Oleh: Muhammad Khairin*
Oerban.com — Kita semua ingin mencapai Indonesia Emas 2045 sebuah cita-cita besar yang hanya bisa dicapai dengan fondasi pendidikan yang kokoh. Namun, membangun pendidikan berkualitas bukan tugas satu pihak saja. Di sinilah makna “partisipasi semesta” menemukan relevansinya.
Pendidikan yang adil dan merata hanya bisa terwujud jika seluruh elemen bangsa pemerintah, guru, siswa, keluarga, hingga masyarakat bergerak bersama, saling memperkuat, dan berkolaborasi dalam semangat gotong royong.
Pemerintah tentu memiliki tanggung jawab utama dalam merancang kebijakan, mengalokasikan anggaran, dan membangun infrastruktur pendidikan.
Tetapi peran itu tidak akan cukup tanpa keterlibatan aktif dari pendidik yang menjadi ujung tombak di lapangan. Guru bukan hanya pengajar, mereka adalah penggerak peradaban. Maka, peningkatan kapasitas dan kesejahteraan guru harus menjadi prioritas nasional.
Di sisi lain, peserta didik bukan sekadar objek pembelajaran. Mereka adalah aktor utama yang perlu dilibatkan dalam proses pendidikan secara aktif.
Sistem pendidikan kita perlu memberi ruang bagi siswa untuk berpendapat, berekspresi, dan menemukan potensi dirinya. Pendidikan bukan pabrik seragam, melainkan taman yang memekarkan keberagaman talenta.
Keluarga, sebagai madrasah pertama dan utama, juga memiliki peran vital. Pendidikan anak tidak bisa diserahkan sepenuhnya kepada sekolah.
Keteladanan, dorongan moral, dan dukungan emosional dari orang tua adalah faktor penentu tumbuhnya karakter dan semangat belajar anak-anak. Kolaborasi antara rumah dan sekolah harus menjadi budaya, bukan hanya formalitas.
Masyarakat luas juga tidak boleh berpangku tangan. Dunia usaha, komunitas lokal, tokoh agama, hingga media massa punya kontribusi besar dalam menciptakan ekosistem pendidikan yang sehat.
Program magang, beasiswa, literasi digital, hingga kampanye anti-bullying bisa digagas dan dijalankan oleh berbagai pihak di luar institusi pendidikan formal.
Semangat partisipasi semesta bukan hanya soal siapa berbuat apa, tetapi soal bagaimana kita semua merasa memiliki tanggung jawab yang sama.
Pendidikan bukan hanya urusan guru dan murid di ruang kelas; pendidikan adalah denyut kehidupan yang harus dikuatkan bersama, dari desa hingga kota, dari pelosok hingga pusat. Hardiknas 2025 menjadi panggung yang tepat untuk memperkuat semangat ini.
Membangun Masa Depan yang Lebih Baik
Kebijakan pendidikan yang baik adalah yang mampu menjawab tantangan zaman. Di era digital saat ini, teknologi informasi dan komunikasi berkembang dengan pesat.
Oleh karena itu, kurikulum pendidikan perlu disesuaikan agar siswa tidak hanya mendapatkan pengetahuan dasar, tetapi juga keterampilan yang relevan dengan kebutuhan pasar kerja.
Misalnya, pengenalan pemrograman komputer dan keterampilan digital lainnya sejak dini dapat mempersiapkan siswa untuk menghadapi dunia kerja yang semakin kompetitif.
Selain itu, aksesibilitas pendidikan juga menjadi fokus utama dalam kebijakan pendidikan. Setiap anak, tanpa memandang latar belakang ekonomi, sosial, atau geografis, berhak mendapatkan pendidikan yang layak.
Pemerintah perlu memastikan bahwa sekolah-sekolah di daerah terpencil mendapatkan dukungan yang cukup, baik dari segi fasilitas maupun tenaga pengajar. Dengan demikian, kesenjangan pendidikan antara daerah perkotaan dan pedesaan dapat diminimalisasi.
Selanjutnya, pentingnya pelatihan dan pengembangan bagi para pendidik tidak bisa diabaikan. Guru adalah ujung tombak dalam proses pendidikan.
Kebijakan yang mendukung peningkatan kualitas guru seperti pelatihan berkelanjutan dan insentif bagi guru yang berprestasi akan berdampak positif pada kualitas pengajaran.
Ketika guru memiliki pengetahuan dan keterampilan yang memadai, mereka akan lebih mampu menginspirasi dan mendidik siswa dengan baik.
Salah satu elemen sistem pendidikan yang mempunyai arti penting adalah guru. Ada yang berpendapat bahwa gurulah yang mendorong pembelajaran, terutama jika pembelajaran dilakukan di ruang kelas (Hoesny & Darmayanti, 2021).
Terakhir, partisipasi masyarakat dalam kebijakan pendidikan juga sangat penting. Orang tua, komunitas, dan sektor swasta harus dilibatkan dalam proses pengambilan keputusan terkait pendidikan. Dengan melibatkan berbagai pihak, kebijakan yang dihasilkan akan lebih komprehensif dan sesuai dengan kebutuhan masyarakat.
Secara keseluruhan, kebijakan pendidikan yang efektif adalah kunci untuk membangun masa depan yang lebih baik. Dengan menyesuaikan kurikulum, meningkatkan aksesibilitas, mendukung pengembangan guru, dan melibatkan masyarakat, kita dapat menciptakan sistem pendidikan yang tidak hanya berkualitas, tetapi juga inklusif.
Mari kita bersama-sama mendukung kebijakan pendidikan yang berpihak pada semua anak, agar mereka dapat tumbuh dan berkembang menjadi generasi yang siap menghadapi tantangan di masa depan.
*Penulis merupakan Mahasiswa Manajemen Pendidikan Islam, UIN Sultan Thaha Saifuddin Jambi

