BENCANA PALESTINA DAN BAGAIMANA DUNIA MENYIKAPINYA

oleh -110 views
Penulis, Kusnan Sayuti

Sejarah Berdirinya Negara Israel di atas bumi Palestina

Oerban.com – Berdirinya negara Israel tidak bisa lepas dari terbentuknya UNSCOP pada tahun 1947, yakni komite khusus yang di bentuk PBB untuk menangani masalah Palestina. Komite ini beranggotakan 11 Negara yang ke semua negara tersebut tidak memiliki kepentingan tertentu di Palestina kecuali Iran. Anggota Komite tersebut adalah : Australia, Kanada, Cekoslovakia, Guatemala, India, Iran, Belada, Peru, Swedia, Uruguay dan Yugoslavia.

UNSCOP di bentuk atas desakan Menteri Luar negeri Inggris Ernest Bevin, dikarenakan secara defacto Inggris sudah sangat lelah menghadapi perang dunia II dan mengalami kerugian besar secara materi dan moral prajurit. Setelah PD II, Inggris tidak memiliki sumber daya dan tekad untuk tetap bertahan di Bumi Palestina.

Sebagaimana di ketahui bahwa Inggris harus menghadapi perang terbuka dengan kaum ekstremis Yahudi di Palestina, karena pada tahun 1939 Inggris menerbitkan Buku Putih yang memberlakukan pembatasan ketat jumlah imigran Yahudi dan menyerukan kemerdekaan Palestina di bawah kekuasaan Mayoritas ARAB. Buku putih tersebut kontan menyulut amarah para pemimpin zionis. “ Tidak ada lagi gencatan senjata antra Bangsa Yahudi dan pemerintahan Inggris di Tanah Israel yang telah menyerahkan saudara-saudara kita kepada Hitler” Demikian perintah perang dari ekstremis Yahudi di Palestina (Eugene Rogans dalam The Arabs History, 2001; 355).

Saat Delegasi UNSCOP melakukan Investigasi, kekerasan antara Yahudi dan Inggris semakin meningkat. Ekstremist Yahudi menyandera dua orang tentara Inggris dan menggantung ke duanya dengan menyematkan tuduhan sebagai “Mata-mata Inggris” yang telah melakukan kegiatan kriminal anti yahudi.

Penggantungan ke dua prajurit tersebut menjadi alat propaganda yang sangat ampuh oleh kaum Yahudi sehingga memicu gelombang anti protes yang sangat besar di Inggris dan Skotlandia, lebih dari 300 Properti yahudi di serang dan slogan-slogan rasisme “Gantung semua orang yahudi” menggema di sediap sudut kota Inggris.

Situasi tersebut di atas mampu membuat para delegasi UNSCOP tersudut pada dilemma dan situasi yang sangat rumit, sehingga para delegasi dengan suara bulat menyerukan akhir mandat Inggris dan merekomendasikan pembagian palestina menjadi negara Yahudi dan Arab dengan suara 8 berbanding 3. Hanya India, Iran dan Yugoslavia yang menentang pembagian karena lebih memilih negara kesatuan federal Palestina.

Laporan UNSCOP kemudian di sampaikan ke Majelis Umum PBB berupa apa yang di sebut sebagai Resolusi Partisi. Resolusi ini akan membagi Palestina menjadi enam wilayah yang terkotak-kotak, Tiga wilayah untuk Arab dan Tiga wilayah untuk Yahudi, dengan Yerusalem di bawah perwalian Internasional. Rencana itu mengalokasikan sekitar 55 persen daerah Palestina ke negara Yahudi, termasuk Galilea di timur laut negara itu, serta garis pantai Laut Tengah yang stretegis dari Haifa sampai Jaffa dan Gurun Arabah sampai ke Teluk Aqabah.

Para Aktivis Zionis dengan gigih melobi PBB dan Zionis Amerika memerankan peranan penting dalam hal ini. Dalam memoar yang di tulis Presiden Amerika Harry Truman menuturkan bahwa “ Tidak pernah mendapatkan tekanan dan propaganda sedemikian besarnya yang di tujukan pada Gedung Putih seperti yang saya hadapi saat itu” ( William Roger Louis dalam The British Empire in The Midlle East, 1945-1951,1985: 485).

