UYGHUR : AKAR KONFLIK DAN KEKERASAN ETNIS MUSLIM DI BAWAH POLITIK SINICIZATION

oleh -103 views

(Bagian II – Akhir)

OLEH: KUSNAN SAYUTI*

Dinasti Tang (618-906 M)
Islam Pada Zaman Dinasti Tang, di terima dengan baik bahkan pada dinasti inilah Islam diminta bantuan untuk membantu menghadapi pemberontakan An Xi. Pada waktu itu Khalifah Ja’far al Man-sur dari Dinasti Abbasiyah mengirimkan utusan dan empat ribupasukannya guna membantu Dinasti Tang memadamkan api pemberontakan. Mengapa Dinasti Tang merasa perlu meminta bantuan kepada kekalifahan Abbasiyah??, karena pada awal kehadirannya di masa-masa permulaan Dinasti Tang, hubungan antara Islam dan pemerintahan pada waktu itu tidak begitu harmonis, banyak kelompok masyarakat yangmengadu domba antara muslim dengan pemerintahan dinasti, menuduh kelompok islam
akan mengganti pemerintahan kekaisaran yang sah dengan sistem pemerintahan kilafah,dsb. Kelompok-kelompok ini juga mengorganisir masyarakat untuk mencemooh dan memusuhi Islam.

Kemudian pada tahun 755 M, lebih dari satu abad Islam masuk keChinatimbulpemberontakan yang justru bukan di lakukan oleh kaum muslimin, yaitu yang di lakukan oleh kelompok An Xi. Meski berhasil di redam oleh karena bantuan dari kalifah Abbasiyah,namun pemberontakan ini menjadi bibit permusuhan yang mendalam dengan kaummuslimin di China selama ber abad-abad kemudian.

Dinasti Song (960-1268 M)
Hubungan baik antara Muslim dengan pemerintahan di China tetap terjalin harmonis pada masa pemerintahan Dinasti Song. Dinasti ini juga yang tercatat mengundang sekitar 5.300 pekerja pria dari Bukhara untuk tinggal di China dan mengerjakan sebuah proyek pemerintah pada waktu itu. Untuk selanjutnya mereka banyak menetap di daerah Kaifeng dan Yenching (Beijing). Delegasi pekerja ini di pimpin oleh pangeran Amir Said yang di China lebih di kenal dengan nama So-Fei Er dengan gelar “Bapak komunitas Muslim China”.

Dinasti Yuan (1279-1368 M)
Dinasti Yuan adalah Dinasti yang di perintah oleh suku Mongolia dengan Kubilai Khan sebagai salah satu kaisar Masyhur yang memerintah pada dinasti ini. Pada era ini Islam benar-benar mendapatkan panggung di China, baik di sektor perdagangan maupun di sektor pemerintahan. Banyak Muslim yang menjadi Cendikiawan, pejabat pemerintah setingkat gubernur, Ilmuwan , Polisi serta sektor pekerjaan lainnya.

Ada gelombang hijrah besar-besaran Ummat Islam dari daderah asalnya di Timur tengah dikarenakan politik menebus kesalahan pendahulu mereka dari suku Mongolia yang di pimpin oleh Jenghis Khan ketika menyerbu dan banyak membuat kehancuran di wilayah muslim di Asia barat sekitar tahun 1253 M.

Dinasti Ming (1368-1644 M)
Pada zaman dinasti ini pun Islam masih berada pada masa kejayaannya di China, bahkan pemerintahan di bawah kekaisaran Ming menjalin hubungan diplomatik dengan banyak pemerintahan muslim di banyak wilayah, terutama hubungan diplomatik dengan jazirah Arab bahkan sampai kepada kerajaan Islam di Nusantara. Pada masa ini kita mengenal dari sejarah seorang utusan pemerintah, diplomat muslim ulung yang bernama Laksamana Cengho atau Zheng He.

Dinasti ini berakhir dengan pemberontakan yang melibatkan Bangsa Manchuria, yakni suku bangsa yang berbatasan dengan wilayah korea. Suku bangsa Manchuria mendapat sokongan penuh dari kekaisaran jepang dan mampu menggulingkan Dinasti Ming dan kemudian mendirikan Dinasti baru yang di beri nama Dinasti Qing.

Lalu dimana peran Ummat Islam pada akhir masa pemerintahan dinasti Ming?, ternyata Zaman Dinasti Ming sudah mulai muncul sinisme terhadap Islam, dinasti ini ingin mengembalikan kedudukan suku Han sebagai pemilik sah negeri China. Tidak bisa di pungkiri bahwa kekaisaran mongol sebelumnya yakni dinasti Yuan membuat etnis Han menjadi tidak dominan di karenakan kebijakan mongol memberi peluang miggrasi seluas-luasnya dari negeri lain, khususnya negeri Islam. Dikarenakan jumlah suku mongol yang minoritas, mereka khawatir akan terjadi kudeta yang dilakukan Suku Han terhadap kekuasaannya.

Kebijakan sinisme ini antara lain: Larangan berbusana asing, Larangan memakai nama asing, Larangan berbahasa asing dan larangan perkawinan sesama etnis.