LEBIH BAIK BUNGKAM

oleh
ilustrasi (sumber photo : sketsaunmul.co)

Oleh : Saira

Allah saja memusuhi orang kafir, apalagi kita hamba-Nya. Dilanjutkan dengan penjelasannya pada Al-Qur’an Surat Al-Baqarah ayat 98 yang artinya “ Barang siapa menjadi musuh Allah, malaikat-malaikat-Nya, rasul-rasul-Nya, Jibril dan Mikail, maka sesungguhnya Allah musuh bagi orang-orang kafir . Styana membuka pembicaraan di tengah kesibukan pribadi masing-masing santri rumah tahfidz SAQU. Di ruang depan ada yang khusuk tengah mentartilkan kalam Allah, di dapur ada beberapa santri yang sedang makan malam dan beberapanya lagi hanya duduk santai menikmati waktu istirahat.

Sair yang santai langsung tertegun ikut mendengarkan. Sementara, Tipah menghentikan tilawahnya, ia tepat berada disamping Styana menoleh padanya. “Nah, Allah memusuhi orang kafir ?” tanya Tipah tak terima. Tipah adalah salah satu santri yang sensitif dan senang berdebat jika ada yang tak sesuai dengan pendapatnya. “Iya, ini ada di dalam surah ini”. Styana menunjukkan ayat pada mushaf yang ia genggam. Sair mangut-mangut setuju dengan Styana. Sementara, Tipah angkat bicara “Lalu kenapa Allah menciptakan banyak agama jika dia memusuhinya ?”.

“Astaghfirullah” semua santri beristighfar sembari tertawa mendengar penyataan konyol Tipah. Semua santri memaklumi apapun yang dilakukan Tipah. Tipah santri yang baru memulai ingin memahami agamanya, sangat sensitif jika ada pernyataan yang tidak sesuai dengan logikanya. Terlalu suka berdebat, bersih kukuh dengan pemikirannya meski sangat jelas yang ia perdebatkan telah ada di dalam sumber paling valid yaitu kitab suci Al-Qur’an pedoman umat muslim.

“Kak, semuanya itu ada di dalam Al-Qur’an tinggal kita baca dan memahaminya” Mela ikut menjelaskan. “Tapi tu…” Tiba-tiba Styana memotong pembicaraan Tipah “Coba antum baca buku runtuhnya ketuhanan yesus, disitu ada jawabannya”. Tipah tak menurut, tetap pada pendiriannya sebelum mendapat jawaban tepat yang sesuai logikanya. Suasana wengi itu jadi gaduh. Ntah sampai mana perdebatan itu berlanjut. Tiba-tiba lanjut ketopik aksi 212. “Lalu kenapa orang Islam sibuk dengan demo 212, sementara orang Kristen tidak mempermasalahkan itu, semua orang Islam, tapi tidak mencerminkan Islam berbuat demo berjilid-jild padahal dalam Islam melarang demo”.

Sair, santri yang paling mudah menyambar “itu bukan demo kak tapi aksi”. “Nah iya, tapi kenapa salah Ahok diperbesar padahal kata-kata Ahok sudah dipelintir oleh seorang oknum, bukankah ini untuk kepentingan politik semata bukan kepentingan umat. Kenapa ulama-ulama muncul di saat-saat pemilu muncul?”. Tipah menjelaskan panjang lebar tanpa titik ataupun koma, tanpa membiarkan santri lain angkat suara.
Semua santri tak terima apa yang dilontarkan Tipah, terutama Sair. “Kak kita tidak tahu kejadian sebenarnya” timpal Sair.