DILEMA COVID-19 DALAM DUNIA PENDIDIKAN

oleh -989 views
Refor Diansyah

Hari ini Covid-19 menjadi momok yang sangat serius dalam kehidupan. Virus yang sudah menjelajahi Beberapa negara di dunia ini sedang berkunjung ke Bumi Pertiwi. Ya, Indonesia saat ini sedang digemparkan oleh Kasus Covid-19. BNPB mencatat sebanyak 579 orang Positif Covid-19 Per 23 Maret 2020.

Virus Corona adalah sebuah keluarga virus yang ditemukan pada manusia dan hewan. Sebagian virusnya dapat menginfeksi manusia serta menyebabkan berbagai penyakit, mulai dari penyakit umum seperti flu, hingga penyakit-penyakit yang lebih fatal, seperti Middle East Respiratory Syndrome (MERS) dan Severe Acute Respiratory Syndrome (SARS).

Virus ini menyebar antara manusia ke manusia melalui tetesan cairan dari mulut dan hidung saat orang yang terinfeksi sedang batuk atau bersin, mirip dengan cara penularan penyakit flu. Tetes cairan dari mulut dan hidung pasien tersebut bisa jatuh dan tertinggal pada mulut dan hidung orang lain yang berada di dekatnya, bahkan dihisap dan terserap ke dalam paru-paru orang tersebut melalui hidungnya.

Gejalanya yang tampak dari penderita penyakit ini dapat berupa demam, batuk, dan napas yang pendek. The Center for Disease Control and Prevention (CDC) percaya bahwa pasien Virus Corona dapat mengalami gejala-gejala ini dari 2 hari sampai 14 hari setelah terpapar virusnya. Hingga saat ini belum ditemukan vaksin yang pas untuk mencegah seseorang terinfeksi Virus Corona hingga sampai orang tersebut sembuh seperti sedia kala. Cara terbaik untuk melindungi diri kita dari penyakit ini tidak lain adalah dengan menghindari kondisi atau tempat dimana Anda berpotensi terpapar virus tersebut.

Sebuah lembaga pencegahan penyakit di Amerika, Center for Disease Control and Prevention (CDC) menyarankan Anda sejumlah hal-hal di bawah ini untuk mencegah penyebaran penyakit pernapasan, yaitu:
– Perbanyak cuci tangan menggunakan air dan sabun paling tidak selama 20 detik, terutama sebelum Anda keluar kamar mandi; sebelum makan; dan setelah Anda buang ingus, atau batuk, atau bersin.
– Jika air dan sabun tidak tersedia, gunakanlah pembersih tangan alkohol dengan kandungan alkohol sebanyak minimal 60%
– Hindari menyentuh wajah sebelum Anda cuci tangan
– Hindari kontak dekat dengan orang-orang sakit
– Tinggal di rumah jika Anda sakit
-Tutupi mulut Anda saat batuk dan bersin dengan menggunakan tisu
– Perbanyak membersihkan barang-barang Anda serta perabotan di rumah Anda

Memang Indonesia saat ini sedang tidak baik-baik saja. Terlebih Virus ini merupakan Virus yang sangat berbahaya dan mengenaskan. Tidak bisa dianggap remeh atau sepele. Bahkan sampai detik ini, di Provinsi Jambi telah ada satu orang Pasien Positif Covid-19. Akibatnya, seluruh lembaga pendidikan mulai dari Perguruan tinggi hingga sekolah-sekolah (PAUD, TK, SD, SMP/MTS, SMA/SMK/MA) pun diliburkan.

Sehingga sistem pembelajaran daring pada beberapa sekolah maupun perguruan tinggi khususnya, menjadi solusi yang cukup tepat dalam upaya pencegahan Covid-19. Hal ini dilakukan oleh seluruh perguruan tinggi di Indonesia. Ya, perkuliahan daring (online), bukan tugas online. Mahasiswa di Indonesia merasakan hal yang sama, terlebih kasus ini merupakan isu Nasional dan bahkan isu Internasional.

