LIKA LIKU LAKI-LAKI GARBI

oleh -200 views
Deklarator GARBI Provinsi Jambi saat dialog kebangsaan di Palembang beberapa waktu lalu [sumber photo : oerban]

Oleh : Hendri. Y

Awalnya saya tidak terlalu ambil pusing dengan pernak-pernik Gerakan Arah Baru Indonesia (kita sebut saja GARBI agar mudah mengingatnya) ini, namun lama-lama perlu juga rasanya membuat satu kilasan balik agar semua menjadi clear dan mudah dimengerti tentang apa, bagaimana dan kemana organisasi ini menuju.

Ide tentang arah baru Indonesia memang lahir dari buah pikiran Anis Matta, dan pertama kali dilaunching pada saat musyawarah kerja nasional keluarga alumni kammi pimpinan Fahri Hamzah pada 3-4 Februari 2018 di hotel royal kuningan Jakarta.

Sebagai sebuah organisasi, ka kammi merupakan wadah berkumpulnya aktivis dengan latar belakang yang beragam bahkan sangat warna warni. Umur alumni kammi sebagai seorang aktivis sama tuanya dengan umur reformasi 1998. Dengan usia yang demikian alumni kammi sudah sangat matang dalam pluralitas ide, gagasan bahkan sikap politik. Sehingga ketika muncul ide tentang arah baru Indonesia yang dilontarkan oleh Anis Matta bukanlah sesuatu yang baru, karena sebelumnya ka kammi juga sudah membawa ide tentang “narasi besar Indonesia”.

Inilah perkawinan ide yang sempurna, Anis Matta datang dengan arah baru Indonesia, sedang Fahri Hamzah datang dengan narasi besar Indonesia. Dari perkawinan tersebut lahirlah sebuah visi besar Indonesia sebagai kekuatan kelima di dunia.

Dari beberapa penampilannya Anis Matta memang sudah menyiapkan sebuah kerangka gerakan dengan dimulai saat mendirikan “The Future Institute”. Lembaga ini secara aktif melakukan kajian-kajian ilmiah bersama para pakar untuk memikirkan Indonesia kedepan. Bahkan dalam beberapa kesempatan Anis Matta mengatakan bahwa sejak 2009 ia telah kehabisan ide untuk gerakan dakwah yang digawanginya bersama salah satu partai. Sehingga melalui lembaga the future institute ia terus mengkaji dan menelaah kejadian-kejadian baik yang ada di Indonesia maupun yang terjadi diberbagai kawasan. Sampai lah Anis Matta pada satu kesimpulan bahwa harus ada ide segar yang dibawa untuk Indonesia agar tetap survive dalam percaturan politik internasional, ide tersebutlah yang kini dikenal dengan menjadikan Indonesia sebagai KEKUATAN KELIMA DUNIA.

Kini kita ke Jambi. Yang namanya ide tentu semua orang punya hak untuk setuju ataupun tidak setuju, bagi yang setuju akhirnya mulai melakukan pertemuan-pertemuan di kafe-kafe sambil ngopi. Apalagi Fahri secara maraton menggelar kegiatan penyemaian ide arah baru Indonesia ini dilakukan dari kafe ke kafe. Diawali dengan roadshow pawai kebangsaan sampai kemudian berubah dengan kegiatan ngopi bareng Fahri. Di Jambi sendiri beberapa kali menjadwalkan agar Fahri bisa datang ke Jambi namun karena padatnya agenda dan permintaan sehingga sampai kinipun Fahri belum sempat datang ke Jambi. Namun begitu, kelompok pro arah baru Indonesia ini tetap melakukan pertemuan secara rutin semiggu sekali di kafe yang berbeda.

Sebut saja Nalta, Gafur, Uki, Irfan, Ferdia, Andika, Wawan dan Mahyudi setiap malam minggu menghabiskan waktunya untuk membicarakan tentang arah baru Indonesia ini, dan bagaimana agar terwujud menjadi sebuah gerakan. Sehingga pada medio 2018 dilakukanlah pertemuan disalah satu hotel di Jambi dengan mendatangkan “orangnya Anis Matta” dari Jakarta, yang dihadiri tidak saja oleh mereka yang tersebut diatas tapi juga oleh beberapa orang lagi termasuk koordinator Garbi sekarang Ustadz Abdul Rozak.

Gayung bersambut, pertemuan berikutnya juga dilakukan disalah satu hotel di Jambi dengan membicarakan langkah-langkah kedepan yang akan dilakukan. Sampai pada suatu hari yakni tanggal 27 Oktober 2018 dideklarasikanlah berdirinya Garbi Provinsi Jambi di hotel Abadi dengan ketua sementara Ustadz Abdul Rozak.

Seiring berjalannya waktu rotasi ketua Garbi berlangsung dari Ustadz Abdul Rozak kepada Ustadz Juanda. Rotasi ini disebabkan karena Ustadz Abdur Rozak diminta sebagai perpanjangan tangan tim Garbi pusat yang artinya beliau menjadi salah satu pimpinan Garbi pusat khususnya wilayah sumbagsel.

Waktu berlalu masapun berganti, kini ketua Garbi dialihkan kepada Hendri. Y dalam menggerakkan roda organisasi dan harus mengelola 7 struktur daerah sebagai gerbong Garbi. Diantaranya Kota Jambi, Kerinci, Sungai Penuh, Merangin, Sarolangun, Tebo dan Bungo.

Kini dengan berjalannya waktu, masing-masing daerah sudah terisi oleh kepengurusan dengan dinamika yang sangat beragam. Banyak orang yang ingin bergabung dengan Garbi, yang tentunya akan menguatkan pada satu sisi, namun disisi yang lain bisa jadi akan membuat lemah. Karena setiap orang yang bergabung dengan Garbi punya alasan masing-masing, ada karena ketokohan Fahri Hamzah, atau karena pesona Anis Matta, ada karena kecewa dengan salah satu partai atau karena di pecat partai tersebut (saya tidak sebutkan partainya, karena sudah pada tahu), ada karena kedekatan dengan pimpinan Garbi, atau karena ide Arah Baru Indonesia. Semuanya bisa dibenarkan, karena itu sudah menjadi pilihan. Kini tinggal bagaimana dan kemana Garbi ini?

Ditangan laki-laki yang penuh lika-liku, kita akan terus bergerak menyemai IDE “INDONESIA SEBAGAI KEKUATAN KELIMA DUNIA”. Ups! tentunya bersama para Srikandi.