INDONESIA DI PERSIMPANGAN JALAN

oleh -202 views
Agustia Gafar

Oleh: Agustia Gafar

Keserakahan mendorong hidup penguasa sehingga membuat pemimpin Indonesia berpatokan kepada uang makannya banyak kita temukan pemimpin yang korupsi baik dari pelosok desa hingga kota besar tak terlepas dari korupsi.

Persetanan semakin merajalela di negeri ini. Semua proyek tidak akan berjalan baik jika tidak ada yang masuk ke kantong pribadi, bukan proyek besar dan proyek kecil saja, semacam ada kewajiban untuk korupsi. Inilah yang membuat Indonesia tidak bisa lepas dari negara berkembang padahal Indonesia mempunyai kekayaan alam yang melimpah dan sumber daya manusia yang cerdas.

Setiap pemimpin tidak terlepas dari uang. Seringkali kita dengar bahwa jika ingin menjadi pemimpin harus memiliki modal yang banyak karena orang-orang yang ingin menjadi pemimpin sudah berpatokan dengan sogok-menyogok dan orang yang ingin menjadi pemimpin juga beranggapan bahwa siapa yang banyak uang itu lah pemenang sejati . Maka dari itu banyak orang berlomba-lomba mencari uang demi sebuah kekuasaan dan ketika menjadi pemimpin sudah pasti akan berupaya untuk mencari modal ketika di pencalonan selanjutnya tanpa mempertimbangkan apapun, makanya pemimpin tunduk pada pemberi uang, seperti perusahaan besar baik yang dari dalam negeri maupun diluar negri.

Sekarang Indonesia sedang berada di persimpangan jalan atau kebingungan mau menempuh simpang yang mana karena setiap simpang yang di tempuh sudah ditunggu para pemodal dan pemimpin Indonesia tergiur dangan uang yang ditawarkan pemodal, makanya banyak pemimpin tidak mengamankan kepentingan rakyat malah menjual negara ini dengan pemodal.

Contoh yang bisa kita lihat selama ini, ketika Indonesia ingin membangun pasti ngutang dengan negara luar dan bahan-bahan pun juga dari luar. Indonesia banyak sekali impor dari negara asing seperti bahan bangunan, alat rumah tangga, makanan, elektronik dan lainnya. Indonesia lebih banyak impor dari negara-negara luar padahal Indonesia punya semuanya. Padahal banyak putra-putri daerah yang sukses di bidangnya, jika di tanya kapasitas putra-putri Indonesia tidak kalah dengan negara luar. Kita punya banyak orang hebat namun jarang untuk di pakai, banyak orang hebat yang ingin mengabdi dengan negara tetapi tidak punya kesempatan karena pemimpin lebih memilih produk luar.

Jika bicara barang mewah, putra-putri Indonesia juga bisa menciptakan barang mewah contohnya saja bapak Habibie bisa menciptakan pesawat dan jaya di masanya itu pun butuh perjuangan dan konflik yang besar untuk bisa mengabdi di negara sendiri maka dari itu putra-putri Indonesia yang hebat tidak nampak sekarang ini karena pemimpin lebih percaya dengan kehebatan warga negara asing dan mengesampingkan putra-putri dari negara sendiri.

Keraguan dan ketakutan dengan putra-putri daerah Indonesia oleh pemimpin terlalu besar hingga keberanian pemimpin kepada putra-putri teralihkan dengan putra-putri negara lain dan tujuannya jika kita sering impor dan pemimpin juga punya masukan.

Jika ini terus berkelanjutan di Indonesia maka kekayaan baik SDA maupun SDM hanyalah menjadi cerita kosong rakyat atas kebanggaan dengan alam yang kaya dan manusia yang hebat.

“Indonesian banyak punya orang hebat tapi tidak dimanfaatkan, dan Indonesia kaya dengan alam tetapi dirampas dengan kekuasaan dan uang”.

Editor: Renilda Pratiwi Yolandini