Oleh: Ir. H. Syahrasaddin, M.Si.*
Oerban.com — Kawasan Komplek Candi Muaro Jambi yang terletak di Kabupaten Muaro Jambi, Provinsi Jambi, memiliki potensi luar biasa sebagai destinasi wisata sejarah dan budaya berskala internasional. Ketua Tim Tenaga Ahli Gubernur Jambi, Ir. H. Syahrasaddin, M.Si, menyampaikan bahwa pengembangan kepariwisataan di kawasan ini dapat menjadi sumber pertumbuhan ekonomi baru yang berkelanjutan bagi daerah.
Dalam paparannya, Syahrasaddin menekankan bahwa Komplek Candi Muaro Jambi merupakan salah satu situs arkeologi terbesar di Asia Tenggara, dengan luas mencapai ±3.981 hektar.
Situs ini merupakan peninggalan penting dari peradaban Melayu Kuno dan diperkirakan pernah menjadi pusat pendidikan agama Buddha terbesar di Asia Tenggara pada abad ke-7 hingga ke-13 Masehi.
“Candi Muaro Jambi menyimpan kekayaan sejarah, budaya, dan nilai spiritual yang luar biasa. Namun, potensi ini belum sepenuhnya dikembangkan sebagai magnet wisata unggulan yang mampu mendongkrak ekonomi lokal,” ujar Syahrasaddin.
Potensi dan Tantangan Pengembangan Wisata
Komplek Candi Muaro Jambi memiliki sejumlah keunggulan daya tarik wisata, antara lain:
1. Nilai sejarah dan budaya tinggi, menjadi saksi peradaban Sriwijaya dan Melayu Kuno.
2. Lingkungan alam yang mendukung, dengan ekosistem hutan rawa dan aliran sungai.
3. Aksesibilitas yang mudah, hanya 30 menit dari Kota Jambi dan Bandara Sultan Thaha.
4. Potensi wisata edukasi, sebagai laboratorium terbuka untuk pelajar dan peneliti.
Meski demikian sejumlah tantangan masih harus diatasi, seperti keterbatasan infrastruktur penunjang wisata, kurangnya fasilitas umum, rendahnya kesadaran masyarakat akan pelestarian situs, dan minimnya SDM pariwisata yang terlatih.
Strategi Pengembangan dan Kolaborasi
Pengembangan kawasan diarahkan pada pelestarian cagar budaya, penataan zonasi wisata agar tidak merusak situs, pengendalian pembangunan liar, serta restorasi struktur candi yang sesuai dengan standar arkeologi.
Tak kalah penting, strategi pemberdayaan masyarakat lokal juga menjadi fokus, melalui pelatihan pemandu wisata, pembinaan usaha mikro (kuliner, kerajinan, homestay), serta pengembangan paket wisata berbasis budaya dan kearifan lokal.
“Kolaborasi multipihak sangat dibutuhkan. Pemerintah, BUMN, swasta, perguruan tinggi, dan komunitas budaya harus bersinergi dalam mem-branding Candi Muaro Jambi sebagai The Heritage of Melayu,” tegasnya.
Promosi terpadu melalui media digital, kemitraan dengan agen perjalanan, komunitas sejarah, serta keterlibatan influencer wisata juga menjadi kunci memperluas jangkauan pasar nasional maupun internasional.
Penutup
Pengembangan kepariwisataan Komplek Candi Muaro Jambi diyakini menjadi langkah strategis dalam memperkuat identitas budaya, memperluas lapangan kerja, dan mendorong pertumbuhan ekonomi Provinsi Jambi.
Dengan penguatan infrastruktur, pelestarian berkelanjutan, pemberdayaan masyarakat, dan promosi efektif, kawasan ini berpeluang besar menjadi destinasi wisata unggulan yang berdaya saing tinggi di tingkat regional dan global.
*Penulis merupakan Ketua Tim Tenaga Ahli Gubernur Jambi

