Muaro Jambi, Oerban.com — Pondok Pesantren Tahfidz Entrepreneur Cinta Quran Sungai Gelam menghadirkan warna baru dalam dunia pendidikan Islam. Sejak dirintis pada tahun 2020 di atas lahan wakaf, pondok ini mengusung konsep perpaduan antara pendidikan tahfidzul Quran, ilmu syar’i, dan pembinaan jiwa wirausaha.
Menurut pengasuh pondok, Abah Ahmad Budiman, S.Pd, meskipun secara fisik pembangunan dimulai tahun 2020, kegiatan mengaji dan belajar di lingkungan pesantren ini sudah berlangsung sejak 2017 melalui TPQ anak-anak setempat.
“Kini, alhamdulillah, di tahun 2025 kita telah memiliki jenjang pendidikan formal SMP dan SMA dengan ijazah nasional yang diakui di perguruan tinggi,” ujar beliau pada Sabtu(12/4/2025).
Berbeda dengan pesantren pada umumnya, pondok ini menitikberatkan pada pembentukan pribadi santri yang mandiri dan produktif.
“Kami ingin santri tidak hanya kuat dalam hafalan Quran dan ilmu agama, tapi juga punya skill kewirausahaan sejak dini. Ini meneladani Rasulullah SAW yang sudah berdagang sejak usia 12 tahun,” tambah Abah Ahmad.

Bunda Ummi Hayati, S.Pd, selaku pengasuh santri putri, menjelaskan bahwa salah satu tujuan utama pengembangan entrepreneur adalah sebagai ruang ekspresi dan penguatan mental bagi para santri putri.
“Awalnya, banyak yang galau atau bingung waktu luang. Maka kita isi dengan kegiatan positif seperti menjahit, cooking class, hingga beternak ikan,” terang beliau.

Saat ini, santri putri sudah mandiri mengelola kolam ikan lele. Setiap dua orang santri bertanggung jawab atas satu kolam pribadi. Hasil panen dimanfaatkan untuk pesantren dan disimpan sebagai investasi pribadi santri yang bisa mereka gunakan untuk modal kuliah kelak.
“Dari awalnya 500 ekor, sekarang sudah 1000 ekor per kolam. Ini jadi tabungan masa depan,” katanya.
Selain perikanan, pondok juga mengembangkan peternakan bebek, kambing, hingga sapi. Terdapat pula jasa aqiqah, fidyah, dan penjualan madu hasil peternakan lebah sendiri, serta toko herbal yang dikelola oleh santri pengabdian.

“Harapan kami, para santri tumbuh menjadi pribadi tangguh yang siap menghadapi tantangan zaman. Mereka bisa berdakwah sekaligus mandiri secara ekonomi. Ini bukan hanya tentang pendidikan, tapi membentuk generasi yang siap memberi manfaat luas bagi umat,” tutup Abah Ahmad.
Editor: Julisa