Lobi yang massive dara para aktivis zionis Amerika ke gedung putih tersebut menghasilkan perubahan sikap amerika yang berubah 180 derajat dari semula yang tidak akan melakukan intervensi menjadi aktif menekan anggota lain untuk memberikan dukungannya atas usulan partisi tersebut.

Pada 29 November 1947, Resolusi Partisi di setujui dengan keunggulan suara 33 berbanding 13 dengan 10 Abstain. Dengan demikian dunia internasional lewat PBB menyetujui berdirinya negara Yahudi di tanah palestina.

Dimanakah Dunia Arab?

Pertanyaan yang tersisa setelahnya adalah, di manakah posisi negara-negara Arab atau dunia Arab atas berdirinya negara Yahudi di tanah palestina?, mengingat begitu mudahnya dunia membagi-bagi tanah milik palestina dan menyetujui berdirinya negara Yahudi.

Orang Arab di Palestina sendiri pada tahun 1947 adalah warga mayoritas dengan 2/3 dari jumlah penduduk yang ada. Orang-orang Arab ini memiliki 94% dari total lahan palestina dan sekitar 80% lahan pertanian subur di negara tersebut. Maka tidak ada seorang pun yang membayangkan bahwa Resolusi tersebut akan berjalan mulus tanpa pertentangan, pada pagi hari setelah Resolusi tersebut di umumkan orang Arab dan Yahudi mempersiapkan diri untuk menghadapi perang yang tak terelakan lagi.

Negara-negara Arab sendiri banyak di antaranya yang baru saja memperoleh kemerdekaan dari kaum penjajah Eropa, mereka terpecah belah dan mengalami demoralisasi, setelahnya mereka harus menderita kekalahan diplomatik pertama dari oposisi mereka yang bersemangat dengan di setujuinya resolusi PBB.

Masalah terbesar yang di hadapi para komandan Arab baik di palestina maupun negara-negara Arab tetangganya adalah kekurangan senjata dan amunisi. Tidak seperti tentara Yahudi, yang telah menjalani pelatihan Inggris selama lebih dari satu dasawarsa dan memperoleh pengalaman tempur bersama inggris dalam Perang Dunia II, Orang-orang Arab Palestina tidak pernah memiliki kesempatan untuk membentuk milisi pribumi.

Kelemahan Teknis tersebut di perlemah oleh perbedaan kepentingan dari negara-negara Arab atas bumi Palestina. Trans Yordania misalnya menyetujui resolusi PBB tersebut dengan harapan memperoleh tambahan wilayah palestina untuk negaranya, juga beberapa negara Arab lain di sekitar Palestina.

Oleh karena itu, koalisi Arab memasuki Perang Palestina dengan tujuan yang sebagian besar negatif: mencegah pembentukan negara yahudi asing di tengah-tengah mereka, mencegah Transyordania memperluas wilayah ke Palestina, dan mencegah Mufti atau pemimpin Palestins membentuk sebuah negara palestina. Kebencian mereka terhadap pembentukan negara palestina di karenakan pemimpin palestina saat itu dan mungkin juga pemimpin palestina dari masa ke masa adalah pemikiran mereka yang tidak menyetujui bentuk pemerintahan monarki yang menjadi ciri khas negara-negara Arab di sekitar Palestina.

Dengan tujuan perang seperti itu, tidak mengherankan jika pasukan Arab kewalahan menghadapi pasukan Yahudi yang di motivasi oleh tekad besar mendirikan negara.

Kiranya, alasan ini pula yang melatar belakangi Dunia Arab yang seolah membisu di hadapkan pada tragedi saudara sebangsa dan se agama mereka di depan mata mereka.

Bencana Palestina dan Konsekuensinya pada dunia Islam

Pada akhir perang Arab-Israel I, tidak ada tempat tersisa di peta dunia yang dapat di sebut sebagai negara Palestina. Yang ada hanyalah bangsa Palestina yang tinggal di bawah pendudukan negara asing atau dalam diaspora dan akan menghabiskan sisa sejarahnya hingga saat ini berjuang untuk memperoleh pengakuan hak-hak nasional mereka.

