email : oerban.com@gmail.com

26.1 C
Jambi City
Jumat, Juli 1, 2022
- Advertisement -

Babi-Ambo dan Batas Kesabaran Masyarakat Minang

Populer

renilda pratiwi yolandinihttps://www.oerban.com
Renilda Pratiwi Yolandini merupakan FinMartEd (Finansial, Marketing, dan Editor) di Oerbanesia. sedang menempuh pendidikan di FKIP UNJA (S1) dan mulai tergabung di Oerbanesia pada tahun 2018.

Oleh : Hendri Yandri*

Polemik rumah makan Babiambo yang menyediakan rendang babi telah membuat masyarakat khususnya Sumatera Barat gelisah. Kegelisahan itu akibat saling berkaitnya antara nama “BabiAmbo”, rendang dan masakan Padang. Rendang telah dinobatkan sebagai masakan terlezat nomor wahid didunia, sedang masakan Padang atau restoran Padang identik dengan masakan halal, dimana kehalalannya tidak perlu diragukan, sementara Babiambo jamak diartikan sebagai babi saya yang menegaskan masakan rendang itu berbahan babi yang jelas haram menurut masyarakat Minang. Meski pemilik restoran katanya sudah minta maaf dan dengan alasan tidak ada niat untuk mengusik entitas masyarakat tertentu, polemik ini tentu saja tidak hilang begitu, karena masalahnya tidak pada penamaan restoran ataupun makanan saja tapi juga pada substansi masalahnya, yakni tentang kehalalan hidangan di restoran Padang.

Masakan Padang, Restoran Padang dan Rendang identik dengan citra halal. Semua rumah makan yang dibangun oleh masyarakat Minang selalu menjaga nilai-nilai kehalalan, termasuk proses memasaknya. Citra halal lahir dari keyakinan masyarakat Minang sejak dulu kala, hal ini dapat terlihat pada tambo adat, “Adat Basandi Syara’, Syara’ Basandi Kitabullah. “Syara’ Mangato, Adat Mamakai”. (Adat Berdasarkan Syari’at, Syari’at Berdasarkan Kitabullah. Syari’at Mengatakan, Adat Melaksanakan). Sebagai entitas masyarakat yang identik dengan Islam, masyarakat Minang selalu melaksanakan sesuatu berdasarkan nilai-nilai yang ada dalam agama Islam. Termasuk bagaimana mengelola masakan untuk dihidangkan, baik untuk konsumsi rumah tangga atau juga untuk dijual pada masyarakat luas.

Baca juga  DUA WARGA INDONESIA YANG TERTEMBAK DI NEW ZEALAND BERASAL DARI PADANG

Cita rasa masakan yang dibuat oleh masyarakat Minang tentu berdasarkan sumber utama bahan-bahan alami yang ada disekitar tempat tinggal. Sebagai wilayah yang kaya sumber bahan rempah, semua olahan makanannya dibuat menggunakan bahan-bahan tersebut. Sehingga cita rasa yang timbul lebih enak, segar dan gurih. Tidak itu saja, sistem kekerabatan dan adat yang ada membuat hampir semua orang Minang pandai memasak, setidaknya untuk keluarga. Sistem kekerabatan dan adat istiadat yang ada mendorong setiap suku mempunyai juru masak yang handal, terutama pada pesta-pesta keluarga dan adat, biasanya ketika memasak makanan untuk para tamu, suku-suku tersebut bergotong royong dan pasti banyak orang yang terlibat, oleh karena itu diperlukan satu orang juru masak yang menjadi parcik bumbu dan mengatur tugas setiap orang yang akan ikut membantu masak. Kepiawaian juru masak dan mahir mengolah bumbu ini terjadi turun temurun, sehingga selalu ada yang menjaga keaslian bumbu masakan.

