MENYOAL PSIKOLOGIS FACHRORI UMAR

oleh -283 views

Oleh: MAHYUDI
Aktivis KA KAMMI Jambi

Hampir sebulan Fachrori Umar (FU) dilantik menjadi Gubernur Jambi. Perlahan namun pasti suhu politik dan birokrasi provinsi Jambi menghangat. Dan bisa jadi akan memanas. Hal ini tak lain faktor kursi wagub Jambi yang ditinggalkan FU karena naik strata menjadi Gubernur menggantikan Bang Zola.

Menurut Penulis, situasi yang di hadapi oleh FU sebenarnya tidaklah mudah. Tidak ada istilah bulan madu menikmati kursi empuk Jambi 1. Karena pada dasarnya amanah sebagai Gubernur tersebut memiliki konsekwensi berat. Terlebih Visi Jambi Tuntas 2021 harus di tunaikan tanpa ada sedikitpun jeda ataupun dispensasi.

Berangkat dari situasi ini, Penulis mengamati setidaknya ada 3 kondisi psikologis yang tengah di hadapi oleh FU saat ini. Bisa dikatakan memiliki daya tekan yang kuat terhadap kinerja FU sebagai nakhoda baru Jambi. Kondisi psikologis pertama adalah tersandera. Tak bisa dimungkuri kosongnya kursi Wakil gubernur sudah tentu akan menimbulkan gesekan kepentingan luar biasa diantara partai pengusung paket Zola – Fachrori. Menyatukan selera FU dan selera partai pengusung terutama PAN bukan pekerjaan mudah. FU tentu memiliki kriteria khusus terhadap calon wakilnya dan belum tentu juga parpol pengusung menyetujui kriteria tersebut. Dibutuhkan komunikasi politik yang panjang dan melelahkan yang akan menguras energi FU. Menjadi tantangan tersendiri bagi FU dalam meramu harmoni kepentingan masing-masing pihak. Kenapa Penulis menyebut hal ini bakal menjadi tantangan? Karena latar belakang FU yang berasal dari birokrat yang masih memiliki jalur Komunikasi – instruksi bersifat semi komando. Berbeda dengan pola komunikasi-instruksi di parpol yang sangat cair, multi kepentingan dan egaliter. Walaupun sekarang FU sendiri sebagai Pimpinan Parpol tingkat wilayah, tapi harus di sadari jam terbang tidak pernah bohong. Akankah FU berhasil menyatukan berbagai kepentingan atau benar-benar tersandera? Waktu lah yang akan menjawab.

Kedua, kondisi terbebani. Harapan masyarakat Jambi tentu amat besar kepada FU. Karena coreng pekat akibat kasus korupsi benar-benar belum seratus persen bersih dan pulih. Justru sekarang Jambi seperti tujuan “pelesiran” para penyidik KPK. Beberapa kali bahkan KPK dan aparat penegak hukum merilis indikasi prilaku tikus berdasi dari para pejabat di Jambi.

Visi – misi Jambi Tuntas 2021 yang di dalamnya memuat semangat pemerintahan bersih dan transparan serta akuntabel itu bukan visi bodong belaka. FU terbebani untuk memberikan bukti kepada publik bahwa dirinya dan seluruh jajaran pemerintah bersih dari praktik koruptif berikut derivatnya.

Di poin ini penulis juga ingin menekankan bahwa FU harus menjadikan situasi ini sebagai momentum kuat untuk membawa arus perubahan positif. Salah satunya mungkin dengan memilih calon wakil gubernur yang mampu memberi efek meningkatnya kepercayaan publik dan aparat penegak hukum kepada pemerintahannya. Sosok yang menjadi jaminan mutu sisi integritas dan rasa kepercayaan diri. Ini penting karena FU butuh partner tanpa cacat masa lalu sehingga energi bisa fokus untuk pembangunan Jambi bukan justru sibuk melakukan klarifikasi sana-sini terhadap sisi kelam masa lampau.

Ketiga, adalah kondisi malu. Sebelum kasus Zola, Jambi selama ini relatif aman dari ruang gosip korupsi yang nyaring terdengar hingga tingkat Nasional. Maksudnya Jambi belum termasuk dalam list merah kuning dan hijau KPK. Namun kini, Jambi masuk daftar merah bahkan hitam. Sedikit banyak ini tentu mempengaruhi FU dalam kancah relasi sosial pemerintahan baik dalam negeri maupun luar negeri. Bayang-bayang kelam terus menghantui. Hubungan antar pemerintah daerah/provinsi atau bahkan antar kota antar negara agak sulit di wujudkan. Misal kerjasama antar propinsi di Indonesia atau provinsi dari negara lain yang di kemas dalam program sister city. Kenapa, karena setiap hubungan kerjasama yang akan di bangun tentu memiliki beberapa paramater krusial seperti good governance–pemerintahan yang bersih.

Pada akhirnya, terlepas itu semua suka atau tidak, mampu atau tidak, FU harus berjalan menatap masa depan Jambi yang lebih cerah. Penting FU menjalankan sistem pemerintahannya dengan warnanya sendiri. FU harus menyadari bahwa dirinya bukanlah ‘tukang cuci piring’ semata, bukan bagian dari masa lalu yang berlumur pekat nya getah korupsi. Semoga