email : oerban.com@gmail.com

30.2 C
Jambi City
Jumat, September 24, 2021
- Advertisement -

Kiki Fatmawati, Dari Lomba Menulis Hingga ke New Zealand

Populer

Kota Jambi, Oerban.com – Selamat pagi, sahabat. Semoga selalu sehat dan bahagia ya. Kali ini edisi tokoh inspiratif oerban akan bercerita tentang salah satu pemuda Jambi yang prestasinya sudah tidak diragukan lagi, bahkan sampai menginjakkan kaki ke New Zealand pada tahun 2016 loh sahabat. Wah, admin rasanya juga ingin ke luar negeri, apalagi gratis hi hi. Yuk lah, kita kita kenalan!

/1/Tentang Kiki Fatmawati

Namanya Kiki Fatmawati, ya, salah satu merek buku tulis admin selama sekolah dan nama istri presiden pertama RI yang muda dan cantik. Kiki sama seperti kita sahabat, berasal dari kota yang sering disambangi asap, permasalahan penambangan emas tanpa izin (peti), sungai yang tercemar, permasalahan sampah, tapi orang-orangnya tetap santuy, yap, Jambi sahabat.

Kiki kecil pernah bercita-cita menjadi arkeolog, karena ia merasa suka meneliti dan kepo. Wah, admin juga kepo, tapi belum berkeinginan jadi arkeolog ni sahabat, nggak tau kalo besok. Hal random yang pernah dilakukan Kiki adalah memakai kaos kaki beda motif saat kerja, ha ha receh ya sahabat. 

Saat ini Kiki baru saja diamanahkan sebagai ketua forum lingkar pena (FLP) wilayah Jambi. Ia juga sedang terlibat project penelitian kualitatif yang melibatkan masyarakat terkait pelestarian sosial dan budaya daerah, menjadi editor penulisan di penerbitan buku Jambi, Salim Media Indonesia sekaligus berjualan. Wah, sungguh multitasking mbak Kiki ini.

/2/Tentang prestasi dan perjalanan

Setelah kepoin instagramnya, admin jadi mesem-mesem sendiri sahabat. Pasalnya, Kiki ini termasuk yang paling banyak melakukan perjalanan ke luar kota tanpa biaya karena ajang perlombaan. Wah, wah keren banget ya. Salah satu insight perjalanan Kiki bahkan bergaris-garis kecil seperti story Instagramnya olshop hi hi. Saat ditanya apa yang membuatnya bisa demikian, Kiki menjawab karena setiap orang memiliki pilihan untuk menjemput rezekinya, versi Kiki ia menjemput dengan prestasi.

“Qodarullah, semua atas izin Allah. Setiap manusia memiliki rezekinya masing-masing. Balik lagi ke kita, menjemputnya dengan cara seperti apa. Nah saya pun punya pilihan untuk menjemputnya dengan jalan prestasi salah satunya menulis. Genre tulisan yang saya tekuni kala itu adalah non fiksi seperti karya ilmiah, essay dan sejenisnya. Melalui menulis ilmiah itulah atas izin Allah, saya bisa mengunjungi banyak daerah, bertemu banyak wajah dan beragam usia untuk saling belajar. Hal ini tentu tidak akan saya dapatkan dengan hanya duduk dikelas saja saat kuliah. Selain itu pula saya getol menulis dalam event dan perlombaan dikarenakan saya bukan anak beasiswa sehingga saya memilih alternative menulis sebagai fokus saya untuk bisa mandiri selama kuliah tanpa membebani orang tua, dan jalan-jalan adalah bonusnya.” Ujar Kiki.

Tak tanggung-tanggung sahabat, dari yang admin perhatikan, Kiki sudah menginjakkan kakinya di Sumatera Barat, NTB, Bali, Riau, Yogyakarta, Tanjung pinang, Batam, Solo, Banten, Jakarta, Kendari, Mojokerto, Surabaya, Malang, Bandung, dan Makassar.

Tidak berhenti sampai disitu, admin pun menanyakan tentang perjalanan Kiki ke New Zealand. Ternyata pengalaman Kiki tersebut diawali dari perlombaan yang diadakan oleh Jawa Pos salah satu perusahaan media terbesar dan tertua di Surabaya. Event yang diikuti saat itu bernama Zetizen, event yang diperuntukkan untuk anak muda generasi Z khususnya dengan rentang sia 13-21 tahun yang memiliki aksi positif yang mewakili daerahnya masing-masing untuk mempersentasikan aksi apa yang sudah diberikan untuk masyarakat dan lingkungan sekitarnya. Pada saat itu Kiki mempersentasikan aksi sosial yang sedang ia geluti yaitu, mendirikan “Pondok Baca Asri’ dan memberdayakan Suku Anak Dalam di bidang pendidikan dan ekonomi kreatif dengan mengelola biscuit ikan bersama SAD di Nyogan Muaro Jambi. Berkat aksi itulah Kiki masuk Top Five dan berangkat ke Surabaya dengan seleksi dari Jambi Independent yang sebelumnya bersaing dengan sesama pemuda daerah Jambi.

“Saat di Surabaya itulah saya persentasi di depan perwakilan Duta New Zealand bersama ratusan anak lainnya dan pada malam final Alhamdulillah terpilih sebagai “Youth Ambassador New Zealand for Jambi Province” yang mewakili Jambi terbang ke New Zealand bersama 33 anak lainnya yang mewakili provinsinya masing-masing” kata Kiki.  Wah, ini kalo versi chat, admin nulisnya pakai emoticon berkaca-kaca ini.

