EMPAT TINGKAT MANUSIA DALAM MENGHADAPI UJIAN ATAU MUSIBAH

oleh -119 views

Oleh:Agustia Gafar

1. TINGKATAN PERTAMA: MARAH-MARAH

Ini terbagi kepada beberapa macam:

A. Terjadi di dalam hati, misalnya jengkel terhadap Tuhan karena taqdir buruk menimpanya. Ini dilarang dalam Islam, terkadang malah bisa menjerumuskan kepada kekufuran. Allah Ta’ala berfirman:

“Di antara manusia ada yang menyembah Allah dengan berada di tepi, maka jika memperoleh kebajikan, tetaplah ia dalam keaadaan itu, dan jika ditimpa suatu bencana berbaliklah ia ke belakang. Ia rugi dunia dan akhirrat” [Al-Hajj : 11]

B. Dengan lidah, misalnya meminta celaka dan binasa dan yang semisal itu. Ini juga dilarang.

C. Dengan anggota tubuh seperti menampar pipi, merobek saku, menjambak rambut dan semisalnya.

Semua ini dilarang karena bertentangan dengan SABAR yang merupakan kewajiban setiap muslim.

2. TINGKATAN KEDUA: BERSABAR
Bersabar dengan apa yang kita rasakan

Seperti diucapkan oleh seorang penyair
“Sabar seperti namanya, pahit rasanya tetapi lebih manis akibatnya daripada madu”

Maka orang ini akan melihat bahwa suatu musibah itu berat, namun ia tetap menjaga imannya sehingga tidak marah-marah, meski ia berpandangan bahwa adanya musibah itu dan ketiadaannya tidaklah sama dan orang yang menggunakan sifat ini adalah orang yang berjiwa tenag. Ini hukumnya wajib karena Allah Ta’ala memerintahkan untuk bersabar. Allah berfirman:

“Bersabarlah kalian, sesunguhnya Allah berserta orang-orang yang sabar” [Al-Anfal: 46]

3. TINGKATAN KETIGA: RIDHA
Rela dengan apa yang Allah berikan baik itu ujian/musibah Yakni manusia ridha dengan musibah yang menimpanya. Ia berpandangan bahwa ada dan tidaknya musibah sama saja baginya, sehingga adanya musibah tadi tidak memberatkannya. Ia pun tidak merasa berat memikulnya. Ini dianjurkan dan tidak wajib menurut pendapat yang kuat. Perbedaan tingkatan tiga ini dengan tingkatan sebelumnya nampak jelas karena adanya musibah dan tidak adanya sama saja dalam tingkatan ridha. Adapun pada tingkatan sebelumnya, jika ada musibah dia merasakan berat, namun ia tetap bersabar.

4. TINGKATAN KEEMPAT: BERSYUKUR
Syukuri apa yang kamu miliki maupun apa yang kamu rasakan
Karena tingkatan Ini merupakan tingkatan yang paling tinggi. Di sini seseorang bersyukur atas musibah yang menimpanya karena ia memahami bahwa musibah ini menjadi sebab pengampunan kesalahan-kesalahannya(dosa/kelalaian) bahkan mungkin malah menambah kebaikannya.

“Tidaklah seorang Muslim menderita karena kesedihan, kedudukan, kesusahan, kepayahan, penyakit, dan gangguan duri yang menusuk tubuhnya kecuali dengan itu Allah mengampuni dosa-dosanya.” (HR Bukhari).

Dari 4 tingkatan dia atas saya mengajak semuanya untuk memperkuat iman jika iman seseorang itu lemah maka tidak akan sanggup menerapkan tingkatan itu dan begitu pun sebaliknya.