email : [email protected]

29.6 C
Jambi City
Senin, Juli 15, 2024
- Advertisement -

Mirisnya Akhlak Remaja Sekarang, Gagal Jadi Pendidik Generasi?

Populer

Oleh: Labibah Nur Rasyidah*

Oerban.com – Dalam beberapa tahun terakhir, kondisi akhlak anak remaja di Indonesia semakin memprihatikan. Kenakalan remaja, perilaku menyimpang, tidak ada empati dengan orang lain, dan hilangnya rasa hormat terhadap orang tua serta guru sering menjadi sorotan. Fenomena ini menimbulkan pertanyaan besar, apakah kita telah gagal mendidik generasi penerus bangsa?

Akhlak remaja yang mengkhawatirkan

Baru-baru ini, kasus yang melibatkan lima siswi remaja SMP menjadi viral di media sosial. Dilansir dari tribun-medan.com, beberapa remaja terlihat tertawa dan mengolok-olok Palestina saat makan di restoran cepat saji yang masuk daftar aksi boikot. Mereka juga mengatakan dalam video itu bahwa mereka menyamakan darah, tulang, dan daging ayam goreng dengan anak-anak Palestina. Tindakan ini bukan hanya tidak sopan tetapi juga menunjukkan kurangnya empati dan kesadaran mereka terhadap masalah serius yang terjadi di dunia.

Selain itu, akhir-akhir ini ramai dihebohkan dengan kabar remaja SMP yang terlibat tawuran. Dikutip dari Kompas.com, sekelompok remaja laki-laki melakukan tawuran, yang berakibat pada tewasnya seorang laki-laki berinisial M yang ditemukan tergeletak di Jalan Raya Sawangan, Kota Depok. Insiden ini menambah daftar panjang tindakan kekerasan dikalangan remaja yang semakin meresahkan.

Mengapa Akhlak Remaja Menurun?

Turunnya akhlak remaja di Indonesia menjadi fenomena yang mengkhawatirkan banyak pihak. Ada beberapa faktor yang menyebabkan turunnya akhlak remaja. Pertama, kurangnya perhatian dan pengawasan dari orang tua. Orang tua cenderung mengabaikan perkembangan anak karena kesibukannya dalam bekerja. Mereka sering kali tidak memiliki waktu yang cukup untuk mendampingi dan memantau perkembangan anak-anak mereka. Akibatnya, anak-anak merasa kurang diperhatikan dan cenderung mencari perhatian di luar rumah, yang bisa membawa mereka ke pengaruh yang negatif.

Baca juga  Analia, Potret Anak Berprestasi di Rumah Asuh Izzati Jannah

Kedua, lingkungan sosial juga berperan besar dalam pembentukan akhlak remaja. Masyarakat yang permisif terhadap perilaku menyimpang dan kurangnya sanksi sosial yang tegas membuat remaja merasa bebas melakukan apa saja tanpa takut mendapatkan konsekuensi. Hal ini menyebabkan mereka merasa bebas melakukan apa saja tanpa takut mendapatkan hukuman atau teguran dari lingkungan sekitar.

Ketiga, besarnya pengaruh teknologi dan media sosial. Teknologi dan media sosial memainkan peran penting dalam kehidupan remaja saat ini. Teknologi dan maraknya media sosial memberikan banyak manfaat, seperti akses mudah ke informasi dan kesempatan untuk belajar. Tetapi, meski memberikan banyak manfaat, media sosial juga membawa pengaruh negatif, terutama jika tidak diawasi dengan baik. Media sosial sering kali menjadi tempat penyebaran konten-konten negatif, termasuk kekerasan, pornografi, dan perilaku tidak bermoral lainnya yang dapat merugikan moral remaja.

Keempat, sistem pendidikan yang terlalu fokus pada aspek akademis dan mengabaikan pendidikan karakter. Seharusnya pendidikan karakter menjadi bagian integral dari kurikulum sekolah. Guru tidak hanya berperan sebagai guru mata pelajaran saja, namun juga sebagai pembimbing moral dan etika. Mereka harus mampu memberikan teladan yang baik dan membimbing siswa dalam membangun karakter yang kuat.

Tetapi, kita tidak bisa menyerahkan seluruh tanggung jawab pendidikan karakter pada sekolah saja. Pendidikan karakter juga perlu seimbang antara sekolah dan rumah. Di rumah, orang tua sangat berperan penting dalam mendidik moral dan etika pada anak. Orang tua harus aktif berkomunikasi dan memberikan contoh yang baik, sehingga nilai-nilai seperti sopan santun, hormat terhadap orang tua dan guru, serta empati bisa tertanam sejak dini.

Apakah kita telah gagal mendidik generasi?

Menurunnya akhlak remaja seharusnya menjadi cerminan dari kegagalan kita sebagai pendidik generasi. Ini bukan hanya tanggung jawab sekolah atau orang tua saja melainkan tanggung jawab bersama seluruh masyarakat. Berikut beberapa langkah yang dapat diambil untuk mengatasi masalah ini:

Baca juga  Bermain sambil Belajar, Kementan Kenalkan Pertanian pada Generasi Z

1. Peran orang tua

Orang tua harus lebih terlibat dalam kehidupan anak-anak mereka, memastikan mereka tumbuh dengan nilai-nilai yang baik. Orang tua perlu aktif berkomunikasi dan memberikan contoh yang baik, sehingga nilai-nilai seperti sopan santun, hormat terhadap orang tua dan guru, serta empati bisa tertanam sejak dini.

2. Peran sekolah dan guru

Sekolah harus menjadi pendidikan karakter sebagai bagian integral dari kurikulum. Guru harus berperan tidak hanya sebagai pengajar mata pelajaran, tetapi juga sebagai pembimbing moral dan etika. Mereka harus memberikan teladan yang baik dan membimbing siswa dalam membangun karakter yang kuat.

3. Pengawasan dan edukasi tentang media sosial

Penggunaan media sosial oleh remaja perlu diawasi dengan ketat. Orang tua dan sekolah perlu memberikan edukasi tentang penggunaan media sosial yang bijak serta dampak negatif dari konten-konten yang tidak pantas.

4. Penguatan sanksi sosial

Masyarakat harus lebih tegas dalam memberikan sanksi sosial terhadap perilaku menyimpang. Hal ini akan menumbuhkan kesadaran pada remaja bahwa setiap tindakan memiliki konsekuensi, dan mereka harus bertanggung jawab atas perbuatannya.

Mengatasi masalah ini memerlukan kerjasama antar orang tua, sekolah, dan masyarakat. Kita harus bersama-sama menciptakan lingkungan yang mendukung perkembangan akhlak remaja yang baik. Dengan adanya peristiwa lima siswi SMP ataupun remaja SMP yang terlibat tawuran tersebut, seharusnya menjadi peringatan bagi kita semua. Kita tidak bisa hanya menyalahkan anak-anak atas perilaku mereka tanpa melihat peran kita sebagai pendidik dan pembimbing mereka.

Dengan adanya langkah-langkah di atas, diharapkan kita bisa mengembalikan nilai-nilai moral dan etika remaja Indonesia, sehingga mereka bisa tumbuh menjadi generasi yang berakhlak mulia, memiliki empati, dan mampu memberikan kontribusi positif bagi masyarakat.

Baca juga  Pimpinan MPR Sebut Orang Muda Harus Perbaiki Citra Lembaga Legislatif dari Dalam
- Advertisement -

Artikel Lainnya

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisement -spot_img

Berita Terbaru