HYPNOSELLING

by

Jujur, istilah ini baru pertama kali kudengar…
Awalnya sih mengira ini teknik penjualan dengan cara menghipnotis si pembeli (enak kali yaa, hehehe)…
Ternyata oh ternyata bukan guys…

Gampangnya, hypnoselling itu adalah transaksi yang terjadi karena si pelanggan merasa kalo dia tuh butuh jasa atau produk yang kita tawarkan tanpa merasa terpaksa dengan kata lain ide yang kita berikan diterima karena merasa itu idenya sendiri.

Keberhasilan hypnoselling ini tak lepas dari penguasaan jasa atau produk yang ditawarkan serta cara penyampaian kepada pelanggan.

Pada dasarnya, manusia itu suka membeli tapi gak suka dijuali.

Kalo mereka butuh pasti mereka beli, nah kalo lagi gak butuh ya boro-boro dah mereka mau dengar yang kita bicarakan (kasian deh yaa).

Nah satu lagi nih, manusia tuh sukanya jasa atau produk yang ditawarkan itu sebanding gak dengan manfaat yang bakal mereka peroleh, baik itu dari segi uang, waktu dan tenaga yang telah dikeluarkan.

Masalahnya proses hypnoselling ini gak mudah diterima masing-masing orang.

KENAPA?

Karena karakter dan personality masing-masing orang itu berbeda.

Back to hypnoselling
(serius lagi nih).

Ada beberapa tahap dalam melakukan hypnoselling :

1. Bangun empati
–> kita perlu mengetahui karakter pelanggan, merasakan apa yang pelanggan rasakan agar pelanggan merasa nyaman.

2. Bangun minat dan sadarkan kebutuhan
–> seperti apa kondisi pelanggan saat ini, apa yang pelanggan harapkan, apa yang terjadi bila tidak ada perubahan

3. Berikan solusi
–> kemukakan manfaat terlebih dahulu, kemudian fungsi dari jasa/produk, baru menjelaskan fitur dari jasa/produk tersebut.

4. Closing
–> kenali tanda-tandanya bisa dari bahasa tubuh maupun dari kalimat yang diucapkan pelanggan.

Gampang-gampang susah yaa sepertinya.

Poin yang paling penting nih dari hypnoselling, kita sebagai penjual kudu mesti harus yakin terhadap diri sendiri terlebih dahulu.
Kuasai jasa/produk yang mau ditawarkan.
Kalo gak, ntar belepotan ngomongnya, ujung-ujungnya si pelanggan jadi illfeel dan kabur dah. Jangan sampai deh yaa, aamiin…

Oya satu lagi, jangan terpaku harus closing mesin, bertahap saja, namun tetap harus tegas dalam menetapkan step by step tolak ukur kinerja kita (ngomong apa sih ini).

Penulis : Dyah Nastiti Anindita (Asti)
Editor : oerban