Oleh: Habibullah*
Oerban.com — Ada satu kata yang begitu berat dalam hidup seorang Muslim istiqomah. Kata ini bukan sekadar prinsip, tapi ujian yang menentukan akhir perjalanan hidup seseorang. Bahkan Rasulullah ﷺ sendiri, manusia paling mulia, begitu berat memikul perintah istiqomah hingga rambut beliau memutih sebelum waktunya.
Sebab istiqomah bukan hanya tentang memulai hal baik, tetapi konsisten bertahan dalam kebaikan meski godaan datang dari segala arah.
Hari ini, banyak yang mampu memulai ibadah, aktif dalam komunitas, terlibat dalam dakwah, tapi tak banyak yang sanggup bertahan.
Sebagian menyerah karena kecewa, tak dianggap, merasa tidak diakomodasi dalam organisasi, atau terlalu sibuk dengan urusan dunia: harta, jabatan, keluarga. Padahal bukan itu yang akan menyelamatkan kita. Yang menyelamatkan kita adalah istiqomah: bertahan dalam kebaikan sampai akhir.
Narasi Tentang Perubahan Dunia: Dari Ambisi ke Introspeksi
Suatu hari, ada seorang pemuda idealis yang bercita-cita ingin mengubah dunia. Ia merasa dunia begitu rusak politik kotor, masyarakat apatis, ekonomi timpang, keadilan hilang. Ia berkata dalam hati, “Aku harus ubah dunia ini.”
Tahun pertama, ia mulai belajar, membaca, aktif di organisasi. Tahun kedua dan ketiga, ia mulai membuat gerakan. Tapi dunia tidak berubah. Dunia tetap keras. Perubahan tak kunjung tampak.
Lalu ia berpikir: “Mungkin aku terlalu luas. Aku akan ubah negaraku saja.” Maka ia fokus pada isu nasional. Mengadvokasi, menulis, kampanye sosial. Tapi lima tahun berlalu, tak banyak yang berubah. Birokrasi terlalu rumit, mental masyarakat belum siap.
Ia pun menyempitkan lingkup lagi: “Aku akan ubah provinsiku.” Tapi lagi-lagi gagal. Infrastruktur lemah, manusia tak peduli. Maka ia beralih ke kabupaten. Lalu ke kecamatan. Kemudian ke desa. Namun tetap, hasilnya tak sebanding dengan ekspektasi.
Akhirnya, ia menyerah pada cita-cita besarnya. Ia berkata: “Mungkin aku hanya bisa mengubah keluargaku.” Tapi bahkan itu pun tak mudah. Banyak konflik kecil, perbedaan prinsip, ego, dan luka masa lalu.
Hingga akhirnya, saat ia menjelang ajal, seseorang bertanya, “Apa yang kau pelajari dari semua perjalananmu?”
Ia menjawab, “Aku baru sadar, seharusnya aku mulai dari diriku sendiri. Jika aku dari awal memperbaiki diriku akhlakku, pikiranku, keimananku maka mungkin aku bisa menginspirasi keluargaku.
Jika keluargaku baik, maka mereka bisa memberi pengaruh pada tetangga, masyarakat, hingga satu bangsa. Tapi aku memulainya dari luar, bukan dari dalam. Itu kesalahan terbesarku.”
Ini bukan sekadar cerita fiksi. Ini cermin bagi kita semua. Bahwa perubahan besar selalu dimulai dari perubahan diri. Tak ada revolusi yang abadi tanpa reformasi pribadi.
Bangun Dirimu, Maka Dunia Akan Mengikutimu
Kita terlalu sering menuntut dunia berubah, tapi lupa bertanya apakah kita sudah berubah. Kita ingin istri kita taat, tapi salat kita masih bolong. Kita ingin anak kita sopan, tapi lisan kita masih kasar. Kita ingin masyarakat sadar, tapi kita masih sibuk dengan diri sendiri.
Padahal, dunia ini dibangun dari orang-orang kecil yang mau memperbaiki dirinya. Hasan Al-Banna tidak pernah jadi presiden, tapi gagasannya mengguncang dunia.
Ia istiqomah, meski akhirnya syahid tanpa menikmati kemenangan. Tapi api yang ia nyalakan tak padam hingga kini.
Maka, jangan pernah anggap kecil langkah-langkah perbaikan diri. Karena dari situlah semua perubahan besar bermula.
Tetaplah Berjalan Meski Terbata
Allah tidak menuntut kita menang. Allah hanya menuntut kita berjuang. Dan istiqomah adalah bentuk tertinggi dari perjuangan. Jangan lemah hanya karena hari ini jatuh.
Jangan menyerah hanya karena tilawahmu berkurang. Jangan berhenti hanya karena kecewa pada manusia.
Kita bukan malaikat. Kita bukan Rasulullah yang maksum. Tapi kita bisa berusaha. Berdoa. Menangis kepada Allah. Sebab Allah tidak menilai hasil. Allah menilai niat dan kesungguhan.
“Maka tetaplah berjalan di atas jalan yang benar, meski tak banyak yang menempuhnya. Karena kelak, kita akan dimatikan sesuai dengan kebiasaan kita semasa hidup.”
Mari Ukir Sejarah dari Dalam Diri
Islam pernah memimpin dunia selama 1200 tahun, dari zaman Khulafaur Rasyidin hingga Utsmaniyah. Tapi semua itu bukan terjadi dalam semalam. Ia dibangun oleh generasi yang sabar, kuat, dan istiqomah.
Hari ini kita mungkin tak punya kekuasaan, tapi kita punya diri. Kita punya hati. Mari kita mulai perubahan dari yang paling dekat.
Karena ketika satu pribadi membaik, satu keluarga akan kuat. Ketika keluarga kuat, masyarakat tangguh. Dan masyarakat yang tangguh akan melahirkan pemimpin yang jujur.
“Jangan remehkan langkah kecil dalam kebaikan. Karena konsistensi adalah kunci yang membuka pintu perubahan besar.”
Semoga kita termasuk hamba-hamba yang tetap bertahan, tetap melangkah, tetap memperbaiki diri meski perlahan. Karena Allah bersama mereka yang sabar dan istiqomah.
*Penulis merupakan Aktivitas Pergerakan Jambi

