Oleh : Ustad Habibullah*
Oerban.com — Seabad terakhir menjadi saksi atas ketertinggalan umat Islam dalam berbagai aspek kehidupan. Ketertinggalan ini tidak hanya terjadi akibat runtuhnya kekhalifahan, tetapi juga dipengaruhi oleh kurangnya pemahaman terhadap ajaran Islam yang sesungguhnya, khususnya dalam memahami dan menerapkan Al-Qur’an.
Saat ini, meskipun banyak umat Islam yang mampu menghafal Al-Qur’an, hanya sedikit yang benar-benar memahami makna dan pesan yang terkandung di dalamnya.
Di masa Rasulullah dan para sahabat, mereka tidak sekadar menghafal ayat-ayat Al-Qur’an, tetapi juga mendalami maknanya sebelum beralih ke ayat berikutnya. Mereka berusaha mengamalkan setiap nilai yang diajarkan Al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari.
Namun, seiring waktu, terjadi pergeseran di mana banyak yang hanya fokus pada hafalan tanpa menggali esensi ajaran yang terkandung dalam kitab suci ini.
Salah satu keistimewaan Al-Qur’an adalah bahwa kitab ini tetap terjaga keasliannya hingga hari kiamat. Allah SWT telah menjamin keutuhan Al-Qur’an sebagaimana yang disebutkan dalam Surah Al-Hijr ayat 9.
Berbeda dengan kitab suci lain yang mengalami perubahan dan memiliki banyak versi, Al-Qur’an tetap satu dan tidak mengalami perubahan dari masa ke masa.
Penjagaan ini tidak hanya dalam bentuk hafalan, tetapi juga melalui jalur sanad yang memastikan bahwa bacaan Al-Qur’an tetap otentik sebagaimana yang diajarkan oleh Rasulullah SAW.
Lebih dari sekadar kitab suci, Al-Qur’an juga merupakan sumber ilmu pengetahuan yang luas. Tidak hanya membahas aspek keagamaan, tetapi juga menyentuh ilmu sosial, politik, dan bahkan sains.
Banyak fenomena ilmiah yang baru ditemukan dalam era modern ternyata telah disebutkan dalam Al-Qur’an sejak lebih dari 1400 tahun yang lalu, seperti keberadaan sungai di bawah laut yang telah dikonfirmasi oleh para ilmuwan saat ini.
Fakta ini membuktikan bahwa Al-Qur’an bukan hanya petunjuk kehidupan spiritual, tetapi juga sebagai panduan bagi umat manusia dalam berbagai aspek kehidupan.
Sayangnya, saat ini pemahaman terhadap Al-Qur’an masih terbatas, bahkan di kalangan umat Islam sendiri. Sementara itu, banyak orang non-Muslim yang justru lebih giat dalam mempelajari isi Al-Qur’an demi memahami agama Islam lebih dalam.
Hal ini seharusnya menjadi cambuk bagi umat Islam untuk lebih serius dalam mengkaji dan menerapkan ajaran Al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari.
Dalam konteks politik, Islam tidak bisa dipisahkan dari sistem pemerintahan. Konsep kepemimpinan dan strategi dalam mengelola negara telah diatur dalam Al-Qur’an.
Banyak ayat yang membahas tentang tata kelola masyarakat, strategi perang, hingga sistem ekonomi yang berkeadilan. Oleh karena itu, pemisahan Islam dari politik merupakan suatu bentuk distorsi terhadap ajaran Islam yang sesungguhnya.
Kunci utama untuk kembali pada kejayaan Islam adalah dengan memahami, mengamalkan, dan menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman hidup.
Dengan meningkatkan kualitas pemahaman terhadap kitab suci ini, umat Islam tidak hanya akan memperkuat iman, tetapi juga dapat mengoptimalkan kehidupan sosial dan politik dengan prinsip-prinsip yang diajarkan oleh Islam.
Maka dari itu, sudah saatnya kita tidak hanya membaca dan menghafal Al-Qur’an, tetapi juga menggali makna dan menerapkannya dalam kehidupan nyata.
*Penulis merupakan Aktivis Pergerakan