Namun dalam hal ini, tidak menjalankan perkuliahan tatap muka bukan berarti mahasiswa bisa merasa nyaman dan lebih efektif di rumah saja.
Justru hal ini menjadi momok yang sangat menakutkan pasca Covid-19. Ada beberapa kekurangan pada sistem perkuliahan online sebagai berikut :

1. Pembelajaran Kurang Terstruktur
Dalam kuliah online, mahasiswa bisa mengakses materi kuliah secara fleksibel. Namun, tanpa kemandirian dan inisiatif, kondisi tersebut bisa jadi justru menyulitkan mahasiswa itu sendiri di mana mereka tidak bisa mendapatkan pembelajaran secara terstruktur. Terlebih lagi jika ada beberapa materi yang mungkin tidak bisa diberikan secara online. Hal ini akan semakin menyulitkan mahasiswa.

2. Tergantung Kemandirian Mahasiswa
Sekali lagi plus minus kuliah online juga bergantung pada diri mahasiswa. Tidak adanya kewajiban untuk datang ke kampus dapat melemahkan semangat belajar seseorang. Jika mahasiswa tidak mau aktif dan disiplin untuk terus belajar, bisa jadi mereka akan keteteran sendiri. Bukan tak mungkin pula materi yang dipaparkan kurang dipahami secara mendalam. Karena itu, mahasiswa berisiko tidak bisa mempraktekkan bidang ilmu yang dipelajari dengan baik.

3. Kehilangan Interaksi Sosial
Sistem perkuliahan daring tidak mengharuskan mahasiswa bertatap muka dengan pengajar secara langsung. Pada akhirnya, metode ini menghilangkan kesempatan berinteraksi. Bukan hanya dengan dosen, mahasiswa juga tidak bisa bersosialisasi dengan mahasiswa lain. Hal ini sangat krusial. Pasalnya, kemampuan interaksi sosial sangat menentukan keberhasilan seseorang dalam kehidupan nyata.

Dari ketiga hal diatas, yang sering bermunculan di Media Sosial Mahasiswa adalah begitu banyaknya tugas yang diberikan, sehingga sangat banyak sekali mahasiswa yang mengeluh akan sistem perkuliahan daring. Bayangkan jika setiap semester, mahasiswa mengontrak 8-10 Mata Kuliah, dan seluruh mata kuliah diberikan tugas dengan jangka waktu pengerjaan tertentu. Tentu ini sangat memberatkan Mahasiswa.

Kembali kaitannya dengan Covid-19. Bukan Parno atau terlalu berlebihan (Lebay) dalam menanggapi, tetapi ini merupakan suatu kebijakan untuk mengurangi penyebaran Kasus ini. Gaungan #DirumahAja bukan sekedar candaan belaka. Karena itu merupakan usaha terbaik yang harus dilakukan oleh manusia saat ini. Mungkin dahulu #KaumRebahan menjadi olok-olok untuk bergerak menjadi kaum perubahan. Tetapi realitanya saat ini, mereka adalah kaum perubahan sebenarnya. Sehingga, adanya penyesuaian sistem perkuliahan daring dengan kesesuaian porsi pemberian tugas merupakan jalan tengah yang perlu dipertimbangkan bagi dosen maupun guru-guru di Indonesia.

Barangkali untuk beradaptasi memang sulit. Terlebih untuk aktivis mahasiswa yang mungkin kesehariannya selalu disibukkan hal hal bermanfaat di luar rumah. Namun, kondisi ini juga bersinggungan dengan kemaslahatan orang banyak. Ini tentang nyawa kerabat kita, keluarga kita bahkan orang tua kita.

Menyayangi mereka cukup dengan #DirumahAja.
Dari Rumah untuk Indonesia.

Penulis: Refor Diansyah
Editor: Renilda Pratiwi Yolandini