JANJI YANG TERENGGUT

oleh -152 views
Sumber foto: Media Canva

Oleh Ibnu Al Amin
(Pendidik di SMPN 19 Batanghari)

Ketika piringan matahari secara keseluruhan hampir hilang dari cakrawala. Menyisakan bias cahaya berwarna jingga, seakan tak ingin pergi tanpa kesan yang mendalam, maka lukisan awan-awan berbentuk tak beraturan membuat barisan artistik dan menggoda. Terkadang ia terlihat seperti makanan, hewan atau wajah seseorang di mata insan yang menikmatinya.

Sore itu melintas seorang lelaki tua dengan sepeda motor bututnya. Tampak adanya cinta dan kesetiaan terpancar dari pengendara dan yang dikendarainya. Ketika lelaki itu sampai pada tujuannya, dengan segera diparkirkannya sepeda motor kesangan itu secara hati-hati dan rapi. Dan lelaki itu pun melesat masuk kedalam toko sepatu kenamaan di kota tersebut.

Dipilah-pilih dari setiap sudutnya guna menemukan warna, ukuran dan model bentuk yang diharapkan dalam relung hati terdalamnya. Cukup lama juga dalam menentukan pilihan tersebut, membuat aku yang duduk diteras toko sambil menikmati secangkir moka merasa heran. Sebenarnya, toko sepatu ini tidak hanya menyediakan berbagai macam sepatu tetapi juga terdapat gerai tempat bersantai didepannya, yang menyediakan berbagai macam minuman serta beberapa makanan ringan.

Tak lama kemudian, lelaki itu pun menuju kasir toko “Mas, bayar yang ini ya!” dengan nada lembut namun mantap dan tegas. Petugas kasir pun dengan segera melakukan scanner harga dari sepatu tersebut. “tiga ratus lima puluh ribu rupiah pak” ujar petugas kasir. Kemudian bapak tersebut tersenyum menganguk. Tangan kanannya pun merogoh ke saku celana belakang mengambil dompet, kemudian mengeluarkan uang lembaran pecahan seratus ribu tiga lembar dan lima puluh ribu satu lembar. “Ini mas uangnya” Balas lelaki itu dengan menyodorkan pada petugas kasir.

“Baik pak, sebentar ya” Petugas kasir menerima uangnya. Kemudian jarinya sibuk menekan angka-angka pada tombol komputer. Tak berapa lama keluarlah struk harga sebagai bukti pembelian. “Ini pak barangnya dan nota harganya” Menyerahkan kepada lelaki itu secara lengkap. “Iya mas, terima kasih banyak” Balas lelaki itu mengambil barangnya dan langsung pergi keluar.

Namun, ketika lelaki itu hendak menuju tempat parkiran mendadak saja awan hitam pekat menggulung. Suasana yang tadinya cerah mendadak menjadi sedikit berangin-angin. Kemudian, di susul dengan rintik-rintik air dari wajahnya langit. Kian lama cukup deras pula menerpa. Dan pada akhirnya lelaki tua itu pun mengurungkan niatnya untuk segera pulang. Dia pun hanya berdiri di ujuang dekat motornya. Tanpa basa-basi aku pun langsung mendekati bapak tersebut,

“Pak, jangan berteduh disini. Nanti lama-kelamaan basah”. Ajakku dengan lembut sembari senyum. Namun, lelaki tua itu seakan menolak untuk ku ajak. Akupun berusaha membujuknya kembali. Aku sebenarnya merasa iba karena kondisinya yang sudah cukup tua dan takutnya tidak kuat jika berdiri menunggu hujan reda. Akhirnya, lekaki tua tersebut pun luluh dan menuruti ajakanku.

Setelah lelaki itu duduk berhadapan denganku, dengan segera kulambaikan tangan kanan. Tak berapa lama, pelayan pun datang. Dan aku pun menyodorkan sebuah tulisan, pelayan tersebut mengangguk menandakan mengerti tentang maksud dan tujuanku.

“Sebentar ya mas”. Ujarnya sopan. “Iya mbak, terima kasih” Balasku cepat. Sembari menunggu pesanan datang, aku pun membuka pembicaraan.

“Maaf pak, saya Dimas. Kalau boleh tahu bapak sedang membeli sepatu ya?” Ujarku lirih.

