email : oerban.com@gmail.com

25 C
Jambi City
Wednesday, April 15, 2026
- Advertisement -

Evaluasi Kurikulum Merdeka: Efektif dalam Pembelajaran atau Beban Tambahan bagi Guru dan Siswa

Populer

Oleh: Septia Ayu Ningsih*

Oerban.comKurikulum Merdeka adalah kurikulum yang memberikan inovasi pendidikan terbaru yang diterbitkan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud). Pada saat pergantian menteri, maka kebijakan dan aturan negara akan terus berganti. Kurikulum Merdeka ditetapkan pada tanggal 11 Februari 2022.

Kurikulum Merdeka tidak hanya memberikan pengetahuan kepada siswa, tetapi juga membantu siswa dalam mengembangkan karakter pribadi masing-masing. Kurikulum ini merupakan kurikulum tetap yang diterapkan oleh pemerintah untuk menggantikan Kurikulum 2013 (K-13).

Pada saat Kurikulum Merdeka ditetapkan, banyak perubahan yang dilakukan oleh setiap sekolah untuk meningkatkan semangat belajar siswa.

Kurikulum ini memberikan kebebasan kepada siswa untuk mengembangkan potensi dan minat mereka sendiri, sehingga potensi yang mereka miliki akan terus berkembang dan sekolah pun ikut terkena dampak karena memiliki siswa yang berbakat.

Baca juga  UPT Kementan Evaluasi Pelaksanaan Penyuluhan Pertanian Melalui Pelatihan Dasar Fungsional, Kerja Sama dengan DTPH Kabupaten Aceh Barat

Kurikulum Merdeka juga mengedepankan literasi yang relevan dengan perkembangan zaman, termasuk literasi digital, literasi finansial, literasi kesehatan, dan literasi perubahan iklim.

Literasi ini dirancang untuk mempersiapkan peserta didik menghadapi tantangan masa depan yang terus berkembang.

Menurut Peraturan Mendikbud No. 12 Tahun 2024 tentang penerapan Kurikulum Merdeka menjelaskan secara rinci mengenai cakupan serta implementasi Kurikulum Merdeka bagi sekolah-sekolah di Indonesia, termasuk ketentuan peralihan dari Kurikulum 2013 ke Kurikulum Merdeka.

Kurikulum Merdeka hadir sebagai bentuk inovasi dalam dunia pendidikan. Kurikulum Merdeka menawarkan fleksibilitas dan kebebasan bagi guru dalam merancang pembelajaran sesuai dengan kebutuhan siswa.

Baca juga  Menyambut Tahun Baru Hijriyah: Momentum Muhasabah dan Perubahan Diri

Tujuannya adalah menciptakan proses belajar yang lebih personal, berpusat pada siswa, dan mengembangkan karakter serta kompetensi yang relevan dengan tantangan di masa depan.

Namun, implementasi kurikulum ini tidak lepas dari tantangan yang berpotensi menjadikannya beban tambahan bagi guru dan siswa, sehingga diperlukan evaluasi menyeluruh untuk menilai efektivitasnya.

Menurut Peraturan Mendikbudristek No.12 Tahun 2024 tentang kurikulum PAUD dan jenjang pendidikan dasar dan menengah, terdapat struktur yang berupa intrakurikuler, kokurikuler, dan ekstrakurikuler.

Intrakurikuler dapat diartikan sebagai kegiatan belajar mengajar oleh guru dan murid yang dilaksanakan di dalam kelas sesuai dengan program yang sudah terjadwal.

Baca juga  Program Makan Bergizi Gratis Sebagai Bentuk Upaya Memberantas Angka Stunting Negara Indonesia

Kokurikuler merupakan kegiatan pembelajaran dengan tujuan penguatan atau pendalaman mata pelajaran yang diajarkan di intrakurikuler. Sementara itu, ekstrakurikuler merupakan kegiatan untuk mengembangkan minat dan bakat siswa yang dapat mendukung kegiatan akademiknya.

Dengan demikian, Kurikulum Merdeka memberikan dampak positif terutama dalam hal fleksibilitas pembelajaran dan pengembangan karakter siswa.

