MERAWAT TANAH SURGA

oleh -154 views
Sumber foto: Ori D Zandra

Nenek moyangku seorang petani, tak pernah kekurangan nasi, sayur mayur melimpah ruah. Apa yang ditanam di tanah ini akan menjadi.

Negeriku subur dan makmur, jika kau tau tembok China atau tembok Konstantinopel, dulunya negeriku mempunyai tembok yang jauh lebih kokoh dari itu semua dan tembok ini tidak dibangun oleh manusia tapi di hadiahkan oleh sang Maha Pencipta.

Kemanapun kau memandang kau akan melihat tembok kokoh yang bewarna hijau, berbagai tanaman dan pepohonan hidup disana. Di jaga dan dilindungi oleh binatang-binatang buas yang hampir tak pernah mengganggu pribumi disini.

Ya, negeri Tanah surga, Kerinci namanya.

Dulu, masyarakatnya hidup rukun. Jangan khawatir tak punya beras atau makanan disini, masyarakatnya berbudi luhur sebelas dua belas sama kaum anshor, melayani tamu dengan hati yang tulus dan ikhlas. Tiap bertamu kau akan disuguhkan dengan nasi, teh, kopi dan nikmatilah sepuasnya.

Tapi itu dulu, saat masyarakatnya tulus merawat tanah surga ini, saat pemudanya dulu bangga menjadi petani, tak ada yang kelaparan, tak ada yang berhutang besar demi sebuah gengsi. Lain dulu lain sekarang. Kini, pemuda rela menggadaikan, menjual atau menukarkan tanah surga ini dengan gelar, sudahlah, tau sendiri ditukar dengan apa. PNS cita-cita kebanyakan orang. Tanah surga menjadi lengang karena intelektualnya membawa ijazah ke kota. Berebutan satu kursi kantoran dengan ribuan bahkan jutaan orang.

Tak ada yang salah dengan mereka, sah-sah saja mereka mengejar cita-cita. Yang salah adalah mengapa seakan kita tidak peduli lagi dengan tanah surga ini? Pemuda, pulanglah! rawatlah tanah surga warisan leluhur kita, lihatlah kayu-kayu dihutan kian berkurang, tanami lagi, jangan sampai benteng kokoh bukit barisan ini runtuh karena tak ada yang merawatnya, kembalilah pemuda. Jangan khawatir kau tidak makan disini. Disini udaranya segar, dingin, langitnya masih biru, kau tak butuh ac atau kipas angin, Semua alami.

Gunung yang kita banggakan, danau, air terjun, serta alam ini jangan kita biarkan dirusak oleh manusia-manusia serakah, satu saja pohon yang hilang, berapa oksigen yang berkurang, satu saja pohon ditebang tak akan mampu beton-beton bangunan itu memberikan angin segar. Tak ada alasan bagi kita untuk tidak kembali, kembali merawat tanah surga ini.

Penulis: Ori D Zandra
Editor: Renilda Pratiwi Yolandini