“Iya mas. Saya Trisno. Makasih loh mas sudah diajak duduk disini. Sebenarnya saya sedikit tidak percaya diri disini. Maklumlah tidak biasa. Hehe…” Balasnya sebari terkekeh malu-malu. “Tidak perlu berterima kasih segala pak. Saya hanya melihat bapak disudut sana dan kebetulan pula saya sendirian. Jadi ya sekalian saja pak”. Balasku mulai mencairkan keadaan.

“Iya mas, saya sedang beli sepatu untuk anak kesayangan” Senyumnya datar. Akupun mulai seriusan untuk terus memperhatikan pembicaraan. Tiba-tiba,

“Mas ini pesanannya” Ucap pelayan dengan membawa nampan berisi secangkir kopi susu dan sepiring jamur crispy. “Iya mbak terima kasih” Jawabku. Pelayan itu pun meninggalkan kami kembali. Lelaki tua itu pun berujar “Wah, jadi merepotkan mas ginian. Ndak enak saya mas”. “Tidak usah sungkan gitu pak. Anggap aja ini sebagai ucapan terima kasih dari saya, sebab bapak sudah sudi menemani saya. Monggo, silahkan di minum pak, selagi masih hangat” Balasku mantap.

Pak Trisno pun menikmati suguhan kopi susu hangat yang sudah tersaji dengan pelan-pelan. Suasana hujan yang menemani semakin menciptakan suasana kehangatan dalam pembicaraan kami.

“Maaf pak kalau boleh tahu, anak bapak usianya berapa tahun?” Sambungku lagi sembari mengambil jamur crispy. Pak Trisno diam sejenak,

“Anak saya usia 13 tahunan mas. Sedang duduk dibangku Sekolah Menengah Pertama. Dia sosok gadis yang cantik dan sangat periang. Namanya Annisa Humairah”. Jawabnya dengan memburu.

“Wah, seorang perempuan. Saya yakin hatinya lembut seperti bapak dan parasnya secantik ibunya” Timpalku pula.

“Mas sudah punya anak?” Tanya Pak trisno balik. Aku pun tertunduk malu dengan keadaan saat ini. Sebab, alasanku belum pulang ke rumah sore hari ini karena sedang ada persoalan di rumah bersama istri.

“Maaf mas, kalau menyinggung”. Timpalnya lagi. “Tidak apa-apa pak. Sebenarnya saya baru menikah satu tahun yang lalu. Istri saya baru hamil 3 bulan. Akan tetapi, beberapa hari terakhir ini saya ada sedikit persilisihan paham dengannya.” Terangku perlahan.

“Oalah gituh toh mas. Mas, kalau bapak boleh berikan saran, sebaiknya jangan terlarut dalam emosional. Sebab, itu akan merugikan diri kita sendiri”. Nasihat Pak Trisno.

“Mas, saya dahulu seorang preman di pasar. hari-hari saya banyak dihabiskan dengan aktivitas berjudi, merokok dan lain-lainnya. Sampai saat itu usia 40 tahunan saya diberikan karunia seorang anak yang sangat didambakan. Sebab, sudah hampir 15 tahun menikah tak kunjung juga diberi seorang anak. Ketika itu juga saya tunaikan nazar untuk berhenti dari kehidupan gelap saya. Saya beralih profesi menjadi seorang ojek dan pengantar sayur ke warung-warung makanan dari pasar”. Ujarnya mengingat masa lalu yang suram.

Akupun cukup terkejut mendengarkan pernyataan dan cerita dari pak Trisno. Sebab, dia sama sekali tidak terlihat garang, melainkan lemah lembut dan santun. Membuat aku semakin penasaran ingin mendengarkan kisahnya lagi. Sebelum melanjutkan, Pak Trisno menyeruput kopi susunya kembali, selanjutnya menghela napas panjang.

“Terus mas, karena profesi saya saat ini hanya mengojek dan mengantar sayuran keliling. Makanya penghasilan pun tidak terlalu menetap. Satu bulan yang lalu anak saya semata wayang itu berulang tahun. Genap usia yang ketiga belas tahun mengisi keluarga kami”. Matanya mulai nanar.
“Seumur hidup, saya tidak pernah memukul istri ataupun anak gadis saya. Karena prinsip saya pantang untuk menyakiti hati perempuan yang baik perilakunya. Kalau ada lelaki yang menyakiti hati perempuan tak lebih dari sampah mas”. Timpalnya lagi dengan mencoba menenangkan diri.