Dengan materi yang lebih ramping dan waktu yang dialokasikan untuk pengembangan karakter, guru bisa lebih fokus pada kebutuhan dan minat siswa, sehingga proses belajar menjadi lebih bermakna dan menyenangkan.

Pendekatan ini memungkinkan siswa belajar sesuai dengan bakat dan minatnya, yang pada akhirnya dapat meningkatkan motivasi dan hasil belajar.

Selain itu, kurikulum ini juga mendorong guru untuk berinovasi dan menggunakan metode pembelajaran yang lebih variatif dan kontekstual, yang secara teori dapat meningkatkan kualitas pembelajaran dan keterlibatan siswa.

Baca juga  Tingkatkan Kualitas Pelatihan, Kementan Laksanakan Evaluasi Pasca Pelatihan 

Dengan penerapan Kurikulum Merdeka, diharapkan tercipta lingkungan belajar yang lebih adaptif dan responsif terhadap kebutuhan zaman.

Meski demikian, implementasi Kurikulum Merdeka menghadapi sejumlah hambatan yang signifikan. Salah satu kendala utama adalah kesiapan guru yang masih terbatas dalam memahami dan menerapkan konsep kurikulum baru ini.

Banyak guru yang masih menggunakan teknik lama seperti ceramah dan pencatatan, serta mengalami kesulitan dalam melakukan penilaian sesuai pedoman baru.

Seharusnya, ketika sudah menggunakan kurikulum ini, hendaknya ada pelatihan guru dan infrastruktur yang memadai agar siswa bisa lebih bersemangat dan fokus dalam mengembangkan karakternya. Tanpa adanya hal tersebut, maka siswa akan kesulitan dalam membentuk karakternya.

Baca juga  Kurikulum Merdeka: Antara Inovasi dan Ketimpangan Pelaksanaan

Dari sisi siswa, perubahan pola pembelajaran yang lebih mandiri dan berbasis proyek membutuhkan adaptasi yang tidak mudah, terutama jika dukungan dari guru dan fasilitas yang kurang optimal.

Hal ini bisa menimbulkan beban tambahan bagi siswa yang harus menyesuaikan dirinya dengan metode belajar baru tanpa pendampingan yang cukup.

Agar Kurikulum Merdeka dapat benar-benar efektif tanpa menjadi beban, diperlukan pendekatan holistik.

Pemerintah dan lembaga pendidikan harus fokus pada peningkatan kompetensi guru melalui pelatihan yang intensif dan berkelanjutan, serta menyediakan sarana dan prasarana yang memadai.

Integrasi teknologi dalam pembelajaran juga penting untuk mendukung metode yang lebih inovatif dan menarik bagi siswa.

Baca juga  Evaluasi Kebijakan Pendidikan pada Implementasi Kurikulum Merdeka

Selain itu, evaluasi berkelanjutan yang melibatkan guru, siswa, dan pemangku kepentingan lain harus dilakukan untuk mengidentifikasi masalah dan mencari solusi yang tepat.

Dengan demikian, kurikulum ini dapat terus disempurnakan agar sesuai dengan kondisi lapangan dan kebutuhan semua pihak.

Jadi, Kurikulum Merdeka sangat membawa peluang besar untuk meningkatkan kualitas pendidikan dengan pendekatan yang lebih fleksibel dan berpusat pada siswa.

Namun, tanpa adanya kesiapan guru yang memadai, dukungan infrastruktur, dan pelatihan yang komprehensif, kurikulum ini juga akan berisiko menjadi beban tambahan bagi guru dan siswa.

Evaluasi yang menyeluruh dan penanganan tantangan secara sistematis sangat diperlukan agar Kurikulum Merdeka tidak hanya efektif dalam pembelajaran, tetapi juga berkelanjutan dan tidak memberatkan semua pihak yang terlibat.

Dengan adanya komitmen dari pemerintah, sekolah, guru, dan masyarakat, Kurikulum Merdeka bisa menjadi solusi yang relevan untuk meningkatkan mutu pendidikan Indonesia di masa yang akan datang.

*Penulis merupakan mahasiswa Manajemen Pendidikan Islam UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi

Baca juga  Adakan Evaluasi Kinerja Akhir Tahun, Bapeltan Jambi Pererat Silaturahmi Antar Lini
- Advertisement -

Artikel Lainnya

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -spot_img

Berita Terbaru