Oleh : M Arjuna Pase*
Oerban.com — Di sebuah forum kecil, yang kadang hanya diisi oleh segelintir orang, aku temukan suara yang lebih nyaring dari pidato para pejabat. Bukan karena kerasnya nada, tapi karena dalamnya makna.
Di sanalah aku paham, bahwa seperti kata Plato, “Negara akan adil jika pemimpinnya adalah filsuf, atau filsuf jadi pemimpin.”
Kami tidak sedang bermain kata. Kami sedang menggugat kenyataan. Membedah ketimpangan. Menyusun kembali harapan. Forum bukan tempat bersantai, tapi ruang suci tempat akal sehat dan komitmen bertemu.
Di situlah arah peradaban kita coba rumuskan: dari keresahan, dari data, dari kesadaran bahwa tidak semua yang diam itu bijak kadang diam justru tanda tunduk.
Dalam suasana seperti itu, aku sadar betapa bahaya kekuasaan tanpa moral. Nietzsche pernah bilang, “Siapa yang bertarung melawan monster, jangan sampai menjadi monster itu sendiri.”
Kutipan itu jadi tamparan bagi siapa pun yang bercita jadi pemimpin, tapi lupa menata dirinya.
Forum telah mengajariku bahwa organisasi bukan sekadar ruang ngumpul. Ia harus jadi ruang artikulasi gagasan dan formulasi jalan perjuangan.
Di sinilah kita bertanya: apakah kita hari ini masih mampu berpikir melampaui acara dan proposal? Masihkah kita menyusun arah baru di tengah lumpur pragmatisme?
Aku pulang dari forum itu dengan satu keyakinan: bahwa setiap komisariat yang dikelola dengan kesadaran adalah pusat kebangkitan lokal.
Bahwa dari ruang diskusi kecil bisa lahir ledakan ide besar. Bukankah sejarah dunia juga digerakkan dari meja-meja kecil para pemikir?
Kita tak harus menunggu ruang istana. Seperti kata Gramsci, “Tugas intelektual organik adalah menyambungkan rakyat dengan arah perubahan.”
Maka tugas kita bukan sekadar menjadi pemikir, tapi juga penggerak. Tidak cukup cerdas di forum, tapi juga berani di lapangan.
Hari ini, kabupaten kita sedang dibajak oleh elite yang lebih pandai bicara ketimbang bekerja.
Yang menjadikan rakyat hanya latar belakang untuk panggung kuasa. Maka bila diam, jangan salahkan jika kekuasaan makin menjadi-jadi.
Perubahan bukan warisan. Ia bukan hasil tunggu. Ia hasil rumusan yang terus dilawan dengan konsistensi dan kesabaran.
Dan aku belajar itu semua dari forum. Tempat gagasan diuji. Tempat mental dikokohkan. Tempat nilai dipilih, bukan diwariskan begitu saja.
Forum bukan akhir. Ia hanya awal dari jalan panjang perlawanan. Sebab seperti kata Sartre: “Kita terkutuk untuk bebas.” Dan dalam kebebasan itu, kita memilih menjadi bagian dari perubahan, atau hanya penonton sejarah yang diam di pinggir jalan.
*Penulis merupakan Mahasiswa UIN STS Jambi