Aku pun hanya mengangguk mendengarkan cerita dari pak Trisno. Ternyata masa lalunya yang sebegitu rumit dan gelap tersimpan hati yang mulia jua. Sungguh menilai manusia itu bukan hanya dari covernya belaka.

“Bulan lalu, anak saya begitu manja dengan Ibunya. Dia dalam satu minggu selalu minta makan bersama, serta minta disuapin. Sedangkan, saya sudah terbiasa menghantarkannya kesekolah. Pagi itu sebelum berangkat ke sekolah dia pernah menyampaikan kepada saya bahwa ketika ulangtahun ingin dibelikan sepatu idamannya. Sebab, sepatu yang dia kenakan sudah robek sedikit diujungnya. Kemudian, kepada ibunya juga meminta untuk memelihara bunga mawar putih”. Sambung ceritanya dengan mata yang berusaha tegar namun tak terelakkan untuk menetes. Dengan cepat pula diambil tisu lalu menghapusnya.

“Bahkan mas, saya masih menyimpan foto sepatu yang diinginkannya. Kemudian, saya pun berkata padanya bahwa ‘bapak belum punya uang kalau pas ulang tahunmu, insya Allah sebulan lagi terkumpul’ dia pun mengatakan tidak apa-apa mas. Lalu, pergilah saya mengantarkannya kesekolah”. Sambungnya lagi dengan cukup tenang.

“Tapi, setelah jam sekolah selesai, anak saya menghubungi meminta untuk dijemput di halte penumpang seperti biasa. Akan tetapi, saya saat itu sedang ada pesanan mengantar sayuran. Saya pun mengucapkan padanya untuk menunggu sejenak. Kemudian telpon ditutup olehnya mas”. Mencurahkan dengan ikhlas.

“Setengah jam setelah telpon tersebut, handphone saya berbunyi lagi. Ternyata ada telpon dari pihak sekolah yang mengatakan bahwa anak saya kecelakaan mas. Ada mini bus yang oleng dan menabrak halte penumpang depan sekolah. Anak saya menjadi salah satu korbannya.

Saya pun pacu kendaraan yang terpakir disana dengan sepenuh tenaga agar segera sampai rumah sakit. Sampai dirumah sakit anak saya sadarkan diri, lalu dia hanya berujar ‘Bapak maafkan nisa ya pak, maafkan nisa… maafkan nisa…’ dan saya hanya mengangguk. Sembari menahan tangis. Dan akhirnya dia telah tiada mas”. Ucapnya lebih tegar.

“Ya Tuhan, bapak kuat sekali. Sabar ya pak!” Tanpa sadar aku pun ikut merasakan kesedihan dari bapak Trisno.

Hujan pun ternyata lambat laun mereda, seiring dengan kisah pak Trisno. Setelah tenang pak Trisno pun menghabiskan kopinya, selanjutnya diapun berdiri dan mengatakan bahwa jangan pernah sia-siakan kesempatan membahagian orang yang kita miliki sebelum kesempatan itu lewat dikekang waktu. Pak Trisno pun berpamitan undur diri karena sebentar lagi maghrib. Namun, sebelum dia memutar motornya akupun berlari menghampiri dan menyodorkan satu boks berisi dua buah pot berisi bunga mawar putih dan merah. Semabari ku ucapkan,

“Pak, ini untuk istri bapak dan nisa. Anggap sebagai ucapan terima kasih lagi karena sudah berbagi kisah dan meninggalkan nasihat”. Bapak Trisno pun terharu, dan mengucapkan terima kasih sebanyak-banyaknya karena sudah diberi bunga mawar dan minum. Dan membalas,”Assalamua’alaikum Mas”
“Wa’alaikumussalam Pak” Jawabku.

Selanjutnya, kuambil handphone di saku baju dank u telpon istri dirumah “Ma, sore ini papa pulang! Assalamu’alaikum.” Kututp telpon. Dan menuju parker, ku lihat langit tampak seburat cahaya warna-warni yang di sebut pelangi. Ternyata untuk menikmati pelangi kita harus bertemu awan mendung bergelayut terlebih dahulu.

Berakhir

Editor: Renilda Pratiwi Yolandini