Hilangnya negara Palestina dan penciptaan negara Israel telah membuka bab baru yang berbahaya dalam sejarah bangsa Arab dan wajah dunia Islam pada umumnya. Kekalahan Arab dalam perang Arab-Israel I bukanlah kemunduran yang bisa di pandang sebelah mata. Ini adalah sebuah bencana nyata serta salah satu cobaan dan kesengsaraan paling buruk yang pernah di terima Islam sepanjang sejarah.

Bagi dunia Arab sendiri, kegagalan mereka menghadapi bahaya baru ini akan menjatuhkan mereka ke dalam perpecahan pada kemudian hari, tidak begitu berbeda dengan era kolonial yang pernah mereka alami. ( Constantine K.Zurayk dalam The meaning of Disasters, 1956).

Perlawanan Ikhwanul Muslimin

Kekalahan Arab di Palestina dan munculnya negara Israel benar-benar mengguncang negara-negara Arab yang baru merdeka. Namun pada akhirnya memunculkan sebentuk perlawanan baru dan mengawali babak baru perlawanan rakyat palestina, di awali dengan berdirinya Ikhwanul Muslimin di Mesir.

Setelah bencana Palestina, Mesir tenggelam ke dalam kekacauan politik. Untuk partai agama yang baru didirikan , hilangnya tanah muslim untuk menciptakan negara Yahudi sama saja dengan pengkhianatan atas Islam.

Ikhwanul Muslimin didirikan pada bulan Maret 1928 oleh Hasan Al-Banna, seorang guru Sekolah Dasar di Kota Ismailiyah di terusan Suez. Al-Banna adalah seorang reformis karismatik yang berusaha melawan pengaruh barat yang di yakini merusak nilai-nilai Islam di mesir. Gerakan ini dalam waktu cepat mampu bertransformasi menjadi kekuatan politik yang kuat.

Ikhwan telah menyatakan perang Palestina sebagai jihad dan mengirimkan battalion relawan ke Palestinauntuk berjuang melawan pembentukan negara Yahudi. Relawan ini kemudian membentuk gerakan-gerakan perlawanan rakyat palestina dan menyuarakan gerakan jihad Intifadha yang gaungnya segera merambah ke penjuru dunia.

Gerakan Ikhwanul Muslimin sesuai namanya juga menyebarkan semangat persaudaraan muslimin di dunia arab khususnya dan dunia islam pada umumnya. Sehingga banyak negara mengalami revolusi dan melakukan kudeta terhadap pemimpinnya yang tidak berpihak kepada Islam, gelombang ini merambah ke Suriah, Lebanon dan Yordania.

Pasca pemimpin Ikhwan Hasan Al-banna di tangkap dan di eksekusi mati, gerakan ini tidak serta merta meredup, melainkan senantiasa bertransformasi sesuai zaman. Oleh karenanya pemerintah yang menjadi kaki tangan negara barat senantiasa mencari cara untuk meredupkannya.

Membaca Islam secara Epistemologis

Palestina kembali bergejolak, begitu terus menerus sampai akhir zaman dan Allah mentakdirkan kemenangan bagi bangsa Palestina dan Islam di seluruh dunia.

Apa yang terjadi di Palestina dari dulu dan sekarang, dan kegamangan dunia Islam menyikapinya adalah sebentuk pembelajaran berharga yang patut menjadi perenungan bersama dan kemudian bisa merubah cara bersikap kita terhadap takdir dan sejarah ummat islam di muka bumi.

Ummat Islam menurut istilah Kuntowijoyo dalam Identitas politik Islam sudah kehilangan pemaknaan Islam secara Epistemologis, yakni pemahaman yang benar-benar kembali kepada sumber-sumber pengetahuan utama, dan juga bagaimana sumber-sumber utama itu di pergunakan dan dengan apa pengetahuan manusia itu di ukur. Sumber pengetahuan Islam adalah Al-Qur’an dan Hadits, itu sudah menjadi kesepakatan umum ummat islam.

Sedangkan Epistemologis Islam sendiri adalah epistemologis Relasional, yakni semua kenyataan berasal dari Tuhan (Innalillahi) dan akan kembali kepada Tuhan (Wa Inna Ilaihi Roji’un).