New Zealand mendapat julukan sepucuk surganya dunia, dan benar saja banyak tempat yang dikunjungi Kiki mulai dari kampus (Victoria University of Newzealand, The University of Auckland). Menginap di asrama kampus, breakfast di asrama tersebut dengan ilustrasi seolah kita sedang kuliah di sana. Selain itu juga Kiki dan rombongan mengunjungi ASB Bank, Onetangi beach Waiheke, Hobbiton lokasi pembuatan Lord of the Rings, lake Taupo yang airnya berwarna toska sambilan bermain huka falls sejenis rafting dengan kecepatan 120km/jam, naik hellikopter mengelilingi kota Wellington, Menonton pertunjukkan hewan ternak di The Agrodom yakni langsung di kandang ternaknya, mengunjugi perkebunan Kiwi, mengunjungi kebun binatang tongariro national park, berfoto di Mountain elf New Zealand, menyanyikan lagu Indonesia Raya di KBRI, kunjungan ke kantor kedutaan New Zealand bertemu menteri dan kabinet, serta yang paling mengasyikkan menurut Kiki adalah diberi kesempatan untuk bermalam dan menelusuri kehidupan suku Maori, suku aslinya New Zealand mulai dari mengenal makanan tradisional dan bernyanyi bersama dengan bahasa Maori bahasa asli Negara itu di perkampungan wakarewarewa. 

Namun, menurut Kiki ada sedikit duka yang ia ingat, sahabat. “Dukanya barangkali saya saat menginap di asrama kampus Auckland tepatnya dilantai dua saat itu, karena penasaran dengan view diluar asrama dari ketinggian saya iseng membuka jendela kamar dan alhasil saya tidak bisa menutup jendela itu kembali dan semalaman saya harus merasakan dingin yang begitu luar biasa kurang lebihnya 8 derajat ditambah udara malam hari dan tentu sangat mengigil we” Oalah, mbak Kiki.

Selain cerita perjalanan, Kiki juga membagikan beberapa keberhasilannya di bidang sosial yang akan membuat sahabat auto berpikir, aku sudah melakukan apa ya, eh he he.

“Alhamdulillah Allah masih memberi langkah ini untuk terlibat dalam bidang sosial sedari duduk dibangku kuliah. Saat itu saya lolos PKM-M yakni pemberdayaan masyarakat yang didanai hibah kemenristek dikti untuk pengelolaan ikan menjadi biskuit. Kemudian lolos PIMNAS ke-29 di Universitas Haluoleo (UHO) di Kendari Sulawesi Tenggara. Saya juga mendirikan Pondo Baca Asri dan Perpustakaan SAD Nyogan menggiatkan literasi. Selain itu saya pernah bertugas di Kementrian Sosial dan memberdayakan masyarakat Bima Nusa Tenggara Barat di Tahun 2019 untuk mengolah limbah kulit pisang menjadi kerupuk bernilai ekonomis. Dan memperoleh apresiasi pendamping sosial terbaik di angaktan 2019 dari Kementrian Sosial RI” Katanya.

Menjadi pemuda yang produktif ala Kiki

Baca juga  SISIR KALANGAN MAHASISWA, GARBI MILENIAL RESMI DI BENTUK
Baca juga  Anak Muda Aceh Ini Telah dilantik sebagai Duta Petani Millenial

Sahabat, sebagai seorang pemuda kita perlu menentukan bidang yang menjadi passion kita.  Untuk menentukan bidang yang tepat, menurut Kiki ada beberapa cara, utamanya kita tidak boleh ikut-ikutan orang lain. 

“Jangan sesekali mengikuti orang lain, karena kemampuan diri kita hanya kita yang tahu. Jangan mencoba menjadi orang lain, karena dengan bersyukur terhadap kemampuan yang kita miliki akan bisa menjadi sebuah kelebihan jika kita tekuni.  Setiap orang itu memiliki jatah suksesnya masing-masing, nikmati prosesnya. Melihat pencapaian orang lain boleh, tapi yakinlah mereka yang terlihat wara wiri juga tidak se-happy yang kita lihat di sosial media. Jadi cukup perbaiki niat, luruskan niat untuk terus berbuat baik, berdampak baik dan memberikan yang terbaik di sekitar insyaAllah kebaikan juga akan mendampingi selama proses. Apapun bidangnya nanti berawal dari niat yang lurus, akan membawa kita ke tujuan baik tanpa kita sadari. Karena saya sendiri jebolan sains dan ternyata saat ini terlibat dalam pekerjaan sosial dan literasi he he” wah, ini bener sekali mbak Kiki.

Tips menulis ala Kiki yang berhasil membawanya kemana-mana ia bagikan pula pada kita. Menurut Kiki menulislah untuk menebarkan kebaikan, menulis hal-hal yang disukai, pilihlah genre fokus tulisanmu, membuat timeline waktu penulisan, mempublish tulisanmu sebanyak mungkin di berbagai sosial media, drafting tulisan dan terbitkan menjadi karya dan buku.

Sedangkan untuk menjadi pemuda yang produktif menurut Kiki, kita perlu menjadwalkan dan membuat timeline harian untuk aktivitas yang akan dikerjakan dipagi hari atau setiap harinya. Buat target bulanan dan tahunan yang harus tercapai, jangan pernah menunda kesempatan yang ditawarkan baik dalam hal pekerjaan dan amanah lainnya. Jangan pernah terlena dengan waktu luang, dan carilah sebanyak mungkin pengalaman dengan tetap berlandaskan niat yang lurus untuk kebaikan. Tetap khusnudzon dalam setiap pencapaian baik yang belum berhasil ataupun sebaliknya. 

Editor : Renilda Pratiwi Yolandini

Baca juga  ANAK MUDA "THE NEW LEADER"
- Advertisement -
- Advertisement -

Artikel Lainnya

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -

Berita Terbaru