BAHASA PRESENTER TELEVISI

oleh
animasi presebter tivi
Isolated tv presenter giving interview to many journalists on white background. Journalist or reporter on television or radio.

Oleh : Lidzi Hijrin

Sebagai pendengar dan penyimak apakah anda pernah memperhatikan bagaimana bahasa yang digunakan oleh presenter televisi? Apakah anda hanya menikmati saja informasi yang berikan? Sangat disayangkan kalau kita hanya menikmatinya saja tanpa tau apa yang dilakukan oleh presenter itu.

Kalau kita lihat dan perhatikan secara seksama, rata-rata zaman sekarang bahasa asing seperti bahasa inggris sudah sering digunakan baik di bidang akademis maupun media. Banyaknya tempat-tempat yang menggunakan bahasa inggris daripada bahasa Indonesia. Pertanyaannya kenapa dengan bahasa Indonesia? Kenapa tidak diagungkan padahal itu adalah bahasa nasional kita, lambang Negara kita “Berbahasa yang satu, bahasa Indonesia”.

Seperti hal nya dengan bahasa presenter televisi, penggunaan bahasa yang sering kali terjadi kesalahan ataupun kekeliruan berupa plesetan kata ataupun pengaruh bahasa lainnya seperti bahasa asing, bahasa ibu dan bahasa kebiasaan. Hal-hal tersebut bisa mempengaruhi artikulasi dalam bertutur dan membuat bahasa tersebut tidak jelas. Selain itu banyak presenter-presenter nakal yang seenaknya menggunakan bahasa dalam penyampaian informasi kepada publik.

Presenter nakal menggunakan bahasa Indonesia yang tidak sesuai dengan kaidah bahasa itu sendiri. Baik itu dalam penggunaan afiks dan prefiks maupun pelafalan kalimat. Menutur ataupun menulis suatu informasi juga sering keliru. Saya kira kita perlu ketahui bahwa bahasa seorang presenter itu merupakan bahasa komunikasi massa yang fungsinya sebagai informasi kepada publik atau bisa juga dikatakan bahasa komunikasi.

Seperti yang dikemukakan oleh A.M Dewabrata bahwa “ragam bahasa Indonesia bagi wartawan dalam tulisan berita, merujuk kepada pengertian umum yang membedakannya dengan bahasa lainnya dan dibedakan dalam bentuk kalimat, klausa, frasa, diksi atau kata-kata”.

Apa jadinya jika dimasa depan nanti bahasa Indonesia tidak diacuhkan lagi, dengan kata lain bagaimana penggunaan bahasa Indonesia nanti, kalau dari sekarang kita tidak memperbaiki kesalahan-kesalahan tersebut. Penggunaan bahasa yang sering terjadi kesalahan dan kekeliruan pada presenter televisi harus diperbaiki. Biar bagaimanapun bahasa adalah salah satu identitas kita sebagai warga Negara Indonesia bukan.

Lalu apa saja kesalahan yang dilakukan oleh presenter televisi? Pada beberapa siaran televisi ternama yang melakukan kesalahan dalam penyampaian bahasa. Disini saya berikan saja contoh kesalahan yang di ucapkan oleh seorang presenter di siaran televisi. Kesalahan berupa fonem vocal /ê/menjadi /a/ pada kata (ênam) yang dilafalkan menjadi (anam), contoh lainnya kata (antrêan) menjadi (antrian). Kesalahan bahasa yang membentuk gabungan atau gugus konsonan seperti kata /s/ menjadi /sy/ pada kata (isu) menjadi (isyu).

Selain itu kesalahan pada pengucapan seperti angin menjadi anjing, salah sebut no. irut capres, penyebutan metro TV menjadi metro mini, palestina disebut Israel pada ucapan terima kasih untuk Indonesia, dan banyak lagi kesalahan yang lainnya. Selanjutnya penulisan juga menjadi tolak ukur kita dalam penggunaan bahasa pada berita di televisi seperti kata kerioyok yang seharusnya adalah di keroyok, penulisan terkam yang seharusnya terekam, lalu ada kesalahan penulisan pada kata diangkap yang seharusnya adalah ditangkap, lalu pada kalimat empat pesawat tewas di dalam pesawat ini seharusnya empat penumpang tewas dalam pesawat, idul fitri jatuh pada rabu 6 juli 2019, ketinggian tsunami 10 cm yang seharusnya 10 meter, ibu kota dikepung Jakarta yang seharusnya ibu kota dikepung banjir, badai pasar yang seharusnya adalah badai pasir, sopir dan truk tewas ditempat (truk pun bisa tewas?), dua pasangan kembar sangat gembira terima jenazah seharusnya ijazah, dan masih banyak lagi kesahan berbahasa pada repoter, presenter dan penulisan dalam berita di televise.

Nah, bagaimana menurut kalian, apakah bahasa Indonesia tidak penting lagi untuk kita perjuangkan? Apakah sumpah pemuda yang ketiga tersebut hanya di koar-koarkan saja pada setiap tanggal 28 Okbober? Dimana rasa cinta kita pada tanah air Indonesia ini. Kalau kita tidak peduli dengan identitas kita sendiri. Mengagung-agungkan bahasa asing, bahasa Negara lalin. Sedangkan bahasa kita sendiri sering keliru dan banyak kesalahan dalam penggunaannya. Bagaimana dengan 10 tahun kedepan, apakah bahasa Indonesia masih menjadi bahasa nomor satu di Indonesia? Ataukah hanya tinggal puing-puing sejarah saja?

Jika begitu adanya, berarti kita tidak mampu mewujudkan futuristik sumpah pemuda 1928 tersebut. Selain itu kalau dipikir-pikir alangkah sia-sianya kita belajar bahasa Indonesia mulai dari sekolah dasar sampai perguruan tinggi, namun anggapan kita bahasa Indonesia hanyalah alat komunikasi biasa. Padahal sejak tahun 1972 Pembinaan Bahasa telah menetapkan empat fungsi bahasa Indonesia (1) sebagai persatuan, (2) pemberi kekhasan, (3) pembawa kewibawaan, dan (4) kerangka acuan. Sayangnya fungsi kewibawaan dan fungsi kerangka acuan telah jauh dari harapan.

Dan yang harus kita ingat adalah tanamkan rasa cinta tanah air, bangsa, bahasa dan Negara dalam diri kita. Junjung tinggi bahasa persatuan bahasa Indonesia, bahasa yang satu. Pahami dengan baik bahasa Indonesia sesuai dengan kaidah-kaidah penulisannya dan sesuai dengan ilmu yang mengkajinya.