Simpel? Bukankah semua Ummat mengetahui hal ini. Akan tetapi kebanyakan ummat tidak menginternalisasikannya, bahwa Epistemolgis relasional akan menyelamatkan Ummat Islam dari sekularisasi subjektif dan Objektif. Sekularisasi Subjektif terjadi bila keterkaitan antara pengalaman ke agamaan dan pengalaman sehari-hari terputus. Sekularisasi Objektif terjadi bila dalam kenyataan sehari-hari agama sudah di pisahkan dari gejala yang lain. (Kuntowijoyo dalam Identitas politik Islam, 1997)

Sekarang mari kita Tarik wacana di atas dalam konteks bencana Palestina. Betapa yang terjadi atas dunia Arab saat ini adalah perangkap sekulerisasi Subjektif. Bahwa dunia Arab terkenal sangat religius sebagai pusat peradaban Islam dan kebanggaan sebagai negeri tempat di utusnya para nabi, tapi pengalaman ke agamaan yang begitu hebat tidak terhubung secara baik dengan prilaku sehari-hari, lebih-lebih dalam prilaku berpolitik. Kekalahan Arab dari Israel adalah akibat prilaku individualis dan supremasi suku yang menjangkiti dunia Arab. Masing-masing memiliki tujuan tersendiri atas Tanah saudaranya sendiri, tidak bersatu di bawah Pan Islamisme. Pan Islamisme yang di bawa saudara mereka Ikhwanul Muslimin di tentang dan di berangus sampai ke akar-akarnya demi stabilitas monarki yang mereka bangun.

Apa yang terjadi di dunia Arab saat ini adalah prilaku sekulerisme Objektif, pemisahan agama sudah merambah ke segenap lini kehidupan. Lihatlah Promosi Wisata Arab Saudi yang terbaru dengan Tagline; “Saudi, Welcome to Arabia”, mengisyaratkan bahwa mereka berusaha lepas dari bayang-bayang Saudi yang notabene mewakili sisi Ortodoks Arab Saudi untuk menyongsong sebuah peradaban di Jazirah Arab, mereka membangun kota baru yang supercanggih dan sangat sekuler dan liberal.

Apa yang terjadi di dunia Islam secara umum adalah gambaran dari Hipotesa Kuntowijoyo di atas yakni sekulerisasi Subjektif dan Objektif hampir merata dari timur ke barat. Sebagian ummat masih ada yang perduli dengan penderitaan Rakyat Palestina namun mereka tidak mampu berbuat apa-apa dan hanya menangis meratapi gambaran penderitaan saudara mereka, dikarenakan mereka tinggal di wilayah sekulerisasi Objektif. Pemerintah mereka tidak menganggap itu bagian dari penderitaan bangsa, karena sistem bernegara mereka memisahkan permasalahan dunia islam dari kehidupan berbangsa dan bernegara.

Sebagian lagi memang menganggap itu bukan permasalahan yang menyangkut hajat hidup mereka secara individual, mereka tidak menganggap permasalahan ummat sebagai permasalahan mereka, dikarenakan bagi mereka cukuplah beramal yang banyak menjadi donatur acara ke agamaan, menjadi takmir masjid, menyantuni anak yatim dan memperbanyak hafalan Al-Qur’an. Mereka terjebak dalam sekulerisasi Subjektif.

Lalu bagaimana seharusnya Islam itu bergerak? Apakah Ia di bangun atas landasan pengertian atau perbuatan??, Islam di bangun atas dasar ke duanya. Islam yang telah mengalami sekulerisasi hanya tergantung kepada pengertian-pengertian, sedangkan perbuatannya sangatlah pragmatis.

Mengapa kamu tidak mau berperang di jalan Allah dan membela orang-orang yang lemah, baik laki-laki, wanita-wanita maupun anak-anak yang semuanya berdo’a: “ Ya Tuhan kami, keluarkanlah kami dari negeri ini (Makkah) yang zalim penduduknya dan berilah kami pelindung dari sisi Engaku, dan berilah kami penolong dari sisi Engkau” (QS Annisa;75). (Wallohu’alam)

Penulis: Kusnan Sayuti
*) Penulis adalah Pendiri Najmah Kusna Research Institute (NKRI) Sumatera Selatan
Anggota Keluarga Alumni KAMMI Provinsi Jambi

Editor: Renilda Pratiwi Yolandini