiapan dan mencetak Sumber Daya Manusia (SDM) pertanian yang unggul guna mendukung pertanian yang mandiri dan modern.

“Kita perlu menyiapkan SDM Pertanian yang unggul guna mendukung pertanian yang mandiri,” ujarnya.

Sebagai upaya adaptasi terhadap risiko perubahan iklim, diperlukan suatu inovasi, salah satunya adalah padi apung. Budidaya padi apung merupakan teknik budidaya padi yang menggunakan rakit sebagai media tanam.

Baca juga  AGRICULTURE OPERATION ROOM (AOR) MILIK BAPELTAN JAMBI SEGERA DIRESMIKAN : INI MENDUKUNG PENUH PROGRAM KEMENTERIAN PERTANIAN

Metode tanam yang dipergunakan adalah metode SRI (System of Rice Intensification). Hasil analisis nilai R/C ratio total budidaya padi apung mencapai 2,03. Oleh karena itu, padi apung cukup menguntungkan dan berprospek bagus untuk dikembangkan di lahan banjir tahunan.

Selain itu, padi apung menunjukkan pendapatan dan hasil produktivitas yang lebih tinggi daripada usahatani padi konvensional. Apabila padi apung dikembangkan di lokasi lahan rawan banjir, maka akan terjadi peningkatan hasil produksi dan pendapatan bagi para petani.

Agar budidaya padi apung dapat dikembangkan lebih luas, diperlukan peran serta pemerintah dalam upaya pengembangannya dan perlu penelitian lebih lanjut tentang model rakit yang lebih murah dan tahan lama, media tanam yang baik, serta perawatan dan pemeliharaan guna meningkatkan produktivitas padi apung.

Baca juga  Didaulat Menjadi Dosen Praktisi, Widyaiswara Bapeltan Jambi Terus Regenerasi Petani

Budidaya padi apung merupakan salah satu upaya adaptasi terhadap perubahan iklim yang dikembangkan oleh Ikatan Petani Pengendali Hama Terpadu Indonesia (IPPHTI) dan Center for Climate Risk and Opportunities Management (CCROM) IPB Bogor. Budidaya tersebut pertama kali dilakukan pada bulan Desember 2011 di Desa Pamotan dan Rawa Apu (Purnamawati, 2013).

Pada teknik ini, rakit berfungsi sebagai penahan agar tanaman tidak rubuh ketika terkena angin dan tidak tenggelam di lahan yang terkena banjir. Rakit yang dipergunakan terbuat dari bambu agar mudah terapung. Bagian tengah rakit menggunakan bambu yang dibelah dua dan disusun seperti pagar, kemudian diisi dengan limbah jerami dan sabut kelapa yang dicampur kompos organik. Sedangkan bagian atas rakit ditutup dengan jaring. Rakit media padi apung dapat digunakan hingga 6 kali musim tanam (3 tahun).

Penulis: Wafi Mazdan

Baca juga  Lewat Pelatihan BPPSDMP Kementan, Tumbuhkan Semangat Kewirausahaan Bidang Pertanian
- Advertisement -

Artikel Lainnya

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -spot_img

Berita Terbaru