Baca juga  Sumatera Barat Turut Serta Mensukseskan Kegiatan Pelatihan Sejuta Petani dan Penyuluh oleh Kementerian Pertanian

Ritual juru masak sebelum melaksanakan tugas sebagai kepala koki adalah bersuci terlebih dulu sebab dianggap sebagai satu bagian ibadah. Ritual ini jelas prilaku masyarakat yang sudah melekat nilai Islam pada dirinya. Tujuannya tidak lain menambah ibadah kepada Tuhan, sekaligus sebagai bentuk rasa tanggung jawab seorang juru masak guna menyiapkan masakan pada tamu-tamu hal itu karena mulianya tugas seorang juru masak. Itulah kenapa para tamu tidak akan khawatir ketika mencicipi hidangan yang disodorkan, sebab mereka juga melakukan hal yang sama ketika pesta adat dilakukan ditempat mereka. Budaya ini jelas bagian dari kepercayaan masyarakat Minangkabau terhadap agama yang diyakini sehingga untuk hal-hal yang “kecil” saja begitu ritualnya apalagi untuk masalah yang lebih besar dari itu. Kebiasaan ini dilakukan tidak hanya dikampung halaman namun juga ketika hidup dirantau.

Baca juga  GAUNGKAN NILAI NILAI PERJUANGAN TOKOH MINANG MASA LAMPAU, IKMM ADAKAN MAKRAB

Kultur masyarakat perantau membuat setiap orang di Minangkabau membutuhkan persiapan yang matang, termasuk soal makanan. Masakan rendang adalah bukti otentik terkait persiapan tersebut, sebab rendang bisa tahan bahkan lebih satu tahun. Semakin jauh merantau, tentu saja rendang yang dimasak memerlukan kelengkapan yang banyak. Mulai dari daging yang dijadikan rendang, kelapa yang tua, semakin tua kelapanya semakin baik untuk membuat rendang, bumbu-bumbu langkoknya, bahkan tungku dan kayu. Rantau yang jauh, belum tentu bisa pulang, tak ada sanak saudara, membuat seorang atau komonitas yang akan berangkat merantau memerlukan bekal. Rendang sebagai bekal jelas diperlukan agar persediaan makanan cadangan selalu ada.

Masyarakat yang menjaga adat dan tradisi menjadikan entitas Minangkabau mudah diterima dimana saja. Dimana bumi dipijak, disana langit dijunjung adalah falsafah masyarakat Minang ketika merantau. Sehingga ketika satu wilayah yang ditempati sudah ada penduduknya, maka tentu masyarakat Minang akan berakulturasi sembari memperkenalkan karakter masyarakat Minang kepada penduduk setempat. Lain halnya jika membuka daerah baru, dimana belum ada satupun penduduk diwilayah tersebut, maka jelas adat dan tradisi yang dipakai adalah adat dan tradisi induk di kampung. Rantau yang jauh dari kampung halaman pasti penuh dengan ujian, akan tetapi adat nan kawi syara’ nan lazim terpatri dalam diri perantau Minang kemanapun mereka pergi sehingga membuatnya kuat menghadapi setiap ujian.

Baca juga  KELALAIAN DIWAKTU ISYA

Kini masyarakat Minang kembali diuji dengan polemik rendang dan restoran “BabiAmbo”. Bisa jadi hanya kekeliruan saja, akan tetapi pihak yang berwajib mesti mendalami masalah ini. Sebab kegelisahan dan keresahan satu entitas masyarakat bisa memicu kepada hal-hal yang merusak kerukunan antar umat dan bangsa. Kedewasaan masyarakat Minang sudah lama teruji dan tidak perlu ditanya, ibarat kelapa semakin tua semakin berminyak tentu polemik ini disikapi arif oleh masyarakat Minangkabau. Namun tindakan pencegahan perlu diambil agar tidak ada lagi yang berusaha memancing emosional satu entitas masyarakat tertentu di republik ini.

Baca juga  Bagaimana Cara Menerbitkan Tulisan di Oerban.com

Siapapun perlu menjaga suasana kondusif dan berpikir panjang agar segala tindak perbuatannya tidak menyinggung komunitas masyarakat tertentu, karena sabar jelas punya batas. Semoga Indonesia baik-baik saja!

 

*Penulis CEO Oerbanesia Cyber Media

- Advertisement -
- Advertisement -

Artikel Lainnya

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -

Berita Terbaru